Ideologi dan Perilaku Politik di Indonesia

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 4 Februari 2023 - 23:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 77 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilfridus Erwin Kaka

Wilfridus Erwin Kaka

Pendahuluan
Pada hari Jumat, tanggal 4 Nopember 2016, kawasan sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Bundaran Bank Indonesia, dan Istana Kepresidenan di Jakarta dipenuhi demonstran-demonstran yang menggunakan atribut pakaian berwarna putih.

Mereka memrotes Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Basuki Tjahaja Purnama — yang merupakan seorang Nasrani keturunan Tionghoa — karena disinyalir telah melakukan penistaan terhadap agama Islam (Pirmansyah, 4 Nopember 2016).

Walau aksi tersebut diawali dengan tertib, setelah pukul 18.30 WIB terjadi kericuhan antara demonstran dengan pihak kepolisian yang menjaga keamanan (Kuwado, 5 Nopember 2016).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Demonstrasi massa itu merupakan awal dari demonstrasi berikut yang berskala jauh lebih besar.

Hampir sebulan setelah aksi 4 Nopember 2016, demonstrasi massa kembali terjadi di halaman Monumen Nasional (Monas) Jakarta dengan peserta sebanyak ratusan ribu (menurut pihak kepolisian) atau jutaan (menurut pihak penyelenggara demonstrasi).

Rangkaian aksi ini dikenal luas dengan nama Aksi Bela Islam. Para demonstran yang hadir pada 2 Desember 2016 membentuk identitas sebagai Alumni 212, sesuai tanggal dan bulan terjadinya aksi terbesar itu.

Tuntutan para demonstran terwujud setelah Gubernur Jakarta yang kerap disebut Ahok dipidanakan pada tahun 2017 dengan dakwaan penistaan agama (Huda, 9 Mel 2017).

Terdapat berbagai polemik yang beredar tentang alasan mengapa ratusan ribu atau jutaan orang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi hadir pada aksi 4 Nopember 2016 dan 2 Desember 2016.

Namun, bisa disepakati bahwa kedua aksi itu ditujukan dengan agenda membela ideologi agama dari pihak yang mengancam.

Di sini kita akan fokus membahas ideologi yang tidak hanya menginspirasi individu, tetapi juga mampu menggerakkan orang banyak dalam satu suara, yaitu ideologi politik.

Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan apakah memang ideologi saja cukup untuk membentuk dukungan atau aksi politik seperti yang terjadi pada aksi 4 Nopember 2016 atau 2 Desember 2019.

Apa itu Ideologi?
Apa itu ideologi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ideologi memiliki tiga makna.

Pertama, kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.

Kedua, cara berpikir seseorang atau suatu golongan. Dan ketiga, paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.

Sementara itu, menurut kamus definisi Oxford (lihat lexico.com/definition/ideology), ideologi memiliki dua makna.

Pertama, sebuah sistem ide-ide atau standar-standar, terutama yang menjadi dasar dari pembentukan teori atau kebijakan politik atau ekonomi.

Dan kedua, ilmu tentang ide-ide, yang mempelajari asal muasal dan karakteristik ide-ide itu sendiri.

Jika semua makna itu dipertimbangkan, cakupan bahasan kita akan sangat meluas dan melebar.

Definisi yang saya berikan di sini merangkum makna pertama dan kedua dari KBBl serta makna pertama dari kamus definisi Oxford.

Untuk kepentingan kita di sini, maka ideologi didefinisikan sebagai sistem konsep atau ide yang dimiliki seseorang atau suatu kaum dan mendasari terbentuknya kebijakan ekonomi atau politik.

Sebagai contoh kebijakan ekonomi meningkatkan upah pekerja pabrik didasari oleh ide bahwa pengusaha tidak boleh mengeksploitasi kalangan pekerja, karena itu tidak etis.

Ide tersebut merupakan gagasan marxisme yang menekankan kesetaraan kelas pekerja dan kelas pengusaha (Marx & Engels, 1975) dan dianut oleh kelompok-kelompok komunis.

Banyak upaya pendefenisian lain telah dilakukan, seperti yang dilakukan van Dijk berikut ini: “Ideologi adalah dasar dari representasi sosial yang dimiliki oleh suatu kelompok sosial. Tergantung pada perspektif seseorang, keanggotaan kelompok atau etika, ide-ide kelompok ini dapat dinilai secara positif, negatif, atau tidak dihargai sama sekali.”

Dari defenisi tersebut, bisa kita cermati bahwa sebuah ideologi dapat dinilai secara positif, negatif atau netral lewat standar-standar yang dimiliki seseorang, suatu kelompok, atau suatu nilai etis tertentu.

Penting juga untuk diketahui bahwa keyakinan-keyakinan ideologis bisa berlandaskan fakta ataupun bisa juga tidak didasari fakta.

Selain itu, penting untuk diingat bahwa ideologi bisa disamakan dengan istilah lain yakni sistem keyakinan atau belief system.

Pakar ilmu politik David W. Minar menjelaskan bahwa ideologi bisa diidentifikasi berdasarkan tiga tema (Minar, 1961).

Pertama, komponen ide dari ideologi. Kedua, fungsi dari ideologi,. Dan ketiga, penempatan ideologi pada individu, agregat, atau kelompok.

Berdasarkan komponen idenya, ideologi terdiri atas konten dan struktur. Konten ideologi adalah elemen penilaian seseorang atau suatu kaum terhadap isu tertentu.

Sebagai contoh, kita bisa mengidentifikasi apakah seserang itu liberal atau bukan liberal dengan menilai dukungan orang itu terhadap isu “diskriminasi terhadap minoritas”.

Baca Juga :  Sejarah! Lumat Filipina, Indonesia Melaju ke Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026

Sedangkan struktur ideologi merupakan elemen stabilitas dari waktu ke waktu atau interelasi konsep-konsep dari sebuah ideologi.

Semakin konsisten orang itu menganut sebuah posisi ideologis, semakin kita bisa yakin bahwa orang itu memang menganut ideologi itu.

Berdasarkan fungsinya, ideologi terdiri atas fungsi sosial-pribadi, fungsi organisasi, dan fungsi transmisi.

Pada fungsi sosial-pribadi, ideologi bermanfaat bagi individu untuk memaknai atau merasionalisasi kondisi hidupnya atau tindakan-tindakannya.

Misalnya, seorang individu akan meyakini ideologi agama karena ia bisa merasakan ketenangan dan rasa aman yang diberikan Tuhan lewat ayat-ayat Kitab Suci.

Pada fungsi transmisi, ideologi bermanfaat untuk melakukan persuasi secara sosial lewat ide-ide atau simbol-simbol.

Dengan kata lain, ideologi bisa memiliki fungsi menyebarkan ide-idenya pada orang-orang yang belum memiliki ideologi tersebut.

Sementara berdasarkan penempatannya, ideologi terdiri atas penempatan di level interpersonal, penempatan di level agregat dari individu-individu, dan penempatan di level kelompok.

Di level interpersonal, ideologi dianut oleh individu-individu secara terpisah dalam suatu waktu. Di sini, ideologi diyakini secara pribadi, tetapi tidak membentuk suatu karakteristik kelompik.

Pada level agregat, ideologi yang sama dianut oleh individu-individu dalam suatu kelompok, tetapi tidak mendefinisikan karakteristik kelompok itu.

Perkembangan Sistem Keyakinan dalam Masyarakat
Para pakar di ilmu sosial sepakat bahwa sistem keyakinan sudah ditemukan sejak zaman dahulu kala, sewaktu nenek moyang manusia masih hidup di tengah-tengah kerasnya alam.

Suatu sistem keyakinan tertua yang dimiliki masyarakat adalah kepercayaan animisme. (Tylor, 1871; Lubbok, 1889; Stringer, 1999).

Dalam kepercayaan ini, diyakini bahwa benda-benda (batu, kayu, hasil kerajinan), makhluk-makhluk (hewan, pohon) dan tempat-tempat (sungai, gunung, hutan) dalam alam itu memiliki roh.

Dalam sistem keyakinan ini, manusia berusaha menjelaskan fenomena alam dan sosial lewat roh-roh magis yang mendiami suatu objek (Tylor, 1871; Bird-David, 1999).

Apabila terjadi suatu fenomena, orang-orang percaya bahwa itu terjadi akibat kehendak roh-roh alam yang mediami hewan dan benda.

Pada masyarakat kuno di lembah indus, masyarakat meyakini bahwa mereka tidak boleh memburu hewan rubah dengan buntut putih karena ia merupakan jelmaan sosok wanita tua yang bijak.

Sosok itu bisa mengantarkan orang pada hal-hal baik (Harari, 2014). Keyakinan animism semacam itu masih ada sampai sekarang.

Masyarakat di Indonesia masih percaya dengan kekuatan entitas-entitas roh alam yang juga diyakini dalam animism.

Seiring perkembangan peradaban, muncul agama-agama lain yang lebih modern. Diyakini bahwa alam tidak lagi memiliki roh. Semua fenomena itu dikontrol bukan oleh roh-roh alam, melainkan oleh sosok bernama Tuhan atau dewa.

Agama-agama seperti Hindu, Islam, Kristen, Nordik, Yunani Kuno, dan lain-lain lahir seiring dengan perkembangan peradaban dari masyarakat pemburu menjadi masyarakat petani (Harari 2014).

Walau sistem keyakinan dalam agama-agama modern itu lebih kompleks, tetapi pada dasarnya semua agama berusaha menjelaskan berbagai fenomena di alam, memberikan petunjuk bagi manusia, dan berusaha memberikan ketenangan bagi manusia.

Sebagaimana dikatakan antropolog Clifford Geertz (1973), ideologi seperti agama memiliki tiga fungsi.

Pertama, memberikan kepastian tentang proses-proses alam dan semesta. Kedua, memberikan petunjuk baik dan buruk bagi manusia. Dan ketiga, memberikan ketenangan sebagai solusi atas penderitaan manusia.

Perkembangan peradaban kemudian melaju dari masyarakat petani menjadi masyarakat industri.

Menurut sejarahwan Yuval Noah Harari (2014), perubahan ini berdampak pada munculnya ideologi baru yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta (bahkan lebih penting daripada Tuhan).

Bagi Harari, walau tidak terdapat Tuhan dalam humanism, ideologi ini berperan sama seperti agama. Ia berusaha memberikan petunjuk tentang apa yang baik dan buruk serta memberikan penjelasan akan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini.

Bedanya dengan agama adalah dalam humanism, Tuhan telah digantikan dengan prinsip kemanusiaan (Harari, 2014).

Sebagaimana animisme melebur dengan agama modern (misal di Indonesia orang percaya Tuhan, tetapi tetap percaya bahwa pohon beringin ada penunggunya), humanism juga melebur dengan agama.

Di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama, banyak orang percaya dengan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kebebasan dan keadilan sosial.

Dalam agama-agama seperti Islam dan Kristen, terdapat berbagai aliran yang memiliki interpretasi ajaran yang berbeda-beda dengan prinsip berbeda-beda pula.

Misalnya saja, dalam Islam terdapat aliran Sunni dan Syiah (Blanchard, 2006).

Humanisme pun demikian. Terdapat tiga aliran ideologi besar dalam humanism, yaitu humanisme liberal, humanism sosialis, dan humanisme evolusioner.

Baca Juga :  Spanyol Masih Perkasa, Swiss Buka Asa

Humanisme liberal atau liberalisme adalah ideologi yang berumber pada pemikiran bahwa kebebasan individual adalah kualitas terpenting dari kemanusiaan (Harari, 2014).

Penganut ideologi ini meyakini adanya kehendak bebas dari setiap individu yang didasari oleh hati nurani pribadi.

Humanisme sosialis, sering kali dikenal dalam wujud komunisme dan berbagai variasinya, adalah ideologi yang bersumber pada pemikiran bahwa kesetaraan (equality) seluruh umat manusia adalah kualitas terpenting dari kemanusiaan (Harari, 2014).

Ketika humanism liberal menekankan pada individu dan hati nuraninya, humanisme sosialis menekankan pada perjuangan kelompok untuk mencapai kesetaraan.

Di bawah payung humanism sosialis, seluruh manusia dianggap setara, tidak peduli apakah ia berasal dari kelompok kaya, miskin, mayoritas, minoritas, elite, atau jelata.

Sementara itu humanisme evolusioner adalah ideologi yang bersumber pada pemikiran bahwa manusia harus dilindungi dari degenerasi (Harari, 2014).

Ideologi semacam ini ditemui dalam bentuk Nazisme dan supremasi kulit putih, sehingga dikenal juga dengan sebutan fasisme.

Nazisme percaya bahwa ras Arya di Eropa adalah ras tertinggi manusia sehingga harus dilindungi agar tidak punah dan tercampur dengan ras lain.

Keyakinan serupa juga dianut oleh kelompok-kelompok supremasi kulit putih. Mereka percaya bahwa ada kelompok-kelompok manusia yang lebih unggul karena telah berevolusi lebih baik dan membentuk peradaban lebih canggih.

Pada bagian ini kita sudah mempelajari bahwa sepanjang sejarah, ideologi berusaha memberi tuntunan bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupan mereka.

Ideologi berkembang seiring dengan perkembangan peradaban.

Spektrum Ideologi Politik
Dari penjelasan tentang perkembangan ideologi sebelumnya, kita bisa menarik memaparkan bahwa ideologi-ideologi (terutama yang sangat berpengaruh, seperti agama dan ideologi polotik) muncul atas usaha menjelaskan fenomena alam dan sosial.

Ideologi memiliki penjelasan tentang berbagai aspek kehidupan manusia yang memberikan kepastian, petunjuk, dan rasa aman pada diri manusia.

Sementara itu, ideologi politik bertujuan memberikan petunjuk tentang bagaimana sistem dan kondisi masyarakat yang ideal serta bagaiaman cara untuk mencapai sistem itu.

Pada bagian ini, kita akan membicarakan spektrum ideologi politik.

Di banyak negara di dunia, terutama di Eropa pembagian spektrum politik itu biasanya sederhana: kiri, tengah dan kanan.

Spektrum kiri biasanya mencakup kaum sosialis, komunis hijau dan lain-lain. Sementara spektrum kanan diisi oleh kalangan kaum nasionalis, liberal dan konservatif. Dan, yang menarik, kelompok tengah yang disebut catch-all party lebih pragmatis dan tidak memerlukan ideologi yang ketat.

Pada tahun 1789 di Perancis, sebuah forum perkumpulan nasional dibentuk pasca revolusi Perancis. Dalam perkumpulan ini, dibahas berbagai isu politik dan ekonomi yang genting.

Dalam forum, duduk di sisi kanan adalah kalangan aristokrat Perancis, yang mendukung kedaulatan Raja Louis XVI.

Sementara di seberang mereka, pada sisi kiri duduklah kalangan rakyat jelata pendukung revolusi Perancis yang menantang kedaulatan sang raja (Knapp & Wright, 2006).

Dari situ kemudian digunakan istilah sayap kiri (left-wing) untuk mendeskripsikan pendukung hirarki sosial dan usaha mempertahankan tradisi masyarakat.

Dalam praktiknya, ideologi sayap kiri sering diidentikan dengan ide-ide seperti perubahan sosial (progresif), hak azasi, kesetaraan, persaudaraan, reformasi, dan keadilan sosial.

Sementara ideologi sayap kanan identik dengan ide-ide seperti hirarki sosial, keteraturan, kewajiban, tradisi, dan nasionalisme (Heywood, 2015).

Pakar psikologi kecerdasan dan kepribadian, Hans Eysenck (1957), menggunakan teknik analisis faktor dan statistik untuk menjawab pertanyaan, “Ada berapakah dimensi ideologi politik itu?”.

Ia mengobservasi bahwa ada kalanya kelompok sayap kanan dan sayap kiri sepakat dalam beberapa isu politik.

Ia tidak puas dengan spektrum tunggal ideologi sayap kiri dan sayap kanan. Maka dari itu, ia menemukan bahwa ternyata ada dua faktor dalam ideologi politik, di mana ini membentuk sebuah struktur dengan empat kuadran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sejauh mana perwujudan demokrasi di sebuah masyarakat sangat ditentukan oleh perilaku politik masyarakat itu sendiri.

Regulasi yang sudah dibentuk menjadi tidak akan berjalan secara optimal jika tidak didukung oleh perilaku demokrasi masyarakat.

Lembaga-lembaga politik yang sudah lahir, seperti partai politik, pemilu dan parlemen, juga tidak akan dapat menjalankan fungsi secara optimal tanpa dibarengi dengan perilaku demokratis masyarakat.

Dengan demikian tidak mungkin membicarakan demokrasi tanpa membicarakan perilaku politik.***

Ditulis oleh Wilfridus Erwin Kaka, Mahasiswa semester VI pada IFTK Ledalero

Berita Terkait

Spanyol Masih Perkasa, Swiss Buka Asa
Euro 2024, Jerman Langsung Tancap Gas
Sejarah! Lumat Filipina, Indonesia Melaju ke Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026
Wolbachia, Sejenis Nyamuk, Tapi Mengurangi DBD
King Madrid, King Ancelotti
Nasdem Sikka Terbelah
Meneropong Peta Koalisi Pilkada Sikka
Liga 3 Nasional Menuju 16 Besar

Berita Terkait

Minggu, 16 Juni 2024 - 15:28 WITA

Bantuan Rp 100 Juta Pembangunan Biara JDS Belum Cair, Pastor Mengeluh, Ini Jawaban Kabag Kesra Sikka

Jumat, 14 Juni 2024 - 08:54 WITA

107 Penyuluh KB Ikuti Jambore PKB/PLKB di Maumere

Kamis, 13 Juni 2024 - 23:31 WITA

Balita 4 Tahun Asal Selandia Baru Terjatuh di Atas Kapal, Beruntung Tidak Cemplung ke Laut Perairan Komodo

Kamis, 13 Juni 2024 - 15:32 WITA

Dana PIP Lenyap, Kepala SDI Iligetang: Kami Tidak Makan Satu Sen Pun

Kamis, 13 Juni 2024 - 08:47 WITA

Sebut Obor Mas Residence Masuk Kategori Perumahan Moderen, Staf PLN Maumere Beli Kontan 1 Unit Rumah

Rabu, 12 Juni 2024 - 16:27 WITA

KPU Sikka Rekrut 928 Pantarlih Pilkada 2024

Rabu, 12 Juni 2024 - 16:04 WITA

Setiap Kali Cek Saldo Masih Kosong, Ternyata PIP 29 Pelajar SDI Iligetang di Sikka Lenyap

Selasa, 11 Juni 2024 - 18:36 WITA

Semparong Jaya Mati Mesin, Sempat Terombang-Ambing, 18 Penumpang Selamat

Berita Terbaru

Timnas Spanyol merayakan gol Dani Carvajal ke gawang Kroasia, Sabtu (15/6) WIB malam

Olahraga

Spanyol Masih Perkasa, Swiss Buka Asa

Minggu, 16 Jun 2024 - 03:24 WITA

Selebrasi Kai Havertz usai cetak gol pada laga pembuka Euro 2024 antara Jerman versus Skotlandia, Sabtu (15/6) dinihari WIB

Nasional

Euro 2024, Jerman Langsung Tancap Gas

Sabtu, 15 Jun 2024 - 10:08 WITA