Kisruh Aliran Gisi, Kemenag Sikka Sambangi Palue

0
473
Kepala Kantor Kemenag Sikka Herman Yoseph Reda Lete memimpin pertemuan terkait kisruh Aliran Gisi, Jumat (19/3) di Aula Kantor Kecamatan Palue (foto: istimewa)

Maumere-SuaraSikka.com: Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka menyambangi Kecamatan Palue di Kabupaten Sikka, menyusul kisruh Aliran Gisi (Gereja Injil Seutuh Internasional) yang terjadi di daerah itu.

Kepala Kantor Kemenag Sikka Herman Yoseph Reda Lete menjelaskan langkah itu dilakukan secepatnya agar konflik penyebaran Aliran Gisi di Palue tidak meluas secara horisontal.

“Harus secepatnya disikapi sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelas Herman Yoseph Reda Lete di Maumere, Sabtu (20/3).

Herman Yoseph Reda Lete bersama staf berangkat ke Palue, Jumat (19/3) pagi. Setiba di Palue, dia langsung menggelar pertemuan difasilitasi Camat Palue Laurensius Benediktus Lise.

Suasana pertemuan di Aula Kantor Kecamatan Palue, Jumat (19/3)

Pertemuan berlangsung di Aula Kantor Camat Palue, dihadiri seorang pengikut Aliran Gisi bernama Wandelinus Lunda, warga masyarakat yang menolak Aliran Gisi, serta tokoh masyarakat dan pemuka agama.

“Kami mengundang semua pengikut (Aliran Gisi), tapi yang hadir cuma 1 orang,” kata dia.

Untuk mengantisipasi reaksi masyarakat, pertemuan tersebut juga melibatkan sejumlah aparat kepolisian seperti Pejabat Sementara Kapolsek Nele, KBO Satintel Polres Sikka, dan Kapospol Palue.

Herman Yoseph Reda Lete menjelaskan pertemuan berlangsung kondusif. Dia mendengarkan informasi dari berbagai pihak.

Pada momen itu dia menyampaikan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.

Selain itu dia juga menyampaikan Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1979 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia.

Sejumlah warga mengikuti pertemuan terkait kehadiran Aliram Gisi (foto: istimewa)

“Prinsipnya, kehadiran agama harus menjaga kerukunan dan ketenteraman,” ujar dia.

Herman Yoseph Reda Lete memastikan Aliran Gisi merupakan salah satu denominasi Kristen yang legalitasnya diakui oleh negara.

Aliran Gisi terdaftar di Kanwil Kemenag NTT dengan tanda lapor tertanggal 21 Agustus 2017. Sementara di Kabupaten Sikka, Aliran Gisi diketahui masuk 25 Januari 2018.

“Di NTT saja ada 40 denominasi, termasuk Aliran Gisi,” kata dia.

Meskipun sudah diakui, kata dia, aktifitasnya harus sesuai regulasi. Untuk itu Herman Yoseph Reda Lete mengingatkan pemimpin dan pengikut Aliran Gisi untuk mempelajari peraturan dan keputusan dua menteri, sehingga tidak berdampak masalah di tengah masyarakat.

Pengikut Aliran Gisi di Kecamatan Palue sebanyak 6 kepala keluarga. Selain di Ladolaka, Aliran Gisi ini kini merambah juga ke Desa Maluriwu. Belum ada data pasti berapa jumlah detail pengikut aliran ini di Kecamatan Palue.

Jumlah pengikut terbesar, kata Herman Yoseph Reda Lete, berdomisili di wilayah Kelurahan Wailiti yakni sebanyak 72 orang. Aktifitas mereka selama ini berlangsung relatif aman, dipimpin seorang pendeta bernama Stefanus Sosu.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini