
Maumere-SuaraSikka.com: Julie Sutrisno Laiskodat tidak henti-hentinya melakukan terobosan penting bagi penguatan ekonomi masyarakat kecil.
Terobosan terbaru yang dilakukan anggota DPR RI Fraksi Partai Nasdem itu yakni melakukan pelatihan budidaya kepiting lunak atau yang biasa disebut kepiting soka (scylla serrata).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelatihan budidaya kepiting lunak dilaksanakan selama 2 hari, Jumat-Sabtu (27-28/5), berlangsung di Aula Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka.
Kurang lebih 100 calon pembudidaya kepiting lunak hadir pada momen penting ini. Tidak hanya teori-teori budidaya, para calon pembudidaya kepiting lunak juga langsung melakukan praktik budidaya.
Model pelatihan dilakukan secara online, dengan Tim Pelatih dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Rinto Baptista selaku Staf Ahli Julie Laiskodat, menjadi koordinator kegiatan ini. Para calon pembudidaya kepiting lunak didampingi sejumlah penyuluh.
Mereka adalah Maria Fatima Timun, Imelda Conifransis Lodan, Ernawati Sengaji, Stanislaus Diri Lolan, Lusia Oktaviany Niron, Kornelius Orimus Ola, Apolonia Dua Nita, Agavitus Namang Jawa, Muhamad Faisal Yusuf, Brigitha da Iring Nong Meak, Angela Festiana, Mega Lestari, Sri Wahyuningsih, dan Samsudin.
Menurut Rinto Baptista, kegiatan pelatihan budidaya kepiting lunak merupakan pelatihan aspirasi bagi masyarakat.
Kegiatan ini terlaksana, jelas dia, sebagai respons Julie Laiskodat atas aspirasi yang disampaikan masyarakat pesisir di Kabupaten Sikka.
“Masyarakat pesisir meminta Ibu Julie memperhatikan kehidupan ekonomi mereka yang 2 tahun ini terlindas pandemi Covid. Setelah diskusi lebih jauh, kami sepakati kegiatan budidaya kepiting lunak,” terang Rinto Baptista.

Intervensi Anggaran
Rinto Baptista mengatakan budidaya kepiting lunak terbilang tidak mudah, karena membutuhkan lahan budidaya yang luas dan biaya yang tidak sedikit.
Namun, lanjut dia, apabila berhasil dilakukan hingga panen, hasilnya cukup menjanjikan. Apalagi, mengingat harga kepiting lunak di pasaran masih cukup tinggi, dengan jumlah peminat yang sama tingginya.
Dia berharap setelah pelatihan, bisa tebentuk kelompok-kelompok yang serius menekuni budidaya kepiting lunak.
“Untuk tahun ini Ibu Julie akan melakukan intervensi anggaran bagi 5 kelompok budidaya kepiting lunak. Semoga ini bisa dimaksimalkan oleh peserta pelatihan,” ujar dia.

Tindak Lanjut
Pankrasius Jatar, seorang peserta pelatihan menyambut baik kegiatan pelatihan budidaya kepiting lunak. Dia mengapresiasi Julie Laiskodat yang menaruh perhatian kepada potensi-potensi yang ada di pesisir laut.
Warga Likot Desa Hoder Kecamatan Waigete ini memastikan kondisi alam pesisir pantai dari wilayah Kecamatan Magepanda hingga Kecamatan Talibura sangat mendukung budidaya kepiting lunak.
“Dari kondisi alam, sudah sangat mendukung sekali. Pesisir pantai kita ditumbuhi mangrove, dan juga karakter pasir berlumpur yang menjadi habitat kepiting lunak,” ungkap dia.

Ketua Kelompok Nelayan Cinta Bahari ini mengakui selama ini nelayan belum memiliki kemauan budidaya kepiting. Masalah terutama, kata dia, karena masyarakat belum memahami secara teknis model pembudidayaan yang baik dan benar.
Kendala lain, papar dia, masyarakat pesisir mengalami keterbatasan sarana prasarana pendukung.
“Yang paling kendala adalah modal. Kami tidak punya cukup finansial untuk budidaya kepiting,” ujar dia.
Karena itu, Pankrasius Jatar berharap pelatihan budidaya kepiting lunak yang diinisiasi Julie Laiskodat, mesti ada tindak lanjut yang lebih serius.
Dia berharap pelatihan-pelatihan seperti ini harus terus-menerus dilakukan, sehingga masyarakat pesisir benar-benar memahami budidaya kepiting lunak.
Selain pelatihan yang terus-menerus, Pankrasius Jatar berharap Julie Laiskodat melakukan intervensi anggaran sebagai modal usaha bagi pembudidaya kepiting lunak.*** (eny)















