Maumere-SuaraSikka.com: Nasib miris bakal dialami 4.010 anak stunting di Kabupaten Sikka. Pasalnya pemerintah daerah setempat hanya mengalokasikan anggaran pengadaan telur hanya untuk 15 anak stunting.
Anggaran yang digelontorkan dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 100 juta, dikelola pada Dinas Kesehatan Sikka. Alokasi anggaran itu termuat pada APBD 2021. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan protein seluruh anak stunting, Dinkes menghitung kebutuhan anggaran sebesar Rp 2,1 miliar.
Kepala Dinas Kesehatan Sikka Petrus Herlemus menjelaskan pihaknya mengusulkan Rp 2,1 miliar untuk pengadaan telur ayam bagi 4.010 anak stunting. Usulan anggaran disampaikan melalui Bapelitbang Sikka, untuk selanjutnya dibahas bersama Badan Anggaran DPRD Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Angka itu tidak sekedar muncul. Itu berdasarkan rapat bersama kepala bidang dan kepala seksi. Anggaran itu dimaksudkan untuk pemberian makanan tambahan stunting,” jelas dia.
Menurut Petrus Herlemus, pihaknya melakukan uji coba penanganan stunting dengan motode Kolombia. Uji coba dilaksanakan untuk 32 anak, dengan jangka waktu selama 6 bulan sejak Juni 2020. Dari hasil evaluasi, katanya, uji coba ini berhasil mencapai 96 persen.
“Ada 30 anak yang berhasil dengan metode Kolombia. Sementara 2 anak, belum mencapai maksimal, mungkin karena ada penyakit bawaan,” jelas dia.
Metode Kolombia, ujar dia, memfokuskan pemberian nutrisi yang cenderung kepada protein. Untuk itu, lanjut dia, telur yang sarat protein menjadi paling tepat sebagai makanan tambahan anak-anak stunting.
“Penanganan stunting merupakan program Presiden Jokowi. Tidak ada alasan tidak dianggarkan. Negara harus hadir di tengah masyarakat,” tegas dia.
Terkait masih rendahnya kontribusi anggaran untuk pengadaan telur bagi anak stunting, Petrus Herlemus mengaku sudah berkoordinasi lagi dengan Bapelitbang dan beberapa anggota DPRD Sikka.
Dia disarankan untuk mengajukan lagi anggaran pada Perubahan APBD 2021.*** (eny)















