
Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 172 anak saat kini tinggal di SOS Children’s Villages Flores yang terletak di Jalan Raya Magepanda di Waturia, 14 kilometer dari Kota Maumere.
Mereka hidup senang dan tenang dalam sebuah komunitas yang sangat kental dengan nilai persaudaraan dan kekeluargaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian besar mereka berada di dalam lingkungan ini untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka datang dengan latar belakang persoalan yang beragam.
Semangat ini sejalan dengan hadirnya SOS Children’s Villages sejak tahun 1949, yakni mendukung hak hak anak.
“Anak-anak yang diasuh di sini, itu karena kehilangan pengasuhan orang tua, atau berisiko kehilangan pengasuhan orang tua,” demikian Novita Irawaty Tanjung selaku Deputy Director Fund Development & Communications SOS Children’s Village Indonesia.
Usia anak-anak yang berada pada SOS Children’s Village Flores bervariasi. Paling muda berusia 1,4 tahun, dan yang paling tinggi berusia 23 tahun.
Sebagian besar mereka adalah anak-anak yang berasal dari Kabupaten Sikka. Ada juga yang berasal dari daratan Flores dan Lembata.

Demikian pun lama tinggal, juga berbeda-beda. Finto misalnya, baru 2 tahun. Lain lagi dengan Theresia yang sudah 7 tahun. Sementara Elisabeth mengaku sudah 8 tahun.
“Senang, seperti tinggal di rumah sendiri,” kesan Finto, 14 tahun, yang mengisinliburan sekolah dengan menyapu halaman di sekitar Aula SOS Children Villages Flores, Kamis (23/6).
Pilihan keluarga untuk menitipkan anak-anak berada di bawah pengasuhan SOS Children’s Villages Flores, sangatlah tidak salah.
Pasalnya, organisasi nonprofit terbesar di dunia ini, aktif dalam mendukung hak-hak anak dan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak-anak tersebut.
Tiga fokus utama yang menjadi perhatian SOS Children’s Village Indonesia yakni pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan.

Pengasuhan Berbasis Keluarga
Sepintas, pola pengasuhan pada SOS Children’s Village Indonesia mirip seperti panti asuhan. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, tampak sekali terdapat perbedaan.
Keunggulan sekaligus yang menjadi pembeda dengan panti asuhan, yakni model pengasuhan berbasis keluarga.
Di Waturia, SOS Children’s Village Flores memiliki 15 rumah tinggal. Setiap rumah tinggal dihuni 8-10 anak.
Pada rumah tinggal terdapat fasilitas sebagaimana rumah warga pada umumnya, seperti ruang tamu, kamar tidur, ruang belajar, dapur, juga kamar mandi dan toilet.

Keunikan dari SOS Children’s Village Indonesia, termasuk di Flores, yakni hadirnya seorang inang pengasuh pada setiap rumah tinggal. Inang pengasuh ini berperan layaknya sebagai ibunya anak-anak.
“Setiap hari saya harus mengatur kehidupan anak-anak, dari urusan di rumah, sekolah, kebutuhan mereka, dan banyak macam, seperti urus anak-anak sendiri,” ungkap Ansel, seorang inang pengasuh di rumah tinggal F-8.
Perempuan asal Kecamatan Nita ini dipanggil Ibu Ansel. Dia sudah bekerja selama 17 tahun di SOS Children’s Village Flores. Hidupnya dia abdikan untuk mengurus anak-anak asuhan.
“Bagi saya, ini sudah menjadi panggilan hidup,” tutur dia.
Dua Program
SOS Children’s Village didirikan pada tahun 1949 di Austria. Lembaga ini hadir pada 36 negara. Di Indonesia, SOS Children’s Village mulai aktif sejak tahun 1972.
Terdapat 11 lokasi kerja di Indonesia, yakni di Lembang, Jakarta, Semarang, Bali, Flores, Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Bogor, Yogyakarta dan Palu.
SOS Children’s Village Flores aktif sejak tahun 1996, menyusul peristiwa gempa dan tzunami pada 12 Desember 1992 yang melanda Kabupaten Sikka, Ende, dan Flores Timur. Kala itu sebagian besar penghuni SOS Children’s Village Flores merupakan anak-anak korban bencana.

Antonius Sugihartono, Operational Director SOS Children’s Villages Indonesia kini dipercayakan menjadi Village Director SOS Children’s Village Flores. Dia didampingi Gregorius Yacob Mateus selaku Educator SOS Children’s Village Flores.
Secara kebetulan Antonius Sugihartono dan Gregorius Yacob Mateus, sebelum menjadi pria dewasa yang mandiri, sebelumnya mereka juga besar dan bertumbuh kembang dari SOS Children’s Village Lembang.
Dalam rangka memastikan setiap anak mendapatkan pengasuhan terbaik di lingkungan keluarga, SOS Children’s Village menjalankan dua program utama yaitu SOS Family Care (SFC) dan Family Strengthening Program (FSP).
Dua program ini melandaskan prinsip penting yakni memastikan setiap anak yang terdampak dan rentan tetap mendapatkan hak-haknya.
Untuk menjalankan program secara baik demi terpenuhinya hak-hak anak, SOS Children’s Village Indonesia tidak bisa kerja sendirian. Mereka membuka misi kemanusiaan ini bagi siapa saja, baik dalam bentuk perorangan maupun lembaga, ikut ambil bagian dan partisipasi dalam bentuk donasi maupun donatur tetap.*** (eny)















