

Maumere-SuaraSikka.com: Warga masyarakat Kabupaten Sikka perlu belajar pencegahan demam berdarah dengue (DBD) dari Yasinta Yeni, warga Dusun Ratekalo Desa Bhera Kecamatan Mego di Kabupaten Sikka.
Perempuan ini mengambil keputusan cepat dan tepat saat mengetahui anaknya gejala panas. Tidak butuh waktu lama, dia segera membawa ke fasilitas kesehatan. Dia kuatir anaknya diserang DBD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Waktu periksa di Puskesmas Mego, anak saya dinyatakan DBD. Kemudian dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere,” cerita perempuan asal Kecamatan Koting yang bersuamikan laki-laki dari Ratekalo.
Yasinta Yeni kini mengaku senang karena kesehatan anaknya sudah mulai membaik setelah mendapatkan penanganan kesehatan.
Yohanes Ignasius Deni, 16 tahun, pelajar SMPN 3 Paga ini mengalami gejala panas tinggi sejak Jumat (8/1). Ibunya berkonsultasi dengan seorang bidan, dan disarankan membawa ke fasilitas kesehatan.
“Masuk rumah sakit tanggal 10 Januari, sekarang sudah mulai baik. Masih tunggu hasil hari ini, mungkin sudah bisa pulang,” tambah dia.

Pantauan media ini di Ruang Melati, Senin (17/1), Dokter Mario Nara, Spesialis Anak pada RSUD TC Hillers tampak sedang memeriksa perkembangan kesehatan Yohanes Ignasius Deni.
Usai memeriksa, Dokter Mario Nara sempat mengobrol dengan keluarga yang menjaga pasien ini.
Keputusan Yasinta Yeni dinilai sangat tepat. Pasalnya banyak orang tua yang “tertipu” sewaktu anak mengalami panas lalu mendadak berubah menjadi dingin.
“Banyak orang tua yang berpikir anaknya sudah sehat karena badan sudah dingin. Padahal bisa saja itu fase sok,” terang mantan Direktur RSUD TC Hillers Maumere Dokter Clara Francis beberapa waktu lalu.

Meningkat
Mario Nara menjelaskan perkembangan penanganan penyakit DBD di RSUD TC Hillers Maumere.
“Setiap hari selalu ada pasien DBD yang dirawat. Kemarin masuk lagi 3 orang,” ujar dia.
Data dari Bagian Rekam Medik RSUD TC Hillers Maumere, hingga Senin (17/1), sudah 51 pasien DBD yang dirawat di rumah sakit itu.
Dari jumlah itu, paling banyak adalah kelompok usia anak, yakni 42 orang. Sedangkan 9 pasien lainnya adalah orang dewasa.

Hingga siang tadi masih ada 10 pasien yang sedang dalam perawatan, yakni 7 di Ruang Melati, 2 di Ruang Mawar, dan 1 di Paviliun.
Kasus DBD di Sikka terus mengalami peningkatan. Pads minggu kedua Januari 2022 terdapat 1 kasus kematian, yang merupakan kasus pertama di tahun ini.*** (eny)















