
Maumere-SuaraSikka.com: Rabies sedang mengancam warga Kabupaten Sikka. Ironinya stok vaksin anti rabies (VAR) di daerah itu justeru sedang kosong.
Kasus terakhir gigitan anjing terjadi beberapa hari lalu di Kelurahan Kota Uneng Kecamatan Alok. Anjing jantan berusia 3 bulan itu kemudian berhasil dibunuh. Kepala anjing lalu dikirim ke Balai Besar Veteriner (BB Vet) di Denpasar untuk dilakukan pemeriksaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil pemeriksaan BB Vet Denpasar menunjukkan sampel otak anjing yang dikirim dari Kabupaten Sikka dipastikan positip rabies.
Kepala Dinas Pertanian Yohanes Emil Satriawan yang dihubungi Kamis (30/6) malam, membenarkan telah terjadi kasus gigitan anjing di Kelurahan Kota Uneng.
“Ya betul, ada kasus gigitan. Sampel-nya kita sudah kirim ke Denpasar. Tadi baru dapat informasi, ternyata anjing tersebut positip rabies,” jelas pria yang biasa disapa Jemmy Sadipun.
Jemmy Sadipun menjelaskan korban gigitan sudah mendapatkan penanganan secara medis, termasuk mendapatkan vaksin anti rabies.

VAR Kosong
Pada bagian lain Jemmy Sadipun menjelaskan korban gigitan anjing di Kelurahan Kota Uneng, terpaksa dilarikan ke Puskesmas Waigete untuk mendapatkan penanganan kesehatan.
Masalahnya, kata dia, karena Puskesmas Beru sebagai puskesmas terdekat dari lokasi kejadian, dan termasuk salah satu Rabies Center, ternyata tidak memiliki stok VAR.
Puskesmas Waigete yang juga salah satu Rabies Center, rupanya masih memiliki stok VAR, meskipun tidak banyak. Sehingga korban dibawa ke Puskesmas Waigete untuk mendapatkan penanganan.
Jemmy Sadipun mengaku prihatin karena saat kini stok VAR di Kabupaten Sikka kosong.
“Kalau pun ada stok, tidak banyak. Kami sedang berupaya meminta stok VAR dari luar,” jelas dia.
Jemmy Sadipun mengatakan dalam waktu dekat ini dia akan bersurat ke Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk meminta bantuan VAR.
Dia mengaku pernah bersurat ke Dinas Pertanian Propinsi NTT untuk meminta bantuan VAR. Namun hingga kini belum ada bantuan dari propinsi.
Menurut hemat dia, mungkin saja Dinas Pertanian Propinsi NTT juga sedang mengalami kekosongan stok VAR. Karena itu Jemmy Sadipun lebih memilih bersurat ke Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.*** (eny)















