Pilpres 2024, Gereja dan Persatuan Orang Flores

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 15 Januari 2024 - 15:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 326 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GF Didinong Say

GF Didinong Say

PADA Pemilu 1955, Partai Katolik pimpinan IJ Kasimo sebagai salah satu peserta terbukti mendapatkan dukungan mayoritas masyarakat Flores. Menjadi pilihan dan sajian aspirasi politik utama rakyat Flores. Walau pemilu saat itu juga sudah diikuti banyak partai politik.

Dukungan mayoritas masyarakat Flores bagi Partai Katolik pada Pemilu 1955, dapat terjadi antara lain disebabkan karena di masa itu belum terjadi sekularisme dalam gereja. Gereja belum memisahkan diri dari kehidupan politik praktis. Bahkan beberapa pastor sempat tercatat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada berbagai level lembaga legislatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terhadap realitas historis tersebut, Frans Seda atau Ben Mboi pernah menyebutkan bahwa orang Flores itu hanya bisa dipersatukan oleh Gereja dan politik.

Namun sejak 1971, yaitu sejak rezim Orde Baru berkuasa, secara politik mulai muncul fenomena polarisasi politik dalam kehidupan masyarakat Flores. Di saat yang sama, yaitu setelah Pemilu 1971 Partai Katolik telah melebur, ikut berfusi dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Tercatat bahwa sejak awal masa Orba di beberapa wilayah Flores, mulai muncul perbedaan sikap dan pilihan politik yang pada gilirannya berdampak pada persaingan, konkurensi, hingga pertentangan politik.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Dengan demikian, secara politik, orang Flores mulai terpecah dari suatu kesatuan (sikap dan pilihan) politik dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Fenomena cukup menarik terjadi pada Pemilu 2014 dan 2019 yang lalu, serta pemilu 2024 yang akan datang.

Pada Pemilu 2014 dan 2019,  dalam pemilihan legislatif sikap dan pilihan politik orang Flores tentu saja bervariasi sesuai sistem multipartai yang berlaku.

Namun dalam pemilihan Presiden, mayoritas orang Flores terbukti memberikan dukungan politik  kepada salah satu figur yaitu Jokowi. Jokowi yang dinilai telah memberikan atensi besar bagi pembangunan NTT dan Flores khususnya selalu mendapatkan sambutan spontan dan euforia masyarakat pada setiap kunjungannya ke Flores.

Namun jelang Pemilu 2024, khususnya terkait Pilpres, sikap dukungan dan pilihan orang Flores nampaknya tidak akan sekompak seperti pada 2 pilpres sebelumnya.

Perbedaan sikap dan dukungan politik masyarakat Flores dalam Pilpres 2024 tersebut kini telah menjadi diskursus yang penuh silang sengketa di antara masyarakat Flores. Termasuk dalam berbagai platform media sosial. Perbedaan atau pertarungan politik seperti ini sesungguhnya wajar saja dalam konteks kebebasan dan demokrasi.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Namun dalam konteks kesatuan persatuan orang Flores, seluruh proses politik Pilpres 2024 yang diwarnai perbedaan dan pertarungan tersebut sepatutnya perlu dimoderasi dari setiap potensi dan kemungkinan konflik internal orang Flores.

Bila gereja masih menjadi satu-satunya benteng kesatuan dan persatuan orang Flores yang Katolik itu, maka gereja seharusnya mampu membawa terang dan pencerahan bagi orang Flores dalam menghadapi Pilpres 2024.

Gereja tak bisa bersikap berdiam diri atau mengambil distansi terhadap realitas politik polaristis tersebut.

Hal ini tentu bukanlah suatu tugas dan peran yang mudah karena selain alasan sekularisme, polarisasi politik  masyarakat Flores sebagai akibat kebebasan dan demokrasi itu terjadi di antara kalangan umatnya sendiri.***

Ditulis oleh GF Didinong Say, diaspora NTT, tinggal di Jakarta

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Uskup Maumere Kunjungi 92 Pasien RSUD TC Hillers Maumere yang Dirawat di Tenda Darurat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:21 WITA

Pascagempa Bumi Tektonik, 777,7 Ton Bantuan Mengalir Melalui Maumere dan Labuan Bajo

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 14:33 WITA

Wabup Sikka Serahkan 20 Unit Tenda untuk Korban Gempa di Talibura

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:00 WITA

PDI Perjuangan Lepas Kapal RS Laksamana Malahayati Bantu Korban Gempa di NTT

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:20 WITA

Longsor Ekstrim di Palue Akibat Gempa Bumi, Balai Jalan PUPR Kirim 3 Unit Exavator

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:37 WITA

Diaspora Flobamora di Papua Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:11 WITA

Gempa Guncang Sikka, Belanja Tidak Terduga Naik Drastis

Berita Terbaru

Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi menyerahkan bantuan tenda kepada warga terdampak gempa bumi tektonik di Kecamatan Talibura, Sabtu (22/8)

Bencana Alam

Wabup Sikka Serahkan 20 Unit Tenda untuk Korban Gempa di Talibura

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:33 WITA