Target 2022 Sikka Bebas Stunting, Telly Gandut Sebut Cukup Sulit

0
51
Target 2022 Sikka Bebas Stunting, Telly Gandut Sebut Cukup Sulit
Ketua Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Sikka Coltildis Gandut
Maumere-SuaraSikka.com: Masalah stunting kini menjadi isu secara nasional. Di Kabupaten Sikka Propinsi NTT, Bupati setempat Fransiskus Roberto Diogo atau Robby Idong menargetkan 2022 Sikka bebas stunting. Namun Coltildis Gandut, Ketua Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Sikka menyebut sulit mencapai target.
Coltildis Gandut tentu lebih memiliki argumentasi dan pendasaran yang jelas dibandingkan Bupati Sikka. Perempuan berpengalaman itu berbicara berdasarkan basis realitas lapangan, berbeda dengan Bupati Sikka yang melihat dari sisi politis semata.
“Saya tidak bisa memastikan (2022 bebas stunting), tapi cukup sulit. Karena untuk 1000 hari petama, pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping itu kadang sangat terkendala karena perilaku. Mengubah perilaku, inilah yang sulit,” terang Coltildis Gandut kepada sejumlah wartawan di Aula Hotel Go Maumere, Kamis (7/8).
Dia mengatakan upaya menurunkan stunting sangatlah tidak gampang. Pemerintah melakukan dua intervensi yakni spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dengan lebih banyak menjalankan peran pendampingan. Kontribusi dari intervensi ini untuk menurunkan stunting hanya sebesar 30 persen.
Sementara intervensi sensitif memberikan kontribusi terbesar yakni 70 persen. Intervesi dengan pola ini dilakukan antara lain oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang mengurusi air minum bersih dan sanitasi, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, dan institusi terkait lainnya.
“Jadi kalau kita kerja bersama-sama, bisa saja dalam 2-3 tahun stunting menurun. Tapi ini harus kerja bersama semua pihak, kalau tidak ya sulit sekali,” ujar dia.
Coltildis Gandit menambahkan dari data tahun 2018, terdapat 5.601 anak di Kabupaten Sikka yang mengalami stunting. Dari 21 kecamatan, terdapat 9 kecamatan yang mengalami stunting. Terdapat 3 kecamatan yang mendominasi yaitu Tanawawo, Talibura, dan Waiblama. Khusus untuk Talibura, yang terbanyak adalah anak-anak yang berada di wilayah Puskesmas Boganatar.
Masalah air bersih menjadi penyebab utama persoalan stunting di Kabupaten Sikka. Penyebab lainnya adalah pemanfaatan jamban, BAB tidak pada tempatnya, termasuk pola asuh seperti pemberian makan dan perawatan anak.
Sebelumnya, Bupati Sikka Robby Idong menargetkan Sikka bebas stunting untuk 2-3 tahun ke depan, atau selambatnya pada tahun 2022. Dia menyampaikan hal itu ketika memberikan sambutan pada Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) di Aula Hotel Go, Rabu (7/8).
Dia mengatakan pada tahun 2013 angka stunting di Kabupaten Sikka mencapai 41 persen lebih. Dalam waktu 5 tahun atau sampai dengan tahun 2018, tanpa ada sentuhan program, angka stunting menurun hingga 33 persen lebih. Dengan kondisi sekarang ketika stunting sudah menjadi progam secara nasional, dia berharap setiap tahun di Kabupaten Sikka menurun 15 persen.
“Dalam 5 tahun tanpa ada program kita mampu menurunkan sampai 8 persen. Nah saya harapkan setiap tahun bisa turun 15 persen, sehingga 2-3 tahun kita sudah bebas stunting,” ujar dia.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini