
Maumere-SuaraSikka.com: Sebuah keanehan terjadi pada rencana pembangunan menara lonceng. Meski dana pembangunan tidak ada, tapi Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo nekad melakukan peletakkan batu pertama.
Koordinator Forum Kota Maumere Emilianus Yulfrid Naga mengaku aneh dengan konsep pembangunan menara lonceng yang terkesan buru-buru dan tidak punya perencanaan yang jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini kan aneh, uang tidak ada tapi nekad peletakkan batu pertama. Pantasan, sudah 5 bulan ini tidak ada progress,” ketus dia.

Mantan Ketua GMNI Sikka ini menduga ada sesuatu hal yang tidak beres ketika konsep belum matang, dana pembangunan belum ada, tapi justeru nekad lakukan peletakkan batu pertama.
“Ini hanya pencitraan semata,” kesan dia saat orasi di Kantor Bupati Sikka, Kamis (7/7) pekan lalu.
Sebelumnya, keanehan ini juga diungkapkan Wakil Bupati Sikka Romanus Woga dalam sidang paripurna DPRD Sikka dengan agenda Keterangan Pemerintah terhadap Pemandangan Umum Fraksi atas Pidato Bupati Sikka tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2021.
Wabup Sikka mengatakan satu minggu setelah peletakkan batu pertama, dia mendapat telepon dari Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera, yang menyampaikan akan ke Labuan Bajo untuk mempresentasi proposal pengajuan dana pembangunan menara lonceng.
“Saya bilang sama Sekda, seharusnya urus dulu proposal, baru peletakkan batu pertama,” cerita Wabup Sikka.
Sumber Dana Tidak Jelas
Menara lonceng yang direncanakan dibangun di Gelora Samador da Cunha Maumere, diperkirakan akan menelan biaya Rp 12 miliar, sebagaimana laporan Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera selaku Ketua Panitia Pembangunan Menara Lonceng pada acara peletakkan batu pertama.
Saat itu Adrianus Firminus Parera membeberkan biaya pembangunan bersumber dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten Sikka, Program Corporate Social Responsibility, para donatur, dan masyarakat luas yang dapat menyumbang secara sukarela.
Dalam waktu 5 bulan, seiring mangkraknya pembangunan menara lonceng, sumber dana pembangunan juga berubah, tidak persis seperti laporan Ketua Panitia Pembangunan Menara Lonceng.
Sebagaimana dokumen Keterangan Pemerintah terhadap Pemandangan Umum Fraksi atas Pidato Bupati Sikka tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2021 tertanggal 30 Juni 2022, biaya pembangunan menara lonceng bersumber dari Pemerintah Daerah, BUMN/BUMD, Lembaga/Badan Usaha yang berbadan hukum maupun masyarakat.
“Sampai dengan saat ini telah ditetapkan Peraturan Bupati Sikka tentang Penyelenggaraan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (PTSL) yang bertujuan agar Badan Usaha/Lembaga dapat memberikan kontribusi dalam mendukung pembangunan daerah,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut.
Sebagaimana diketahui, peletakkan batu pertama pembangunan menara lonceng dilakukan pada 2 Pebruari 2022 lalu. Seremoni peletakkan batu pertama dan penandatanganan prasasti dilakukan Bupati Sikka bersama Uskup Maumere.
Namun hingga kini, 5 bulan lebih, tidak ada aktifitas apapun pada megaproyek senilai 12 12 miliar itu.
Uskup Maumere saat peletakkan batu pertama mengingatkan agar pembangunan menara lonceng tidak boleh mangkrak.*** (eny)















