Jakarta-SuaraSikka.com: Arswendo Atmowiloto, dikenal sebagai penulis di beberapa surat kabar, cerpen, novel hingga naskah film. Wartawan yang hebat dan terkenal ceplas-ceplos itu, akhirnya tutup usia. Dia meninggal dunia di kediamannya di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (19/7) sekitar pukul 17.30 WIB, dalam usia 71 tahun.
Penulis novel Keluarga Cemara itu diketahui mengidap kanker prostat selama 1 tahun terakhir. Sudah dua kali menjalani operasi. Kondisinya terus menurun hingga tutup mata. Jenazah sastrawan itu dibaringkan di rumah duka di Kompleks Kompas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.
Rencananya, misa requiem pelepasan jenazah akan dilaksanakan di Gereja Santo Matius Penginjil Paroki Bintaro Pondok Aren pada Sabtu (20/7) pukul 10.00 WIB. Selanjutnya jasad mantan Pemred Tabloid Monitor itu dikebumikan di Sandiego Hills Karawang.
Nama aslinya adalah Sarwendo, dengan nama baptis Paulus. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan terkenal. Lalu di belakang namanya ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Dalam penulisan tidak jarang dia menggunakan nama samaran. Untuk cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di Harian Kompas, dia menggunakan nama Sukmo Sasmito. Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan dia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang dia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D Harahap.
Dia lahir tanggal 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah. Arswendo menganut agama Katolik. Dia menikahi wanita seiman, Agnes Sri Hartini, pada tahun 1971. Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh tiga orang anak, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.
Setelah lulus sekolah menengah atas, Arswendo masuk Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra di IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Aswendo semula bercita-cita menjadi dokter, tetapi tidak tercapai. Dia pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.
Setelah keluar dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, dia bekerja di pabrik bihun dan kemudian pabrik susu. Dia juga pernah bekerja sebagai penjaga sepeda dan sebagai pemungut bola di lapangan tenis.
















