Maumere-SuaraSikka.com: Epimia Sukarmi bersyukur menjadi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Dia pun bebas puluhan juta rupiah untuk biaya cuci darah.
Perempuan berusia 71 tahun ini, terdiagnosa menderita gagal ginjal sejak tahun 2019. Sejak saat itu, setiap dua kali dalam seminggu dia harus mendatangi Poliklinik Hemodialisa RSUD TC Hillers Maumere untuk melakukan cuci darah.
Biaya cuci darah cukup mahal. Dia dan keluarganya merasa kuatir memikirkan biaya cuci darah, apalagi harus dua kali dalam seminggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sukarmi – demikian panggilannya – tidak sanggup membayangkan dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk berkali-kali melakukan cuci darah.
Ternyata kerumitan itu, terjawab dengan kehadiran program JKN-KIS. Seluruh biaya pengobatan gagal ginjalnya, terbantu oleh sesama melalui program JKN-KIS. Jika dakumulasikan, sudah bisa menembus puluhan juta rupiah.
Alhasil, selama menjalani pengobatan untuk melakukan hemodialisa, perempuan ini sama sekali tidak mengeluarkan biaya sepeser pun, karena sepenuhnya sudah dijamin program JKN-KIS.
“Sangat bersyukur sekali dengan hadirnya program ini. Jika saya tidak terdaftar sebagai peserta, pasti saya dan keluarga terkendala dengan biaya. Dan bisa jadi, saya sudah tidak ada lagi di dunia ini,” ucap Sukarmi haru, sambil terbaring di atas tempat tidur rumah sakit, Jumat (20/8).
Sukarmi merupakan salah seorang peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) Kelas I. Iuran setiap bulanya dibayar sendiri oleh peserta.
Sambil terbaring, Sukarmi menceritakan bahwa dengan hanya bermodalkan KIS yang aktif karena dia rajin membayar iuran, semua pelayanan kesehatan berjalan lancar dan nyaman.
Perempuan ini lalu membayangkan iuran yang dia bayar setiap bulan dengan manfaat yang dia terima selama 1 tahun menjalani cuci darah.
“Iuran setiap bulan tidak sebanding dengan manfaatnya. Karena itu rasanya tidak ada beban lagi memikirkan biaya pengobatan jika sudah menjadi peserta JKN-KIS, dan rajin membayar iuran,” ungkapnya lega.
Dengan penuh haru dia menyampaikan terima kasih kepada peserta JKN-KIS yang rutin membayar iuran. Hemat dia, karena dari peserta aktif ini, antara lain dirinya bisa tertolong mengatasi biaya pengobatan.
“Saya bayar iuran, tapi itu tidak cukup membantu saya. Justeru karena kontribusi dari peserta aktif di seluruh Indonesia, maka saya bisa terbantu,” ungkap dia.
Sukarmi mengajak semua peserta JKN-KIS agar bertanggungjawab membayar iuran setiap bulan. Hanya dengan itu, kata dia, program JKN-KIS yang menganut prinsip gotong-royong ini menjadi bermanfaat bagi orang lain.*** (eny)















