Buru-Buru Pulang Sekolah untuk Tambang Pasir, Emanuel Tewas Tertimbun Longsoran Tanah
Dibaca 20 kali
Kondisi Emanuel Jefriano Armando, korban tewas akibat longsoran tanah di Dusun Watuwolot Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka, Senin (7/1)
Maumere-SuaraSikka.com: Emanuel Jefriano Armando, siswa Kelas 1 SDK Hale, Senin (7/1), buru-buru pulang dari sekolah. Rupanya pagi itu dia hendak menambang pasir di lahan milik Januarius Joni di Dusun Watuwolot Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Ternyata dia tewas tertimbun longsoran tanah.
Seorang teman korban menceritakan, SDK Hale pagi itu ada kerja bakti di sekolah. Emanuel Jefriano Armando pun ikut terlibat. Namun belum selesai kerja bakti, anak berusia 8 tahun ini lalu bergegas tinggalkan sekolah. Seorang guru sempat menegurnya, namun dia menjawab seadanya dan langsung pulang ke rumah.
Tidak berselang lama tersiar kabar Emanuel Jefriano Armando bersama kakak kandungnya Petrus Afriandi, 10 tahun, dan seorang keluarga bernama Silferius Silik, 11 tahun, tewas tertimbun longsoran tanah. Sementara seorang lain, Marselinus Moa alias Doli, 20 tahun, dalam keadaan kritis.
Berita Terkait:
Ketiga anak ini selama satu bulan terakhir sering menambang pasir di lahan milik Januarius Joni. Tidak setiap hari mereka menambang pasir, tetapi tergantung kemauan. Dari hasil menambang pasir, pemilik lahan memberikan imbalan berupa uang.
Pantauan media ini di lokasi kejadian, jasad Emanuel Jefriano Armando dievakuasi paling terakhir. Petugas evakuasi dari Basarnas Maumere, TNI dan Polri, serta Tagana Sikka kesulitan mengevakuasi karena timbunan tanah dan pasir yang terlalu padat dan banyak.
Apalagi tidak jauh dari tempat yang dicurigai korban tertimbun, ada sebongkah batu besar yang ikut longsor dari dataran tebing. Petugas evakuasi kuatir ketika sedang mengeluarkan timbunan pasir, justeru batu itu bisa menggelinding dan menutupi jalur evakuasi.
Petugas evakuasi lalu mencari jalan untuk memindahkan batu besar tersebut. Mereka melilitkan tali tambang ke badan batu, kemudian dibantu warga masyarakat setempat menarik batu tersebut. Upaya ini berkali-kali dilakukan namun gagal, karena beban batu yang sangat berat.
Sambil melakukan upaya ini, seorang anggota Tagana Sikka terus menggali timbunan pasir di tempat yang dicurigai korban tertimbun. Akhirnya dia berhasil mengidentifikasi kepala korban. Petugas evakuasi pun mulai pelan-pelan menyingkirkan timbunan pasir di sekitar korban, hingga berhasil mengeluarkan tubuh korban. Di tempat itu ditemukan juga sebatang linggis kecil, yang diduga digunakan korban saat menambang pasir.
Setelah dikeluarkan dari timbunan pasir, tubuh Emanuel Jefriano Armando dimasukkan dalam kantong mayat, dan dibawa ke halaman rumah pemilik lahan. Petugas evakuasi meminta keluarga untuk memastikan identitas korban. Setelah dipastikan, korban langsung dimandikan saat itu juga oleh seorang perawat, lalu dibaringkan bersama dua korban lain.*** (eny)