Upah Belum Dibayar, Tenaga Kerja Blokir Jembatan Ubeloler

4
148
Upah Belum Dibayar, Tenaga Kerja Blokir Jembatan Ubeloler
Para tenaga kerja memblokir Jembatan Ubeloler di Desa Kringa Kecamatan Talibura karena kontraktor pelaksana belum membayar upah kerja
Maumere-SuaraSikka.com: Perilaku klasik pelaksana pekerjaan fisik proyek kembali dipertontonkan. Kontraktor pelaksana tidak membayar upah kerja dengan berbagai alasan, seperti yang terjadi pada Proyek Penggantian Jembatan Ubeloler di Desa Kringa Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka Propinsi NTT. Akibatnya para pekerja pun nekad memblokir jembatan tersebut sehingga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.
Padahal proyek yang dikerjakan PT Telaga Pasir Kuta ini sudah dilakukan serah terima tahap pertama atau yang biasa disebut provisional hand over (PHO) pada pertengahan Desember 2018 lalu. Usai PHO, terbetik kabar, Suwanto, selaku Direktur Utama PT Telaga Pasir Kuta, langsung berangkat ke Surabaya, tanpa membayar upah para pekerja. Upah yang belum dibayar mencapai ratusan juta rupiah.
Para pekerja memblokir akses jembatan, sejak Rabu (16/1). Mereka menutup dengan pagar bambu dan batang-batang kayu, baik dari arah Maumere maupun dari Larantuka. Beberapa meter dari jembatan, terdapat plang yang sengaja diletakkan di atas badan jalan. Plang itu bertuliskan tuntutan yang berbunyi “Dilarang Lewat Sebelum Tenaga Kerja Dibayar”.
Gaspar Gusar, salah satu pekerja pada proyek ini menjelaskan pemblokiran dilakukan karena para pekerja kecewa dengan sikap kontraktor pelaksana. Mereka sudah berulang-ulang kali meminta agar hak mereka dibayarkan, namun belum saja terealisir.
“Setelah PHO kami sudah minta agar segera bayar upah. Beberapa kali ke Maumere bertemu dengan pelaksana di lapangan yang namanya Hari. Tapi dia selalu beralasan direktur belum transfer ke rekeningnya. Makanya kami tutup saja (jembatan) sampai dengan kontraktor bayar upah kami,” ungkap Gaspar Gusar.
Upah yang belum dibayar kontraktor pelaksana, menurut perhitungan Gaspar Gusar yakni pekerjaan pemasangan batu seluas 500 meter kubik, dengan perjanjian 1 meter kubik dibayar Rp 120.000, sehingga totalnya Rp 60 juta. Selain itu ada juga pekerjaan pencoran deck, backiting dan pemasangan tiang pancang, serta pengadaan material berupa kerikil dan pasir. Jika ditotal secara keseluruhan bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta.
Satker 64 PPK Maumere-Waerunu Anak Agung Gede Esa yang dihubungi media ini melalui telepon selular, Senin (21/1), membenarkan para pekerja memblokir Jembatan Ubeloler. Dia menjelaskan pemblokiran dilakukan karena kontraktor pelaksana belum membayar upah para pekerja.
“Memang sempat terjadi pemalangan oleh tenaga kerja karena kontraktor belum penuh melakukan pembayaran. Tapi informasi yang saya dengar kontraktor sudah siap membayar kekurangannya, dan blokirnya sudah bisa dibuka,” jelas Anak Agung Gede Esa.
Anak Agung Gede Esa sendiri belum mengetahu secara pasti kapan kontraktor akan merealisasikan pembayaran kekurangan upah tenaga kerja. Tapi dia meyakini bahwa sudah ada kesepakatan antara kontraktor pelaksana dan tenaga kerja untuk waktu pembayaran.
Sementara itu Suwanto selaku Direktur PT Telaga Pasir Kuta maupun Hari yang disebut-sebut sebagai pelaksana lapangan, belum bisa dihubungi. Media ini kesulitan menemui pihak-pihak tersebut.*** (eny)

4 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini