


Maumere-SuaraSikka.com: Frederikus Nino tidak saja bebas dari tuberculosis (TBC) yang dideritanya. Tapi dia juga bebas dari biaya kesehatan, berkat keaktifannya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).
Lelaki berusia 38 tahun ini pun menampakkan kegembiraannya. Dia tidak menyangka JKN-KIS memberikan manfaat yang besar seperti dia yang alami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Luar biasa sekali JKN-KIS. Saya bebas dari sakit, TBC bisa sembuh, dan bebas biaya lagi. Semua biaya sudah dijamin BPJS Kesehatan,” ujar dia bangga.
Petugas keamanan pada salah satu perusahaan di Kelurahan Nangameting Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka ini, lalu menceritakan pengalaman indahnya itu.
Kala itu Frederikus terkena TBC, penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia.
Gejala yang dialami Frederikus yakni sering batuk yang tidak kunjung sembuh. Terkadang batuknya mengeluarkan dahak berwarna seperti karat atau biasa disebut batuk darah. Kondisi itu dia alami kurang lebih 2 minggu.
Lalu istrinya mengajak dia berobat ke Puskesmas. Dari situ, dokter pada puskesmas lalu merujuk Fredrikus ke rumah sakit.
Setelah satu minggu rawat inap, Frederikus diperbolehkan pulang karena kondisinya semakin membaik. Setiap bulan dia harus rutin melakukan kontrol di Puskesmas.
Dalam masa pemulihan, dokter di rumah sakit menganjurkan Frederikus beristirahat selama 3 bulan di rumah. Hal ini mengingat TBC sangat cepat penularannya.
Selama perawatan di Puskesmas hingga rumah sakit, Frederikus mengaku mendapatkan pelayanan yang baik dari petugas medis dan dokter.
Dan yang membuat dia tidak habis pikir yakni masalah biaya kesehatan. Hanya bermodalkan KIS yang masih aktif, Frederikus tidak mengeluarkan biaya satu sen pun.
“Saya kaget waktu diberi tahu tidak ada biaya karena sudah dijaminkan oleh BPJS Kesehatan,” terang dia.
Frederikus mengaku waktu berobat ke Puskesmas, awalnya dia kuatir karena masalah biaya. Demikian pun ketika rawat inap di rumah sakit. Namun semua kekuatiran itu hilang berkat JKN-KIS.
Dia mengatakan tidak bisa membayangkan jika Program JKN-KIS tidak ada. Biaya perawatan yang mahal, kata dia, tentu saja sulit dijangkau dirinya yang berprofesi sebagai petugas keamanan dengan penghasilan pas-pasan.
“Kalau tidak ada JKN-KIS, pasti saya kesulitan membayar biaya pengobatan,” ujar dia.
Dari pengalaman itu, Frederikus mengaku sudah beberapa kali menggunakan KIS untuk berobat. Dan dia bersyukur karena program tersebut sangat bermanfaat. Frederikus pun mengucapkan syukur karena selama ini banyak mendapatkan kemudahan menjadi peserta JKN-KIS.
Frederikus berharap ke depan Program JKN-KIS terus berlangsung karena manfaatnya sangat besar bagi peserta. Tentu saja, kata dia, perlu mendapat dukungan luas dari semua pihak.
Dia menginginkan agar Program JKN-KIS bisa semakin memudahkan akses layanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia.*** (eny)
















