Pengadaan Kambing Berujung Gagal, Warga Bu Watuweti Teriak Korupsi

0
257
Pengadaan Kambing Berujung Gagal, Warga Bu Watuweti Teriak Korupsi
Ketua BPD Bu Watuweti Simonseus Leu sedang memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Bupati Sikka, Kamis (13/6)
Maumere-SuaraSikka.com: Warga Desa Bu Watuweti Kecamatan Tanawawo Kabupaten Sikka sedang menyoroti kinerja kepala desa setempat. Berbagai ketimpangan terjadi di desa itu. Salah satunya program pengadaan anak kambing yang berujung gagal. Masyarakat pun berteriak terjadinya dugaan korupsi.
Kondisi ini digambarkan Ketua Badan Pemerintahan Desa (BPD) Bu Watuweti Simonseus Leu kepada wartawan di Kantor Bupati Sikka di Jalan Ahmad Yani. Simonseus Leu bersama puluhan warga desa bermaksud menemui Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo atau Robby Idong untuk menyampaikan sejumlah masalah yang melilit desa itu sejak tahun 2017.
Salah satu program pemberdayaan masyarakat yakni pengadaan anak kambing untuk 43 kepala keluarga. Program ini dilaksanakan pada tahun 2018 lalu. Setiap kepala keluarga mendapatkan 1 ekor anak kambing, yang berusia sekitar 3-4 bulan.
Damianus Dulu, salah seorang penerima bantuan mengaku kecewa dengan program ini. Pasalnya anak kambing yang dia diterima tidak berumur panjang. Hanya kurang lebih 1,5 bulan saja, anak kambing tersebut meninggal akibat keseringan menceret. Dan tragisnya, penyakit ini mewabah, hingga 5 ekor kambing piaraannya ikut meninggal.
Setelah diusut, ternyata hampir semua warga yang menerima bantuan anak kambing mengeluhkan hal yang sama. Kambing bantuan dari alokasi dana desa itu, semuamya meninggal dengan umur piaraan kurang lebih 1,5 bulan. Diperkirakan masih tersisa 2 ekor kambing saja yang bertahan hingga sekarang.
Pengadaan anak kambing ini memicu “kemarahan” masyarakat setelah mengetahui alokasi dana untuk program pemberdayaan ini sebesar Rp 157 juta. Damanus Dulu memperkirakan anak kambing yang diterimanya ditaksir dengan harga pasaran sekitar Rp 400.000 sampai Rp 600.000. Jika diambil harga tertinggi, maka total pengadaan 43 ekor anak kambing hanya sejumlah Rp 25.800.000.
Simonseus Leu menuding ada yang tidak beres dengan pelaksanaan program kegiatan di Desa Bu Watuweti. Dia menyentil pengelolaan dana desa yang tidak transparan dan tekesan sangat tertutup. Menurut dia kepala desa mengelola dana desa tanpa melibatkan tim pengelola keuangan desa (TPKD).
“TPKD kurang terlibat karena mereka tidak mengerti tugas yang harus mereka lakukan. Bahkan besaran insentif untuk mereka pun tidak disampaikan secara pasti oleh kepala desa,” ujar Simonseus Leu.
Simonseus Leu mengatakan yang paling buruk dari penyelenggaraan pemerintahan di Desa Bu Wauweti yakni dokumen APBDes yang tidak pernah diketahui publik. Jangankan publik, kata dia, bahkan BPD saja tidak mendapatkan dokumen tersebut. Padahal APBDes merupakan hasil pembahasan bersama antara Pemdes Bu Watuweti dan BPD setempat.
“Bagaimana kami bisa mengontrol kepala desa kalau dokumen penting seperti itu kami tidak pegang. Kami sudah minta tapi tidak pernah dberi,” ujar dia.
Sampai dengan siang tadi warga masyarakat Desa Bu Watuweti masih menunggu kesempatan untuk bertemu Bupati Sikka yang sedang ada kegiatan di Lantai 2 Aula Setda Sikka. Setelah itu Bupati Sikka mengikuti sosialisasi mengenai beasiswa untuk mahasiswa Universitas Tribuana Tunggadewi Surabaya di Gedung Sikka Convention Center.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini