

Maumere-SuaraSikka.com: Nasib apes usulan anggaran pengadaan telur untuk anak stunting. Setelah gagal mendapatkan dana alokasi umum (DAU), ternyata program ini juga tidak tersentuh melalui Dana Insentif Daerah (DID).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinas Kesehatan Sikka mengusulkan anggaran pengadaan telur sebesar Rp 2,1 miliar untuk masuk pada APBD 2021. Anggaran sebesar ini untuk kebutuhan nutrisi 4.010 anak stunting selama 6 bulan.

Kepala Dinas Kesehatan Sikka Petrus Herlemus menjelaskan untuk program pengadaan telur, DAU hanya mengalokasikan anggaran Rp 100 juta. Anggaran ini, kata dia, hanya bisa mengakomodir 15 anak stunting.
Setelah final pembahasan RAPBD 2021 yang bersumber dari DAU, Petrus Herlemus lalu berjuang mendapatkan anggaran yang bersumber dari DID. Kabupaten Sikka mendapatkan anggaran DID sebesar Rp 26.695.841.000.
Usulan Dinkes Sikka melalui Bapelitbang Sikka, yakni tambahan alokasi anggaran sebesar Rp 650 juta. Dalam pembahasan di Badan Anggaran, usulan ini tidak termuat pada rencana anggaran yang diusulkan pemerintah daerah setempat.
Untuk bidang kesehatan, pemerintah merencanakan sejumlah program kegiatan dengan anggaran Rp 7.060.000.000.
Usulan pemerintah meliputi pengadaan 3 unit mobil amrol Rp 1,5 miliar, pengadaan 10 unit kontainer Rp 600 juta, pengadaan 400 unit tong sampah Rp 160 juta, dan pembuatan 100 unit MCK individu Rp 450 juta.
Selanjutnya bantuan 200 unit rumah tidak layak huni Rp 3,5 miliar, pembangunan 2 unit bak air komunal di Palue Rp 700 juta, dan rehabilitasi sumur bor di Desa Heopuat Rp 150 juta.
Dalam perkembangan pembahasan bersama Banggar DPRD Sikka, beberapa item usulan dipertahankan. Sementara sejumlah item usulan dihilangkan, dan diganti dengan usulan baru dari anggota Banggar DPRD.
Final usulan program kegiatan di bidang kesehatan yang bersumber dari DID yakni sebesar Rp 7.728.000.000. Dalam usulan yang terbaru itu, tidak ada usulan anggaran untuk pengadaan telur bagi anak-anak stunting.
Usulan terbaru dan final yakni pengadaan 2 unit mobil amrol Rp 1 miliar, pengadaan 10 unit kontainer Rp 600 juta, pengadaan 400 unit tong sampah Rp 160 juta, dan pembuatan 100 unit MCK di sejumlah Puskesmas Rp 600 juta.
Berikutnya pembangunan Puskesmas Tualado Rp 2 miliar, pembangunan sumur bor Puskesmas Kewapante Rp 250 juta, rehabilitasi Puskesmas Glak Rp 250 juta, pengadaan 1 unit ambulance kepulauan Rp 600 juta,
rehabilitasi Puskesmas Bola Rp 350 juta, pengadaan fasilitas Pustu Koro Rp 250 juta, dan rehabilitasi Pustu Magetake Rp 150 juta.
Selanjutnya pembangunan 4 unit MCK Puskesmas Egon Gahar Rp 18 juta,
rehabilitasi Pustu Wolowiro Rp 650 juta,
pembangunan 2 unit bak air komunal di Palue Rp 700 juta, dan rehabilitasi sumur bor di Desa Heopuat Rp 150 juta.
Dari postur ini, terlihat bahwa usulan awal untuk bantuan 200 unit rumah tidak layak huni Rp 3,5 miliar, “disapubersih” untuk mengakomodir usulan anggota Banggar DPRD.
Petrus Herlemus telah mengomunikasikan kembali kepentingan anggaran pengadaan telur untuk 4.010 anak stunting. Sesuai anjuran Bapelitbang dan beberapa anggota DPRD Sikka, rencananya dia akan mengusulkan kembali pada Perubahan APBD 2021.*** (eny)















