Maumere-SuaraSikka.com: Elisabeth Masar baru 10 hari yang lalu melahirkan seorang anak perempuan. Dia sempat kaget ketika diberitahu biaya melahirkan ditanggung seluruhnya oleh BPJS Kesehatan.
Perempuan kelahiran 12 November 1985 ini pantas kaget. Karena sebelumnnya dia bersama Fransiskus Yulianus, suaminya, sangat terganggu memikirkan biaya persalinan yang diperkirakan puluhan juta rupiah.
Sebagai petani dengan kehidupan ekonomi yang pas-pasan, Elisabeth dari hari ke hari terus berpikir tentang biaya persalinan. Bahkan sudah terpikirkan untuk menggadaikan aset, demi kehadiran si buah hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga Desa Hokor Kecamatan Bola Kabupaten Sikka Propinsi NTT ini, masuk RSUD TC Hillers Maumere pada Rabu (11/3) pagi. Dia membawa rujukan dari Puskesmas Bola. Tidak butuh waktu lama, sekitar jam 11.00 Wita, perempuan ini langsung menjalani operasi caesar.
Seorang bayi perempuan, lahir dari rahimnya. Ini adalah anak ketiga hasil perkawinannya dengan Fransiskus Yulianus. Laki-laki ini setia mendampingi istrinya, termasuk membantu pengurusan dokumen secara administratif.
Paska melahirkan, pasutri ini masih gelisah soal biaya persalinan. Terbayang situasi ketika persalinan dua anak sebelumnya. Kala itu keduanya harus mengeluarkan banyak biaya. Bayangan ini pun terus menghantui mereka.
Saat pengurusan administrasi untuk kembali ke rumah, Elisabeth meneteskan airmata ketika diberitahu proses persalinan bebas biaya. Masih dalam kebingungan, dia mendapatkan jawaban bahwa seluruhnya sudah ditanggung BPJS Kesehatan.
“Tidak ada biaya. Saya kaget. Ternyata kartu kecil ini sangat membantu,” cerita Elisabeth sambil menunjukkan kartu peserta JKN-KIS.
Elisabeth bersama suaminya Yulianus ditemui media ini di Gedung Poliklinik RSUD TC Hillers Maumere, Sabtu (21/3). Sambil menggendong bayinya yang baru berumur 10 hari, Elisabeth sedang antri menunggu obat.
Pasutri ini pantas kaget, karena keduanya baru 6 bulan menjadi peserta JKN-KIS. Adalah Kepala Desa Hokor yang menawarkan keluarga ini menjadi peserta. Iuran sebagai peserta ditanggung pemerintah daerah.
“Kami tidak pernah bayar iuran. Kepala Desa bilang iuran dibayar pemerintah. Jadi kami ikut saja. Ternyata, manfaatnya sangat membantu sekali,” timpal Yulianus.
Dua anak mereka sebelumnya juga sudah menjadi peserta JKN-KIS. Kini keduanya berniat untuk mengurus lagi kepesertaan anak mereka yang ketiga.
Dengan rasa bangga Elisabeth menyampaikan terima kasih kepada BPJS Kesehatan yang telah merilis program JKN-KIS. Dia lun beterimakasih kepada pemerintah yang telah menanggung iuran setiap bulan.*** (eny)















