Ribut di Lokasi Eksekusi, Keluarga Tergugat Bawa Bendera Merah Putih

0
594
Ribut di Lokasi Eksekusi, Keluarga Tergugat Bawa Bendera Merah Putih
Keluarga tergugat sambil membawa bendera merah putih berupaya menghalangi proses eksekusi pengosongan tanah di Dusun Waiara Desa Waiara Kecamatan Kewapante, Kamis (1/11)
Maumere-SuaraSikka.com: Pengadilan Negeri Maumere, Kamis (1/11), mengeksekusi pengosongan tanah dan bangunan di Dusun Waiara RT/RW 004/003 Desa Waiara Kecamatan Kewapante. Keluarga tergugat menghalang-halangi proses eksekusi, bahkan mereka sempat membawa bendera merah putih. Eksekusi itu sendiri akhirnya berlangsung aman.
Panitera Pengadilan Muhamad Rusdin bersama kurang lebih 90 personil aparat keamanan Polres Sikka, Brimob Maumere, dan Polsek Kewapante tiba di lokasi sengketa sekitar pukul 10.15 Wita. Tampak hadir juga Kapolres Sikka AKBP Rickson PM Situmorang, Ketua PN Maumere Rahmat Sanjaya, Camat Kewapante Agustinus Akar, dan Kepala Desa Waiara Paulus Plapeng.
Muhamad Rusdin membacakan surat penetapan eksekusi Nomor 2/Pen.Pdt/2018 yang diterbitkan pada 26 Oktober 2018. Dalam surat penetapan itu Ketua PN Maumere Rahmat Sanjaya memerintahkan untuk melakukan eksekusi pengosongan atas tanah pekarangan yang sementara dikuasai Florianus Nong Sina selaku tergugat.
Keluarga tergugat sekitar belasan orang pun mulai bereaksi. Mengenakan ikat kepala berwarna merah, mereka melakukan protes atas rencana eksekusi. Mereka berkerumun di depan pintu masuk untuk menghalangi-halangi proses eksekusi. Sambil itu mereka juga berteriak-teriak menantang aparat keamanan.
Tiba-tiba sebuah bendera merah putih dikeluarkan dari dalam rumah. Salah seorang keluarga berteriak akan mempertahankan tanah dan bangunan seperti mempertahankan merah putih sebagai lambang negara. Pihak kepolisian pun bergegas mengamankan bendera merah putih dan menyimpannya secara baik.
Protes keluarga tergugat akhirnya mulai mereda kurang lebih sejam setelah panitera dan pihak keamanan terus melakukan pendekatan. Muhamad Rusdin selaku panitia kemudian memerintahkan semua yang tidak berkepentingan untuk segera mengosongkan tempat tersebut. Tergugat beserta keluarga pun mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam rumah. Rencananya mereka akan dievakuasi sementara di Kantor Desa.
Perkara perdata ini antara penggugat Vinsensius Lerang, warga di Desa Waiara juga, berhadapan dengan Florianus Nong Sina. Penggugat menang di tingkat  PN Maumere dan Pengadilan Tinggi Kupang. Sementara itu tergugat tidak mengajukan lagi upaya kasasi. Penggugat kemudian mengajukan permohonan untuk eksekusi.
“Perkara ini sudah inkrah, sudah berkekuatan hukum. Termohon eksekusi Florianus Nong Sina tidak menyatakan upaya hukum lagi melalui kasasi. Selanjutnya pemohon Vinsensius Lerang mengajuan eksekusi, makanya hari ini kami sudah melaksanakan eksekusi pengosongan. Dan berarti hak sepenuhnya adalah milik Vinsensius Lerang,” jelas Muhamad Rusdin.
Tanah dan bangunan yang menjadi objek eksekusi, letaknya persis di samping Jalan Trans Flores Maumere-Laranbtuka KM 10. Praktis proses eksekusi ini menarik perhatian para pelintas jalan sehingga sempat membuat kemacetann di ruas jalan itu.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini