Arswendo Atmowiloto, Wartawan Hebat Itu, Tutup Usia

0
135
Arswendo Atmowiloto, Wartawan Hebat Itu, Tutup Usia
Arswendo Atmowiloto
Jakarta-SuaraSikka.com: Arswendo Atmowiloto, dikenal sebagai penulis di beberapa surat kabar, cerpen, novel hingga naskah film. Wartawan yang hebat dan terkenal ceplas-ceplos itu, akhirnya tutup usia. Dia meninggal dunia di kediamannya di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (19/7) sekitar pukul 17.30 WIB, dalam usia 71 tahun.
Penulis novel Keluarga Cemara itu diketahui mengidap kanker prostat selama 1 tahun terakhir. Sudah dua kali menjalani operasi. Kondisinya terus menurun hingga tutup mata. Jenazah sastrawan itu dibaringkan di rumah duka di Kompleks Kompas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.
Rencananya, misa requiem pelepasan jenazah akan dilaksanakan di Gereja Santo Matius Penginjil Paroki Bintaro Pondok Aren pada Sabtu (20/7) pukul 10.00 WIB. Selanjutnya jasad mantan Pemred Tabloid Monitor itu dikebumikan di Sandiego Hills Karawang.
Nama aslinya adalah Sarwendo, dengan nama baptis Paulus. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan terkenal. Lalu di belakang namanya ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Dalam penulisan tidak jarang dia menggunakan nama samaran. Untuk cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di Harian Kompas, dia menggunakan nama Sukmo Sasmito. Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan dia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang dia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D Harahap.
Dia lahir tanggal 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah. Arswendo menganut agama Katolik. Dia menikahi wanita seiman, Agnes Sri Hartini, pada tahun 1971. Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh tiga orang anak, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.
Setelah lulus sekolah menengah atas, Arswendo masuk Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra di IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Aswendo semula bercita-cita menjadi dokter, tetapi tidak tercapai. Dia pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.
Setelah keluar dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, dia bekerja di pabrik bihun dan kemudian pabrik susu. Dia juga pernah bekerja sebagai penjaga sepeda dan sebagai pemungut bola di lapangan tenis.
Arswendo Atmowiloto, Wartawan Hebat Itu, Tutup Usia
Arswendo dalam sebuah kegiatan jurnalistik
Arswendo mulai merintis kariernya sebagai sastrawan sejak tahun 1971. Cerpen pertamanya berjudul Sleko, yang dimuat dalam majalah Mingguan Bahari. Di samping sebagai penulis, dia juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo (1972).
Setelah itu, dia bekerja sebagai konsultan penerbitan Subentra Citra Media (1974-1990), sebagai Pemred Majalah Hai, Pemred/Penangungjawab Tabloid Monitor (1986), dan pengarah redaksi Majalah Senang (1998).
Arswendo adalah pengarang serba bisa yang sebagian besar karyanya berupa novel. Isi ceritanya bernada humoris, fantatis, spekulatif, dan suka bersensasi. Karyanya banyak dimuat di berbagai media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Aktual, dan Horison. Karangannya antara lain diterbitkan Penerbit Gramedia, Pustaka Utama Grafiti, Ikapi, dan PT Temprint. Puluhan karyanya telah dibukukan, sebagian diangkat ke layar televisi dan film.
Ketika menjabat sebagai Pemred Tabloid Monitor, dia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, Monitor memuat hasil jajak pendapat mengenai tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW, yang terpilih menjadi tokoh nomor 11.
Sebagian masyarakat Muslim marah, dan terjadi keresehan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum dan divonis hukuman 5 tahun penjara karena tulisannya dianggap subversi dan melanggar Pasal 156 A KUHP dan Pasal 157 KUHP. Setelah itu, dia menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada masyarakat melalui media TVRI dan beberapa surat kabar ibu kota.
Ketika berada di dalam tahanan, dia menulis cerita bernada absurditas, humoris (anekdot), dan santai. Cerita tersebut bertema kehidupan orang tahanan beserta masyarakat umum di ibu kota yang mengalami keputusasaan dalam menghadapi sesuatu yang sulit.
Arswendo pernah mendapat kecaman dan dianggap sebagai pengkhianat karena pendapatnya yang dianggapnya keliru oleh para pengamat sastra. Aswendo berpendapat bahwa “Sastra Jawa telah mati”. Ia sangat menghargai penulis komik, khususnya komik wayang dan silat yang dianggap banyak berjasa dalam pendidikan anak.
Arswendo mengawali kariernya sebagai wartawan. Dia pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat pada tahun 1979.
Dikenal sebagai novelis, sutradara teater, aktor, dan juga penulis bagi novel Keluarga Cemara, 1 Kakak 7 Ponakan (sinetron), novel Dua Ibu (1981), novel Senopati Pamungkas (1987), dan lain-lain. Banyak sekali tulisan cerita bersambung miliknya yang kemudian sukses diadaptasi ke sinetron dan layar lebar.
Dia juga dikenal sebagai sosok di balik sinetron populer lainnya. Seperti Ali Topan Anak Jalanan (1997-1998), kemudian Deru Debu (1994-1996), 1 Kakak 7 Ponakan (1996), Jalan Makin Membara II dan III (1995-1997), serta Imung (1997).
Pada tahun 1972 dia memenangkan hadiah Zakse atas esainya Buyung Hok dalam Kreativitas Kompromi. Dramanya Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh hadiah harapan dan hadiah perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973.
Pada tahun 1975 dalam sayembara yang sama dia mendapatkan hadiah harapan atas drama Sang Pangeran. Dramanya yang lain, Sang Pemahat, memperoleh hadiah harapan satu Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-Anak DKJ 1976. Selain itu, karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mendoblang (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987. Tahun 1987 Arswendo memperoleh Hadiah Sastra Asean.*** (*/eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini