


Maumere-SuaraSikka.com: Sebuah penelitian etno-astronomi di Kabupaten Sikka, kini sedang digiatkan. Sasaran penelitian pada 3 suku yakni Tidung Bajo, Sikka Krowe, dan Lio.
Penelitian etno-astronomi dilakukan Adi Jufriansah, seorang dosen pada IKIP Muhammadiyah Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini kaitannya dengan astronomi kebudayaan. Kami ambil 3 suku yang letak geografis berada di pesisir pantai,” demikian penjelasan Adi Jufriansyah selaku Kepala Pusat Studi Astronomi (PUDIASTRO) IKIP Muhammadiyah Maumere, Selasa (9/8) malam.
Penelitian etno-astronomi, jelas dia, lebih cenderung kepada kearifan lokal yang terdapat pada 3 suku tersebut. Kearifan lokal terkait astronomi memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan pada era sains modern.
Dia mengatakan ilmu astronomi memiliki relasi yang kuat dengan budaya masyarakat. Dulu, kata dia, masyarakat telah memiliki wawasan tentang benda-benda angkasa, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.
Bahkan, lanjut dia, banyak sekali cerita rakyat atau kearifan lokal yang berangkat dari ilmu astronomi.
“Di ilmu astronomi, kalau ada 1 bintang yang mendekati bulan, itu disebut konjungsi. Nah, fakta ini, oleh masyarakat dipercayai akan ada peristiwa kawin lari pada malam itu,” ujar dia.

Dalam kaitan dengan etno-astronomi, kata Adi Jufriansyah, penelitian yang dilakukan antara lain untuk mempertahankan dan melestarikan cerita-cerita rakyat yang hadir di bumi ini jauh sebelum berkembangnya ilmu astronomi.
Hasil penelitian, ujar dia, akan dibuat dalam berbagai bentuk, seperti video dokumenter dan penerbitan buku.
Menurut rencana penelitian etno-astronomi pada 3 suku di Kabupaten Sikka akan selesai pada Nopember 2022 ini.
Untuk memperlancar penelitian, Adi Jufriansyah melibatkan sejumlah lembaga seperti Pusat Studi Astronomi IKIP Muhammadiyah Maumere, Pendidikan Fisika IKIP Muhammadiyah Maumere, Pusat Studi Astronomi Universitas Ahmad Dahlan Yogjakarta, BMKG Sikka, dan Komunitas Langit Sikka.
Dia sangat berharap penelitian yangbakan dilakukannya mendapat dukungan penuh dari para sesepuh adat Tidung Bajo, Sikka Krowe, dan Lio, yang kelak menjadi narasumber utama.

Workshop
Ilmu astronomi, termasuk etno-astronomi, bisa jadi merupakan sesuatu yang belum familiar di kalangan masyarakat Kabupaten Sikka.
Untuk itulah, di tengah kesibukan melakukan penelitian, Adi Jufriansyah menggelar workshop yang berlangsung di MIS Muhammdiyah Wuring di Kelurahan Wolomarang Kecanatan Alok Barat, Selasa (9/8).
Workshop ini mengangkat tema Masyarakat Adat Sedunia dan Pengamatan Langit Malam. Hadir antara lain Wakil Rektor 1 IKIP Muhammadiyah Maumere Mohammad Fitri dan sejumlah pendidik di kampus itu.
Workshop ini juga menghadirkan Yudhiakto Pramudya, seorang dosen Pendidikan Fisika dan Kepala Pusat Studi Astronomi (PASTRON) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Sejumlah mahasiswa IKIP Muhammdiyah Maumere, puluhan pelajar dan masyarakat Wuring terlibat serius pada workshop. Apalagi ketika sesi dokumenter tentang potret nelayan yang menjadikan bulan sebagai navigator.
Workshop ini antara lain untuk mengenalkan ilmu astronomi kepada guru dan siswa, termasuk mengenalkan alat peraga pengamatan langit malam.*** (eny)















