Radikalisme Ancam Sikka, Gerardus Gili Desak Copot Kapolres

0
4126
Radikalisme Ancam Sikka, Gerardus Gili Desak Copot Kapolres
Gerardus Gili sedang berorasi di depan Kantor Kantor Kementerian Agama Sikka, Senin (3/5)

Maumere-SuaraSikka.com: Geradus Gili menyebut isu radikalisme kini mengancam Kabupaten Sikka. Dia mendesak pencopotan Kapolres Sikka AKBP Sajimin.

Desakan pencopotan Kapolres Sikka disampaikan melalui aksi damai, Senin (3/5), pada sejumlah tempat. Aksi damai tersebut terkait protes atas kasus yang menimpa anaknya Yohanes San Salvador Lado Gili, yang kini telah menjadi mualaf dengan nama Muhammad Ihsan Hidayat.

Menurut dia, benih-benih radikalisme dan intoleran di Kabupaten Sikka muncul bersamaan dengan pindah agama anaknya, kurang lebih 1 tahun yang lalu.

Aksi damai di depan pintu gerbang Kantor DPRD Sikka, Senin (3/5)

Dalam rentang 1 tahun ini, kata dia, Kapolres Sikka dianggap gagal membongkar praktik-praktik radikalisme dan intoleran yang terjadi di balik kasus anaknya.

Padahal, ujar dia, runutan proses pindah agama anaknya, sudah sangat jelas dan terang. Dia menuding Kapolres Sikka sengaja membiarkan radikalisme dan intoleran tumbuh dan berkembang di daerah ini.

Dia menyebut nama sejumlah oknum yang diduga kuat terlibat pada paham radikal dan intoleran. Oknum-oknum tersebut ikut dalam proses pindah agama anaknya.

“Sudah saya laporkan kepada Kapolres Sikka. Tapi, laporan saya diabaikan. Oknum-oknum itu dibiarkan bebas berkeliaran. Karena itu saya minta copot Kapolres Sikka,” teriak dia dalam aksi damai.

Gerardus Gili bersama istri di depan pintu gerbang Kantor DPRD Sikka, Senin (3/5)

Gerardus Gili bersama istrinya serius memperjuangkan keadilan agar anak laki-laki mereka yang kini sudah jadi mualaf, dikembalikan seutuhnya sebagai penganut Katolik.

Suami istri ini tampil sebagai orator, bergantian dengan seorang orator perempuan. Mereka berorasi dari atas sebuah pikup berwarna hitam.

Aksi damai ini dilancarkan pada sejumlah titik, seperti di Kampus IKIP Muhamadiyah di Kelurahan Waioti, Kantor Polres Sikka di Jalan Ahmad Yani, Kantor Kementerian Agama Sikka, serta Kantor Bupati Sikka dan Kantor DPRD Sikka di Jalan Eltari.

Gerardus Gili tidak berhasil bertemu Rektor IKIP Muhamadiyah, Kapolres Sikka, Bupati Sikka, dan Pimpinan DPRD Sikka, karena aksi damai hari itu tidak mengantongi izin keramaian.

Di DPRD Sikka, setelah menunggu lama di depan pintu gerbang yang sengaja ditutup, akhirnya Gerardus Gili dan istri berhasil bertemu Pimpinan DPRD.

Aparat polisi berjaga mengamankan Kantor DPRD Sikka menjelang aksi damai, Senin (3/5)

Aksi damai ini mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. Puluhan polisi disiagakan pada titik-titik aksi.

Sebagaimana diberitakan, San, mahasiswa IKIP Muhammadiyah, resmi menjadi mualaf pada 22 Juni 2020. Beredar sebuah Akta Masuk Islam yang dikeluarkan Masjid Darussalam Waioti Maumere. Namanya berubah menjadi Muhamad Ihsan Hidayat. Seluruh proses ini tidak diketahui orangtuanya.

Seorang orator perempuan sedang menggugah proses pindah agama yang dianggap diintervensi benih radikal.dan intoleran

Gerardus Gili mengatakan proses pindah agama anaknya berlangsung sesat, tercela dan tidak sah. Menurut dia, ada keterlibatan oknum-oknum dalam tindakan memurtadkan anaknya melalui proses yang tersembunyi dan tertutup.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini