Demam Berdarah Renggut Nyawa 2 Anak

0
101
Demam Berdarah Renggut Nyawa 2 Anak
Mario Nara, dokter spesialis anak di RSUD TC Hillers Maumere sedang memeriksa seorang anak yang terkena kasus demam berdarah dengue
Maumere-SuaraSikka.com: Serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sikka semakin menguatirkan. Dua orang anak pun sudah jadi korban tewas pada Jumat (15/2) dan Sabtu (18/2). Satunya anak usia 11 tahun dari Kecamatan Paga, dan satunya usia 8 bulan dari Kecamatan Alok.
Dua bulan pertama di tahun 2019 ini, penderita DBD terus meningkat. Pada bulan Januari terdata 65 kasus, dan untuk Februari sampai dengan Senin (18/2) tercacat 37 kasus. Sampai sekrang masih ada 22 anak yang dirawat di RSUD TC Hillers maumere.
Jika dibandingkan dengan tahun 2018, terdapat peningkatan yang drastis. Januari 2018 tercatat 57 kasus, dan Februari 2018 dengan 34 kasus. Jumlah yang meninggal sama yakni 2 orang. Kondisi ini kian memprihatinkan sekali.
Sudah ada 102 kasus dengan 2 anak yang meninggal, namun pemerintah daerah belum menetapkan DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB). Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo atau Robby Idong masih sulit dihubungi karena sedang bertugas ke luar daerah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Neni beralasan penetapan KLB jika peningkatan kasus dua kali lipat di bulan yang sama dibandingkan tahun sebelumnya.
Maria Bernadina Sada Nenu meminta masyarakat untuk terus mewaspadai DBD. Dia mendorong warga masyarakat untuk terus-menerus melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan pola 4M plus yakni menutup, mengubur, menguras, dan memantau.
Kepada media ini Maria Bernadina Sada Nenu menjelaskan 1 ekor nyamuk aedes bisa menghasilkan 100-300 telur. Telur nyamuk aedes bisa bertahan hidup selama 6 bulan sampai 1 tahun. Nyamuk aedes yang mengandung virus dengue akan menghasilkan telur yang juga positif mengandung virus dengue.
“Jadi bayangkan, 10 nyamuk aedes positif dengue itu bisa menghasilkan paling kurang 1.000 telur positif dengue. Fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa. Lalu bagaimana dengan 1.000 telur yang akan menetas menjadi nyamuk? Siapa yang bertanggungjawab membasmi mereka? Nah, itu tugas kita semua,” ujar Maria Bernadina Sada Nenu.
Prhatian dengan kondisi DBD yang terus menghantui masyarakat Kabupaten Sikka, Asep Purnama, spesialis penyakit dalam melakukan sosialisasi kepada komunitas Biara Kamelian di Nita, Minggu (17/2). Dia beralasan DBD harus dicegah dari segala penjuru, termasuk melibatkan para rohaniwan. Apalagi Kamelian adalah salah satu ordo yang misinya melindungi orang sakit. Para frater Camelian akan melanjutkan penyebaran informasi tentang pengetahuan akan pencegahan dan pengendalian DBD kepada umat.
Dia mengingatkan masyarakat untuk fokus melakukan pemberantasan jentik nyamuk. Jika jentik-jentik nyamuk sudah dimusnahkan maka nyamuk dewasa pun ikut musnah. Asep Purnama menegaskan DBD tidak bisa dibereskan tanpa keikutsertaan masyarakat dalam bentuk pengawasan jentik. Progrm ayang lagi trend untuk pemberantasan DBD yakni 1 rumah 1 jumantik (juru pemantau jentik).
“Tampa kerja sama pemerintah dan keterlibatan aktif masyarakat, DBD tidka bisa diatasi. Dengan jumlah karyawan kesehatan yang ada, tidak mungmin pemerintah memantau jentik di setiap rumah. Karena itu pastikan program 1 rumah 1 jumantik. Kita harus serbu dan bunuh jentik-jentik nyamuk,” ajak dia.
Dia mengatakan manusia sering berkhianat dan membela nyamuk. Hal itu dilakukan dengan cara menyiapkan tempat berkembang biak nyamuk misalnya membuang sembarangan gelas plastik air mineral. Ketika hujan, air tergenang di gelas platik tesebut, dan nyamuk meletakkan telurnya dan terus berbiak.
Selain itu membiarkan genangan air lainnya di tempat minum burung piaraan, talang air yang tidak dibersihkan, air tetesan di dispencer, pot bunga, dan lain-lain. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini harus segera ditinggalkan, untuk menghindari tumbuh kembangnya jentik nyamuk.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini