
Liga 3 ETMC XXXI Tahun 2022 di Kabupaten Lembata, kini sudah memasuki babak 16 besar. Sebanyak 8 laga seru akan disajikan selama 2 hari, Senin-Selasa (19-20/9).
Satu laga yang tidak mungkin terlewatkan yakni bigmatch antara tim tuan rumah Persebata Lembata dan tim juara bertahan PS Malaka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lembata dan Malaka dijadwalkan bertarung di GOR 99 Lewoleba, Senin (19/9). Wasit akan meniup pluit kick-off pada pukul 14.30 Wita.
Lembata melangkah ke babak 16 besar sebagai status juara Grup B dengan koleksi 7 poin hasil dari 2 kali menang dan 1 kali kalah.
Sedangkan Malaka hanya menduduki posisi peringkat ketiga Grup A. Malaka tembus ke babak berikut karena menjadi peringkat ketiga terbaik kedua.
Nasib Malaka menjadi beruntung setelah mendapat suntikan napas baru usai menjinakkan Persami Maumere pada laga terakhir.
Dari tiga kali pertandingan pada babak penyisihan, grafik Lembata sedikit lebih baik dari Malaka.
Lembata mencatat dua prestasi. Pertama, tim ini belum mengalami kekalahan. Prestasi lain, gawang Yulius Betekeneng baru 2 kali kebobolan.
Ini menunjukkan barisan pertahanan Lembata masih cukup solid dan ampuh menahan laju serangan lawan.
Arsenus Ola, jenderal tim sekaligus koordinator pertahanan, sangat baik berkolaborasi dengan Wihelmus Sanga Kobun, Yohanes Kopong, dan Sebastianus Wetu.
“Keangkuhan” tim tuan rumah hanya bisa dilawan Malaka dengan produktifitas gol. Lembata dan Malaka sama-sama menjaringkan 4 gol.
Trisula genit juara bertahan Rikard Bilardo Bere, serta dua kakak beradik Dwikie Mateus Jehaman dan Yohanes Joko Jehaman, sejauh ini cukup cerdas merobek pertahanan lawan.
Bentrok Lembata dan Malaka, boleh dibilang sebagai pertemuan bergengsi karena status mereka. Satunya tim tuan rumah, satu lagi tim juara bertahan.
Jelang technical meeting dan penarikan undian grup, wacana tentang partai perdana antara Lembata dan Malaka sudah ditiupkan ke tengah publik Bumi Sembur Paus.
Entah dari mana sumbernya, wacana ini terasa kuat sekali. Bahkan sempat hinggap di telinga Penjabat Bupati Lembata.
Untung saja sang penjabat tidak terpengaruh dengan kehendak kaum tidak jelas yang meniup wacana ini. Dia menyerahkan mekanisme pada pertemuan teknis.
Rupanya wacana ini akhirnya terwujud pada babak 16 besar. Lembata dan Malaka harus bertemu pada babak yang krusial dengan sistem gugur.
Mau tidak mau, suka tidak suka, entah Lembata, entah Malaka, pada akhirnya harus angkat kaki dari turnamen.
Malaka datang ke Lewoleba, dengan dua spirit galak. Mereka menyerukan semangat “datang bawa piala, pulang bawa piala”.
Tiga pertandingan yang sudah dilewati pada babak penyisihan, membuktikan bahwa spirit ini masih ampuh dibanggakan.
Sempat kehilangan muka pada 2 pertandingan, Malaka baru bisa bangkit pada pertandingan terakhir. Itu pun melawan Persami Maumere yang bertanding tanpa visi.
Satu lagi spirit yang kuat melekat yakni mematahkan tradisi tuan rumah juara. Malaka bukan anti tim tuan rumah. Tapi mereka lebih kepada perlawanan akan jargon jago kandang.
Malaka ingin membuktikan bahwa prestasi yang direngkuh pada ETMC 2019 ketika digelar di Kabupaten Malaka, bukan karena faktor tuan rumah.
Lembata menjadikan babak 16 besar ini sebagai pertaruhan gengsi, terlebih karena berhadapan dengan juara bertahan.
Ada tantangan tersendiri ketika berhadapan dengan juara bertahan. Dan Lembata sedang termotivasi untuk menggoyang sang juara bertahan. Memulangkan juara bertahan, tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri.
Gengsi lain, karena Lembata harus bermain di depan publik sendiri. Hampir pasti ribuan pendukung Lembata akan memadati GOR 99 Lewoleba. Venue utama itu bakal berubah warna menjadi biru.
Sama seperti Malaka, Lembata kini juga diganggu dengan jargon jago kandang. Sebagai tim tuan rumah, Lembata bisa saja mendapat kemudahan-kemudahan secara teknis.
Publik boleh saja berasumsi demikian. Tapi secara fakta, Lembata justeru sering kali dirugikan oleh keputusan wasit. Pelatih dan Asisten Pelatih Lembata pernah melakukan protes keras kepada Pengawas Pertandingan.
Jelang satu hari bigmatch ini, Pelatih Kepala Malaka Adrianus Bria Seran dan Pelatih Kepala Hasan Wahar jelas konsentrasi penuh memeras otak. Dua pelatih bertangan dingin ini harus meracik sebuah kualitas tim untuk memenangkan pertandingan.
Adrianus Bria Seran terbukti telah membawa Malaka sukses pada beberapa edisi ETMC. Malaka menjadi semifinalis ETMC 2015, dan sempat melangkah hingga babak kedua ETMC 2017.
Dengan temperamen yang sedikit kontroversial, sentuhan pelatih ini cukup berbisa. Manu Meo menjadi tim yang cukup disegani.
Hasan Wahar juga bukan pelatih kelas kaleng-kaleng. Dia punya sederet pengalaman, terutama ketika masih menangani Perseftim Flotim.
Meski hampir 4 tahun istirahat, Hasan Wahar masih punya nyali untuk menukangi sebuah tim. Lembata tidak salah menunjuk pelatih ketika tim tuan rumah sedang dibalut kemelut.
So, publik menunggu suguhan pertandingan berkelas. Sehingga ketika keluar lapangan, mereka boleh berjalan dengan kepala tegak.*** (vicky da gomez)















