Kampung Kuliner dan Kebijakan “Kampungan”

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 17 Juni 2020 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 35 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Kabupaten Sikka secara resmi me-launching Jalan Merpati sebagai kampung kuliner. Penjabat Sekretaris Daerah Wihelmus Sirilus turun langsung meresmikan pada Senin (15/6).

Pengresmian ini berlangsung di tengah gencarnya pemerintah daerah setempat melakukan sosialisasi terkait pemberlakuan new normal di daerah itu.

New normal itu sendiri di Kabupaten Sikka, tidak jelas pola dan model pelaksanaannya. Bupati Sikka menerbitkan Instruksi yang mana pemberlakuannya mulai berjalan pada 29 Mei 2020.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun instruksi ini tidak ada nyali, karena Sikka tidak termasuk 102 kabupaten/kota di Indonesia yang diwajibkan melaksanakan new normal, sebagaimana keputusan Presiden.

Belum lagi, Gubernur NTT telah menjadwalkan new normal di NTT mulai berlangsung 15 Juni 2020. Itu artinya, yang terjadi di Sikka adalah pemaksaan secara politis dan pengangkangan terhadap kebijakan dari atas.

Kapolres Sikka geram karena harus menjalankan Instruksi Bupati tanpa ada waktu untuk sosialisasi. DPRD Sikka “marah”, lalu secara kelembagaan membuat surat kepada Bupati Sikka untuk meninjau kembali kebijakan new normal.

Jurubicara Satgas Covid Sikka mengaku tegas bahwa pencanangan Kampung Kuliner di Jalan Merpati tidak pernah dikoordinasikan dengan Satgas Covid Sikka. Yah, Satgas Covis Sikka berkepentingan memberikan usul saran, karena hadirnya Kampung Kuliner praktis membentum kerumunan baru.

Baca Juga :  49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Kembali kepada Kampung Kuliner di Jalan Merpati. Ketika disebut sebagai Kampung Kuliner, bayangan orang yakni bahwa selama ini di Jalan Merpati ada kesibukan kuliner selama 1×24 jam. Karena itu, pantas dan layak disebut sebagai Kampung Kuliner.

Ternyata faktanya tidak demikian. Jalan Merpati biasa saja setiap hari. Selama ini tidak ada kuliner yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Warga setempat sibuk dengan aktifitas dan rutinitas biasa.

Kalau pun ada, yah mungkin itu hanya 1-2 orang warga Jalan Merpati yang bisnis kuliner. Itu pun tidak setiap hari. Saya termasuk pelanggan setia dari 1-2 orang yang punya bisnis kuliner itu. Dan, belanjanya di dalam rumah, bukan di pinggiran jalan.

Jalan Merpati tempo doeloe, ada 1 keluarga etnis Tionghoa yang terkenal dengan kuliner khas Tionghoa. Rumahnya persis di pertigaan jalan bawah. Dagangannya enak-enak, ada kerupuk babi, roti babi, cak kwe, tewiang, dan banyak macam lagi. Bisnis kuliner ini laris manis waktu itu.

Sekarang ini, sudah tidak kelihatan lagi bisnis kuliner di rumah itu. Ibu yang pandai masak itu sudah usia uzur. Anak-anaknya sudah berkeluarga, pindah tinggal di tempat lain. Anak-anaknya mengembangkan bisnis ini dari rumah mereka masing-masing.

Baca Juga :  Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Merpati kini, di salah satu bagian jalan, malah jadi tempat kumpul. Hampir setiap hari terjadi kumpulan dalam banyak orang, bukan karena kuliner, tapi semacam ruang “pertemuan” untuk urusan yang tidak jelas.

Lalu, apa yang membuat Pemkab Sikka “tergila-gila” menjadikan Jalan Merpati sebagai Kampung Kuliner?

Kelihatan sekali, Pemkab Sikka tidak punya referensi yang valid untuk menjadikan Jalan Merpati sebagai Kampung Kuliner. Pemkab Sikka tergesa-gesa dengan sebuah kebijakan “kampungan” tanpa melalui kajian yang jitu.

Menjadikan Jalan Merpati sebagai Kampung Kuliner dengan basis data yang rendah, bacaannya bisa jadi sebagai upaya mempolitisir wilayah untuk kepentingan politik sesaat.

Pola-pola kebijakan “kampungan” model seperti ini, kian meruntuhkan wibawa pemerintah sebagai penyelenggara negara. Di satu sisi mengakomodir aspirasi tanpa ada kajian, di sisi lain mendiskriminasi wilayah, seperti Kampung Beru, yang lebih pantas disebut Kampung Kuliner.

Cepat atau lambat, Kampung Kuliner di Jalan Merpati akan mati sendiri. Kenapa? Karena dia tumbuh di atas pondasi yang tidak kuat. Dia muncul karena kepentingan sesaat, kalau tidak mau dikatakan kepentingan sesat.*** (vicky da gomez)

Berita Terkait

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan
Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih
49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi
Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere
Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru