Ada yang Positif dari Virus Corona, Apa Itu?

0
133
Ada yang Positif dari Virus Corona, Apa Itu?
Ilustrasi

Virus corona benar-benar menakutkan. Satu jagad dunia ini merasakan ketakutan dari virus yang tidak berbentuk. Termasuk 300 ribu lebih penduduk Kabupaten Sikka Propinsi NTT.

Mulailah digencarkan program-program pencegahan. Pemerintah mengeluarkan berbagai imbauan, dan menetapkan sejumlah kebijakan.

Jaga jarak. Imbauan ini untuk mencegah penularan melalui droplet. Virus corona bisa menunggangi droplet ketika batuk, bicara, atau bersin. Pakai masker menjadi syarat mutlak.

Di mana-mana, di berbagai banyak kesempatan, jaga jarak dan pemakaian masker menjadi kampanye yang rutin. Pada banyak tulisan, opini, postingan, komentar, meme, kerap ditemukan taggar jaga jarak.

Kampanye pencegahan yang lain yakni hindari kerumunan. Sama dengan jaga jarak, imbauan ini juga untuk mencegah penularan yang lebih cepat dan meluas.

Dua imbauan ini kemudian mengerucut menjadi satu kesimpulan: di rumah saja. Seluruh aktifitas dikerjakan dari rumah. Jadilah belajar dari rumah, bekerja dari rumah, semua dikerjakan dari rumah. Sekolah sepi, kantor sepi, rumah-rumah ibadah sepi.

Tentu semua itu baik adanya. Pergerakan manusia terbatas, dan itulah yang diharapkan, sehingga pergerakan virus juga terbatas. Dan pada akhirnya — 14 hari — virus mati sendiri.

Jaga jarak, hindari kerumunan, di rumah saja, imbauan-imbauan ini, sadar tidak sadar, berimplikasi kecemasan, yang bisa melahirkan ketakutan.

Hubungan kekerabatan, jadi renggang. Relasi sosial kemasyarakatan, kian berjarak. Tidak ada lagi pertemuan dan tatap muka yang menghimpun banyak orang. Bahkan untuk arisan saja, harus diatur berstandar protokoler kesehatan.

Pekerja informal kehilangan pendapatan. Pemasukan menurun. Ada pekerja yang harus putus kontrak. Ada yang dirumahkan. Banyak macam soal yang muncul dari sektor bisnis dan ekonomi.

Berbagai kebijakan pun hadir. Semuanya untuk pencegahan penularan. Pengetatan transportasi darat antar kabupaten. Pemberhentian sementara transportasi laut. Belakangan penerbangan komersial juga dihentikan sementara.

Aktifitas malam pun diperketat. Ada pemberlakuan jam malam. Toko dan swalayan ditutup. Warung makan sepi. Kios-kios kaki lima kena imbas.

Terjemahannya menjadi “liar”: karantina wilayah. Di gang-gang, di lorong-lorong, hingga jalan raya, mudah sekali ditemukan portal penutup jalan. Wilayah dikarantina, tapi muncul kerumunan baru di sekitar portal dan posko-posko pengamanan. Terkadang kontradiktif.

Pemerintah tidak behenti pada imbauan dan kebijakan. Karena sadar tidak sadar, ada dampak ikutan di sektor “kehidupan”. Muncul obat mujarab, semacam vaksin, untuk penanganan dampak ekonomi dan penanganan dampak sosial.

Anggaran digelontorkan.
Bantuan langsung tunai dikucurkan. Program padat karya digelorakan. Kartu Pra Kerja disiapkan. Semuanya dimaksudkan agar tidak ada gejolak dari dampak corona. Meski demikian tetap saja ada ketakutan baru: diskriminasi, penyelewengan kewenangan, dan korupsi.

Banyak donasi dan simpati mengalir. Banyak sinterklas bermunculan. Ada sisi plus, tapi juga ada sisi minus. Tergantung sudut pandang. Punggung corona seolah-olah menjadi panggung baru bagi pemerhati sosial. Kadang-kadang sulit membedakan antara iklan dan iklas.

Virus corona benar-benar menakutkan. Pelaku perjalanan ditolak masuk ke suatu wilayah. Apalagi kalau datang dari daerah terpapar. Dokter dan tim medis yang merawat pasien positip, hampir pasti diisolir. Bahkan jazad pasien terpapar sulit dimakamkan di tempat pemakaman umum.

Lalu, tidak adakah yang baik dari virus corona? Tidak adakah yang bernilai positip dari virus tidak berwujud ini?

Semua imbauan, tentu berdampak positip. Semua kebijakan, tentu berdampak positip. Tetapi sialnya, apapun imbauan, apapun kebijakan, masih saja berefek kepada ketakutan. Tensi kepanikan lebih tinggi dari pada meningkatkan kewaspadaan.

Orang mempertentangkan jaga jarak dan hindari kerumunan dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Orang memperhadapkan kampanye di rumah saja dengan tuntutan kebutuhan rumah tangga. Orang meributkan bantuan yang dikuatirkan tidak berkeadilan dan tidak tepat sasaran.

Semua orang asyik berdialektika dengan pikiran sendiri-sendiri. Dan akhirnya lupa, kalau sejatinya ada sisi positip dari virus corona. Apa itu?

Cuci tangan. Rajin mencuci tangan. Ini adalah salah satu kekuatan dahsyat untuk mencegah virus corona. Praktiknya gampang, mudah, dan sederhana. Tapi yang substansial seperti ini, justeru diabaikan begitu saja.

Virus corona rentan menular melalui mata, hidung, dan mulut. Dan bagian tubuh manusia yang bersentuhan langsung dengan mata, hidung, dan mulut, hanyalah tangan.

Droplet yang sudah ditunggangi virus corona, bisa ada di sekitar manusia. Droplet itu bisa menempel pada berbagai benda asing, dan kemungkinan dijangkau tangan manusia.

Secara tidak sadar, tangan manusia memindahkan virus corona ke berbagai media lain. Bisa melalui uang, gagang pintu, handphone, pakaian, anakan kunci, pemantik gas, dan banyak macam media perantara.

Bayangkan, jika tangan yang sudah tercemar virus corona, kemudian menyentuh mata, hidung, dan mulut. Praktis virus ini akan menembus sampai ke paru-paru dan menganggu pernapasan.

Cuci tangan. Ini “pekerjaan” baru yang menjadi penting pada seluruh aktifitas kehidupan. Sebelum dan sesudah menyentuh sesuatu, pastikan tangan sudah dicuci dengan air mengalir dan sabun. Virus akan mati saat itu.

Ketika pada saatnya wabah virus corona hilang dari muka bumi, praktis jaga jarak, masker, hindari kerumunan, portal, jam malam, dan seluruh kebijakan, ikut menghilang.

Tetapi cuci tangan, sejatinya tidak boleh hilang. Karena dia bukan saja luar biasa mencegah virus corona, tetapi menjadi bagian penting dari pola hidup bersih dan sehat.

Virus corona benar-benar menakutkan. Tapi terlepas dari itu, “benda deo” ini telah mengajarkan manusia untuk menjadikan cuci tangan sebagai budaya.

Yah, cuci tangan harus menjadi budaya. Mari mulai dari diri sendiri.*** (vicky da gomez)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini