Kelompok Cipayung Desak Pemkab Sikka Lakukan Karantina Terpusat Penumpang Lambelu

0
171
Kelompok Cipayung Desak Pemkab Sikka Lakukan Karantina Terpusat Penumpang Lambelu
Salah seorang mahasiswa sedang berorasi, Minggu (5/4) di Pelabuhan Laurens Say Maumere, menolak kehadiran KM Lambelu

Maumere-SuaraSikka.com: Puluhan aktifis mahasiswa dari Kelompok Cipayung mendesak Pemkab Sikka melakukan karantina terpusat bagi penumpang KM Lambelu yang akan bersandar di Pelabuhan Laurens Say Maumere, Senin (6/4) besok.

Seruan ini disampaikan dalam aksi demo yang berlangsung di Pelabuhan Laurens Say, Minggu (5/4). Aksi di depan Kantor Bea Cukai Maumere itu sendiri akhirnya dibubarkan polisi karena tidak mengantongi izin keramaian.

Kelompok Cipayung yang terdiri dari aktifis PMKRI Maumere dan GMNI Maumere melayangkan 11 tuntutan. Dari 11 tuntutan tersebut, 1 tuntutan ditujukan kepada pemerintah pusat, dan 1 tuntutan ditujukan kepada PT Pelni.

Kepada pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan, Kelompok Cipayung mendesak untuk segera mengeluarkan surat larangan sementara terhadap pelayanan pelayaran kapal penumpang dan layanan maskapai penerbangan yang masuk ke Kabupaten Sikka.

Sementara tuntutan kepada PT Pelni yakni mendesak Pelni dan agen pelayaran penumpang untuk bertanggungjawab sepenuhnya jika penumpang yang ada di atas kapal terinfeksi Covid 19.

Tuntutan lain yakni mendesak pemerintah daerah setempat untuk secara tegas berkomitmen menolak berlabuhnya KM Lambelu di Pelabuhan Laurens Say.

Jika dipaksakan untuk berlabuh, Kelompok Cipayung meminta Pemkab Sikka berkoordinasi dengan Pelni Maumere agar berlabuh pada siang hari, sehingga proses pengawasannya lebih efektif.

Kelompok Cipayung juga menawarkan langkah-langkah solutif. Mereka meminta agar dilakukan pendataan secara detail dan menyeluruh terhadap para penumpang agar bisa diketahui tempat asal keberangkatan dan tujuan penumpang.

Satgas Covid Sikka diminta melakukan pengawasan semaksimal mungkin di pintu masuk dan pintu keluar, dan keluarga penumpang tidak diperbolehkan masuk untuk menjemput penumpang yang turun.

Selain itu, Kelompok Cipayung juga menyinggung penumpang yang bukan tujuan Kabupaten Sikka. Mahasiswa mendesak Pemkab Sikka berkoordinasi dengan pemerintah daerah lainnya di Flores dan Lembata, agar menyiapkan kendaraan khusus bagi penumpang ke daerah tujuan masing-masing.

Kelompok Cipayung juga mendesak Pemkab Sikka menyiapkan lokasi karantina terpusat bagi penumpang asal Kabupaten Sikka. Hal ini untuk memudahkan pengawasan selama masa karantina.

“Pemerintah tidak memperbolehkan para penumpang yang datang dari daerah terpapar Covid 19 untuk karantina mandiri di rumah. Pemerintah harus menyiapkan tempat untuk karantina terpusat agar bisa terkontrol dengan baik,” demikian salah satu solusi yang ditawarkan.

Pada bagian lain tuntutannya, aktifis mahasiswa ini mendesak Pemkab Sikka untuk segera mengadakan swab sebagai alat mendeteksi virus corona.

Aksi yang berlangsung sekitar pukul 15.30 Wita ini melibatkan puluhan aktivis mahasiswa. Mereka membawa sebuah spanduk besar dan berbagai poster yang isinya meminta penutupan sementara pelayaran kapal penumpang milik Pelni.

Tampak hadir Ketua PMKRI Maumere Yuliana Bara dan Ketua GMNI Maumere Alvinus Ganggung. Baru setengah jam aksi, mendadak aparat kepolisian datang dan membubarkan. Para aktifis mahasiswa digelandang ke Mapolres Sikka.

Hingga saat ini belum diketahui berapa banyak penumpang KM Lambelu yang besok malam akan turun di Maumere. Sebagai perbandingan, pada pelayaran minggu lalu, sebanyak 929 penumpang KM Lambelu yang turun melalui Pelabuhan Laurens Say Maumere.

Sebagaimana rute pelayaran, KM Lambelu bertolak dari Nunukan, Tarakan, Balikpapan, Makasar, Baubau, Maumere, Larantuka, Baubau, Makasar, Balikpapan, Tarakan, dan kembali ke Nunukan.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini