
Maumere-SuaraSikka.com: Bhayangkari Sikka menggelar seminar dan deteksi dini kanker payudara dan penyakit tidak menular, Rabu (29/6) di Aula Polres Sikka.
Berbagai jenis penyakit ini, khususnya kanker payudara sangat rentan terjadi di Kabupaten Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini disebut dengan bakti kesehatan, dilaksanakan dalam rangka memperingati
Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari, yang tahun ini berusia ke-70.
Tampil sebagai narasumber yakni Maria Sunvratys, seorang dokter yang saat ini bertugas pada Puskesmas Wolomarang.
Peserta kegiatan sebanyak 48 orang, dari berbagai organisasi wanita, seperti Bhayangkari Sikka, Persit Candra Kirana, Jalasenastri, dan pengurus Yayasan Bhayangkari Sikka.
Tampak hadir Ketua Jalasenastri Sikka Ekamagdalina Yoga, yang merupakan istri dari Danlanal Maumere Kolonel (P) Dwi Yoga.

112 Kasus, 32 Meninggal
Kanker payudara menempati urutan pertama terkait jumlah kanker terbanyak di Indonesia serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker.
Di Kabupaten Sikka, data tahun 2022 menunjukkan kanker payudara berjumlah 112 kasus, dengan 32 kasus kematian.
Angka ini terbilang cukup tinggi. Sementara itu, informasi atau pun sosialisasi sebagai upaya pencegahan, masih sangat rendah.
Inilah yang kemudian mendorong Bhayangkari Sikka melaksanakan seminar, sekaligus deteksi dini.
“Yang kami ikuti, di sini kebanyakan deteksi dini kanker serviks, sedangkan kanker payudara belum sama sekali. Sehingga muncul ide melakukan seminar deteksi dini kanker payudara, juga penyakit tidak menular lainnya,” ujar Ayu Nelson selaku Ketua Bhayangkari Sikka.

Saat ini, kata Ayu Nelson, seminar dan deteksi dini masih bersifat internal dengan melibatkan organisasi wanita dari lingkup TNI/Polri. Nantinya juga akan dilaksanakan bagi masyarakat umum lainnya.
“Tentu saja kami membutuhkan dukungan dari semua pihak, seperti Dinas Kesehatan, dan juga masyarakat,” ujar istri Kapolres Sikka itu.

Sangat Penting
Ayu Nelson menjelaskan deteksi dini sebuah penyakit merupakan tindakan yang sangat penting bagi setiap orang.
Deteksi dini, sebut dia, sebagai pemeriksaan awal untuk mengetahui adanya faktor risiko, baik pada penyakit payudara maupun pada penyakit tidak menular lainnya.
“Perlu ada pemeriksaan lebih awal, sehingga kalau berisiko misalnya, bisa follow up kesehatan ke rumah sakit atau puskesmas,” jelas dia.
Tampak para peserta kegiatan bakti kesehatan mengikuti deteksi dini. Sebelum deteksi dini, terlebih dahulu mereka melengkapi sejumlah persyaratan administrasi.
Ayu Nelson yang juga seorang dokter gigi, ikut terlibat bersama petugas kesehatan lainnya, melakukan verifikasi administrasi peserta yang akan mengikuti deteksi dini.*** (eny)















