Magepanda Dilanda Kekeringan, Puluhan Hektare Padi Gagal Panen

    0
    669
    Magepanda Dilanda Kekeringan, Puluhan Hektare Padi Gagal Panen
    Kondisi tanaman padi di Desa Reroroja Kecamatan Magepanda, Rabu (5/9);
    Maumere-SuaraSikka.com: Kecamatan Magepanda merupakan salah satu daerah subur yang terkenal sebagai lumbung penghasil padi bagi Kabupaten Sikka. Ironinya, belakangan ini justeru kecamatan itu dilanda kekeringan. Diprediksikan, puluhan hektare padi bakal gagal panen.
                Sejumlah petani mengakui kekeringan melanda Magepanda sejak satu bulan terakhir, terutama di Desa Reroroja. Kondisi ini mengakibatkan Sungai Kolisoro menjadi kering. Padahal Sungai Kolisoro merupakan satu-satunya sumber irigasi  yang mengalirkan air ke sawah-sawah petani. Keringnya air di Sungai Kolisoro berakibat kepada keringnya juga cekdam sebagai penampung air.
    Sedikitnya kurang lebih 70 hektare sawah di Reroroja yang kini sedang ditanami padi. Tampak sekali padi-padi kini tumbuh di atas tanah yang kering. Kekeringan telah membuat daun-daun padi mulai menguning. Dan hampir bisa dipastikan padi-padi sudah tidak mungkin berbulir lagi. Besar kemungkinan puluhan hektare padi ini tidak bisa dipanen.
    “Tahun ini kami gagal panen. Dan itu artinya bisa saja berdampak kepada rawan pangan. Semoga pemerintah cepat tanggap dengan kondisi ini,” ungkap Donatus, salah seorang petani, Rabu (5/9).
    Kondisi ini membuat puluhan petani di Reroroja menjadi resah. Harapan mereka satu-satunya yakni meminta intervensi dari pemerintah daerah setempat. Para petani sangat berharap pemerintah merenovasi cekdam yang selama ini menjadi sumber air utama. Mereka meminta pemerintah membuat embung, sebagai langkah antisipasi menampung air hujan.
                Menurut cerita Donatus, biasanya dalam setahun mereka menanam lebih dari dua kali. Namun kali ini terpaksa hanya menanam sekali saja akibat areal persawahan yang tidak lagi dialiri air. Praktis, sawah-sawah ditelantarkan begitu saja, dibiarkan tidak digarap, sambil menunggu musim hujan tiba.
                Donatus mengaku pasrah dengan kondisi ini. Beberapa petani di Reroroja malah mulai beralih dari sebelumnya menanam padi, kini menanam palawija. Itu pun mereka harus menyiapkan fasilitas pendukung seperti mesin pompa air untuk menyedot air dari sumur galian. Petani yang tidak memiliki mesin pompa air terpaksa harus menyewa.*** (eny)

    TINGGALKAN BALASAN

    Silahkan ketik komentar anda
    Silahkan ketik nama anda di sini