
Maumere-SuaraSikka.com: GMNI Sikka menyebut PT Pelni Maumere sebagai institusi negara yang mengelola lahan bisnis liar terhadap rakyat.
Modus yang dilakukan BUMN ini yakni praktik pungutan liar (pungli) pada penjualan tiket tambahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dugaan pungli di Kantor Pelni Maumere disampaikan GMNI Maumere ketika mereka menggelar aksi di Kantor Pelni Maumere, Selasa (2/8).
Aktifis GMNI Maumere beralasan mereka mengetahui terjadinya dugaan pungli setelah Tim Advokasi GMNI Sikka melakukan investigasi khusus selama 3 hari.
Dari investigasi, GMNI Sikka menemukan adanya kejanggalan harga tiket. Pasalnya, besaran harga tiket yang dijual, jauh berbeda dengan besaran harga tiket yang tertera pada papan informasi Pelni Maumere berdasarkan PM Perhubungan Nomor 109 Tahun 2017.
Diduga kuat, tiket yang dijual dengan harga lebih tinggi, merupakan tiket tambahan. Tiket tambahan ini, seru GMNI Sikka, menjadi alasan PT Pelni Maumere menaikkan harga tiket dari harga sebenarnya.
“Tim Advokasi GMNI suatu waktu pernah ingin membeli tiket kapal. Namun seorang pegawai mengatakan tiket sudah habis, tapi bisa dibantu dengan tiket tambahan. Justeru tiket tambahan itulah muncul modus pungli, karena harganya lebih tinggi dari harga normal,” ujar seorang orator GMNI Sikka.
GMNI Sikka memberi contoh praktik pungli penjualan tiket tambahan KM Lambelu. Untuk rute Maumere-Balikpapan, harga tiket sebesar Rp 414.000 per orang dewasa. Namun tiket tambahan untuk rute yang sama, dijual dengan harga Rp 500.000/per orang dewasa.
“Jika dugaan pungli ini benar terjadi maka BUMN melalui PT Pelni Maumere telah melalukan pengkhianatan terhadap cita-cita Prokalmasi 1945 dan amanat reformasi 1998,” ujar si orator.
Massa aksi GMNI Sikka membawa serta sebuah poster yang bertuliskan PT Pelni Maumere Lahan Bisnis Liar Negara Terhadap Rakyat.
Menurut GMNI Sikka, kalimat tersebut sangat pantas disematkan jika terbukti terjadi pungli dalam penjualan tiket.
Altifis mahasiswa ini berorasi sejak pukul 10.00 Wita. Mereka menuntut antara lain bisa bertemu Kepala Pelni Maumere untuk menyampaikan dugaan pungli penjualan tiket.
Setelah 2 jam berorasi, GMNI Sikka kemudian diundang ke dalam Kantor Pelni Maumere untuk beraudiens. Kepala Pelni Maumere mewakilkan seorang pegawai untuk berdialog bersama GMNI Sikka.
GMNI Sikka menolak beraudiens dengan pegawai yang mewakili Kepala Pelni Maumere. Mereka ingin bertemu langsung pimpinan kantor tersebut. Audiensi dua pihak ini pun akhirnya tidak terjadi.
Wakil Kepala Bidang Oganisasi GMNI Sikia Andre Ledang kecewa karena Kepala Pelni Maumere tidak bersedia audiens.
“Jangankan pertanggungjawabkan dugaan kasus pungli sesuai tuntutan GMNI Sikka, ini audiens saja Kepala Pelni Maumere tidak mau. GMNI menilai beliau tidak layak menjadi pemimpin,” ketus Andre Ledang.
Gagal bertemu Kepala Pelni Maumere, bukannya menyurutkan semangat GMNI mencegah dan memberantas pungli di Kantor Pelni Maumere.
Pata aktifis mahasiswa ini menegaskan mereka akan datang lagi minggu depan dengan sikap dan tuntutan yang sama.
“Dalam minggu ini kami akan datang lagi, dan harus beraudiens dengan pimpinan,” ujar Andre Kedang.
Sementara itu manajemen Pelni Maumere berjanji akan membuat surat resmi mengundang GMNI Sikka beraudiens bersama Kepala Pelni Maumere.
Ketua GMNI Sikka Yoman Maro memastikan jika dalam satu minggu ini tidak terjadi audiens, maka GMNI Sikka akan mengerahkan massa yang lebih banyak lagi.*** (eny)















