Kenapa Takut Kalau Ada yang Positip Covid?

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 14 Mei 2020 - 10:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 20 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengambilan swab beberapa waktu lalu

Pengambilan swab beberapa waktu lalu

Hari-hari belakangan ini masyarakat Kabupaten Sikka seperti resah dan gelisah. Semuanya menunggu kepastian hasil uji 71 sampel swab di Laboratorium di Kupang.

Sikka memang terbanyak mengirim sampel swab jika dibandingkan kabupaten lain di Propinsi NTT. Yah ini karena kesigapan memantau perkembangan pelaku perjalanan yang masuk ke Sikka.

Namun jumlah sampel swab yang banyak ini, semakin membuat masyarakat kuatir. Mulai muncul beragam spekulasi, mulai berandai-andai banyak di antaranya kemungkinan terpapar positip virus corona.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegamangan masyarakat ya wajar-wajar saja. Kuatir, takut, panik, beradu dari hari ke hari. Masyarakat tidak sabar menanti kepastian.

Satgas Covid Sikka punya banyak strategi menghadapi situasi buruk virus corona. Terutama langkah-langkah medis yang akan dilakukan untuk memutus matarantai penularan.

Soal kapasitas tampung ruang isolasi misalnya. Sekarang ini ruang isolasi di RSUD TC Hillers punya daya tampung 19 tempat tidur. Bagaimana jika yang positip lebih dari 19 orang?

Bupati Sikka pernah menyampaikan dengan penuh semangat satu strategi, saat rapat kerja dengan DPRD Sikka. Rencananya di setiap Puskesmas akan dibangun 2 ruang isolasi dari alokasi dana desa. Ada 13 puskesmas yang disiapkan.

Belakangan ada strategi lain lagi. RSUD TC Hillers bakal menjadi pusat penanganan medis pasien positip, jika ruang isolasi yang disiapkan tidak bisa menampung jumlah pasien positip.

Lalu bagaimana dengan pasien noncorona? Sudah diantisipasi. Satgas Covid Sikka sudah berkoordinasi dengan RS Lela dan RS Kewapante untuk ‘menghandel’ sementara.

Pertanyaan sederhana: apa yang ditakutkan dari orang yang positip corona? Apa yang membuat galau sehingga pasien noncorona harus dipindahkan ke Lela atau Kewapante?

Dalam satu kesempatan sharing tentang virus corona, Dokter Asep Purnama menyentil bahwa setiap pelaku perjalanan, orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP), harus dianggap positip corona.

Pesan ini menggambarkan perlu adanya sikap praduga bersalah kepada orang-orang dengan kategori di atas. Bukan hanya sikap, tetapi penanganannya pun harus dengan metode praduga bersalah.

Dan sejauh ini, sadar tidak sadar, penanganan yang dilakukan di Sikka, sarat mengandung prinsip-prinsip praduga bersalah.

Eks penumpang Lambelu dikarantina tidak hanya 14 hari. Setelah karantina terpusat, lanjut karantina mandiri, malah ada yang kembali lagi karantina terpusat.

Baca Juga :  49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Bahkan mereka harus berkali-kali menjalani rapid test. Awalnya hanya 3 yang reaktif. Lalu menyusul tambah 9 orang. Dan terakhir tambah lagi 38 orang.

Ketika muncul Klaster Gowa dan Klaster Magetan, Satgas Covid Sikka bertindak cepat. Pelaku perjalanan ikut disisir, apalagi yang datang dari zona merah. Semuanya ditampung di lokasi karantina terpusat, untuk memudahkan penanganan kesehatan.

Menurut informasi, hari ini akan diumumkan hasil uji 71 sampel swab dari Sikka. Bagaimana jika ada yang positip? Bagaimana jika jumlah positip lebih dari daya tampung ruang isolasi RSUD TC Hillers?

Saya membayangkan bagaimana sibuknya Pemkab Sikka dan Satgas Covid Sikka memindahkan ratusan pasien noncorona ke RS Lela dan RS Kewapante.

Saya membayangkan bagaimana sibuknya manajemen RS Lela dan RS Kewapante menerima pasien noncorona dari RSUD TC Hillers Maumere.

Ini bukan pekerjaan mudah. Ini bukan pekerjaan dalam 1-2 hari: simsalabim, semua beres.

Ini bukan seperti orang memindahkan beras dari satu gudang ke gudang yang lain. Ini urusan manusia. Ini urusan manusia yang sakit, dari yang sakit ringan hingga stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan lain-lain.

Itu baru dari sisi evakuasi. Bagaimana dengan sisi lainnya? Ketersediaan fasilitas misalnya. RSUD TC Hillers lebih lengkap. Ada fasilitas cuci darah, CT scan, rekam otak, dan lain-lain. Itu hanya ada di RSUD TC Hillers, tidak ada di RS Lela atau RS Kewapante.

Sulit membayangkan, jika begitu banyak pasien noncorona yang membutuhkan fasilitas yang hanya ada di RSUD TC Hillers. Artinya ada beban kerja yang baru bagi RS Lela dan RS Kewapante.

Di Kupang, pasien positip corona tidak dirawat di rumah sakit rujukan. Kecuali EA, pasien 01, mungkin karena ini yang pertama kali. Selebihnya, pasien positip corona dirawat di RS second line.

Di Manggarai Barat, 8 orang Klaster Gowa yang positip corona, dikarantina di rumah karantina yang disediakan pemerintah. Bergabung bersama 2 orang Klaster Gowa yang sebelumnya sudah dinyatakan positip. Lalu 1 orang dari Klaster Magetan melaksanakan karantina mandiri bersama keluarganya.

Dua contoh di atas menggambarkan bahwa pasien positip corona tidak perlu harus masuk ke ruang isolasi. Jadi, tidak perlu ada yang ditakutkan dari pasien positip corona, terutama dari sisi penanganan medis.

Baca Juga :  Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Nah, bagaimana nanti jika sampel swab dari Sikka ada yang positip?

Dari sisi medis, sejatinya tidak ada perubahan penanganan yang sangat berarti. Artinya, kalau tidak ada gejala atau gejala ringan, tidak perlu perawatan di RS Rujukan. Kecuali jika sesak napas, mengalami gejala sedang dan berat, itu yang harus dirawat di RS Rujukan.

RSUD TC Hillers sebagai RS Rujukan utama untuk merawat yang bergejala berat. Dengan demikan, RSUD TC Hillers masih bisa tetap melayani pasien noncorona.

Artinya, tidak perlu ada ketakutan yang luar biasa terhadap pasien positip corona. Apalagi sampai harus memindahkan ratusan pasien noncorona. Kalau masih ada masyarakat yang kuatir, di situlah pentingnya edukasi terus-menerus.

Strategi melawan penularan virus corona, masih tetap sama: pencegahan, pencegahan, dan pencegahan.

Seberapa banyak pun pasien positip, yang terpenting adalah pencegahan. Tanpa ada kesadaran dan upaya pencegahan secara bersama-sama, mustahil memutuskan matarantai penularan.

Karena itu sejatinya, yang perlu masyarakat merasa takut yakni jika semua orang lengah dan tidak menegakkan protokoler kesehatan. Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, inilah yang menjadi kewajiban utama masyarakat Kabupaten Sikka.

Satu hal yang penting dari pencegahan yakni penerapan karantina mandiri yang disiplin dan bertanggungjawab. Fasilitas karantina terpusat juga harus diupayakan ideal dengan memperhatikan protokoler kesehatan.

Satgas Covid Sikka sudah sejak awal menyiapkan dua lokasi karantina terpusat. Kalau pelaksanannya berjalan sudah cukup baik, tinggal dipertahankan dan ditingkatkan saja. Kalau memang belum ideal, itu yang harus menjadi perhatian serius.

Menunggu pengumuman hasil sampel swab Sikka, ada baiknya Satgas Covid Sikka memikirkan lagi karantina terpusat yang lebih bereferensi kepada protokoler kesehatan.

Kalau hasilnya di bawah 10 misalnya, boleh-boleh saja dirawat di RSUD TC Hillers, meskipun dengan gejala ringan.

Jika lebih dari kapasitas daya tampung di ruang isolasi, maka perawatan di lokasi karantina menjadi pilihan, dengan demikian pasien noncorona tidak perlu harus dikorbankan. Kecuali bagi yang bergejala berat wajib masuk ruang isolasi.*** (vicky da gomez)

Berita Terkait

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan
Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih
49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi
Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere
Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru