Maumere-SuaraSikka.com: Fransiskus Jefris bersama istrinya tengah mempersiapkan kelahiran buah hati mereka. Buruh bangunan ini mengandalkan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) untuk membantu proses persalinan sang istri.
Pasangan suami istri ini sangat memahami penting dan manfaatnya program ini. Mereka tahu betul dampak positip program yang digalakan BPJS Kesehatan tersebut.
Itulah alasannya Fransiskus Jefris merasa nyaman dan tenang di tengah menyambut kehadiran buah hati. Dia tidak perlu kuatir dengan biaya persalinan, karena dia tahu JKN-KIS akan membiayai semuanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga Habigahar Desa Habi Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka Propinsi NTT ini sadar betul konsekuensi bagi dirinya ketika mengandalkan JKN-KIS untuk akses pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan saat proses persalinan.
Kuncinya, kata dia, hanya satu dan terutama, yakni KIS dalam keadaan aktif. Bagaimana supaya KIS tetap aktif, hanya dengan rajin membayar iuran setiap bulan.
Sebagai seorang buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu, Jefri demikian sapaannya, tidak merasakan terkendala melaksanakan kewajibannya.
Dia berusaha menyisihkan sedikit dari penghasilannya untuk membayar iuran. Setiap bulan, tepat waktu, buruh bangunan ini tertib mengansur iuran.
Jefri mengaku akan merasa nyaman dan tenang jika sudah membayar iuran.
“Saya tidak pernah tunggak pembayaran iuran JKN-KIS. Bagi saya, bayar iuran itu wajib. Kalau sudah bayar iuran, saya rasa tenang sekali,” ujar dia baru-baru ini.
Jefri mengatakan JKN-KIS merupakan modal penting sebagai jaminan kesehatan bagi dia dan keluarga. Karenanya, untuk urusan kesehatan, Jefri tidak perlu kuatir lagi, kecuali konsentrasi membayar iuran setiap bulan.
Untuk membayar iuran setiap bulan, seringkali Jefri alami kendala. Maklum, sebagai buruh bangunan, penghasilannya tergantung seberapa banyak dia terlibat dalam pekerjaan, terutama kegiatan proyek.
“Kadang-kadang susah juga dapat kerja di proyek. Apalagi situasi sekarang, tidak banyak proyek. Jadi saya harus pintar-pintar berusaha untuk menyelamatkan iuran setiap bulan,” ungkap dia.
Jefri menyadari bahwa rutin membayar iuran setiap bulan, bukan saja untuk kepentingan menunggu kehadiran buah hatinya. Lebih dari itu, untuk masa depan kesehatan dia san keluarga.
Selain itu, tambah dia, rutin membayar iuran, juga membuktikan dukungan dan kontribusi agar program yang bermanfaat ini terus berkesinambungan demi membantu banyak orang lain.
Jefri berharap program ini terus ditingkatkan, sambil perlu ada peningkatan pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan, sehingga mengeliminir kekecewaan peserta.
Terkait perubahan besaran iuran yang sudah terjadi beberapa kali, Jefri menanggapi dengan dingin. Dia mengaku tidak berpengaruh dengan munculnya perubahan besaran iuran. Alasannya sederhana, biaya iuran tidak sebanding dengan manfaat yang diterima peserta.*** (eny)















