

Maumere-SuaraSikka.com: Uskup Maumere Mgr Martinus Edwaldus Sedu dijadwalkan membuka Sinode II Keuskupan Maumere, Senin (24/10) besok. Pembukaan kegiatan ini diawali Perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Santo Mikhael Nita pada pukul 17.00 Wita.
Kegiatan Sinode II berlangsung selama 4 hari penuh, Selasa-Jumat (25-28/10), berpusat di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini merupakan kegiatan puncak karena rangkaian kegiatan sebelumnya telah dilaksanakan sinode di tingkat komunitas basis dan paroki sejak pencanangan pada 25 Maret 2022 lalu.
Menjelang kegiatan puncak, Panitia Sinode II menggelar konperensi pers bertempat di Aula Puspas, Sabtu (23/10).
Uskup Maumere hadir langsung memberikan keterangan pers. Dia didampingi Ketua Steering Commettee (SC) Romo Jhon Eo Towa, Sekretaris Romo Ephyvanus Markus Nale Rimo, serta Cypri da Costa dan Yohanes Vinsensius Roma selaku Organizing Cometee (OC).
Sinode II Keuskupan Maumere akan melibatkan 650 peserta. Para peserta datang dari 38 paroki yang berada dalam wilayah Keuskupan Maumere.
Setiap paroki mengutus minimal 7 wakil dari berbagai unsur antara lain Dewan Paroki, stasi, orang muda, dan pegawai pemerintah.
Selain peserta perwakilan paroki, Sinode II juga akan dihadiri peserta dari keuskupan tetangga. Mereka yang diundang adalah Direktur Puspas Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Larantuka, dan Keuskupan Ruteng.
Peserta lain yang juga ikut terlibat adalah Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sikka, dan Forum Gereja Kristen Sikka.
Perwakilan peserta lintas agama ini diundang hadir pada acara pembukaan dan penutupan.
Selama kegiatan puncak 4 hari, peserta intens membahas 7 masalah umum dalam wilayah Keuskupan Maumere. Pokok-pokok persoalan ini telah didiskusikan seru sejak sinode basis.
Tujuh hal tersebut yakni pemberdayaan pelayanan pastoral, pemberdayaan keluarga Katolik, pemberdayaan ekonomi warga, pemberdayaan politik warga, pengembangan solidaritas warga, pemberdayaan warga untuk meningkatkan ketahanan menghadapi kecenderungan umum ke arah kesenangan dan pesta pora, dan pemberdayaan organisasi pastoral.
“Kami juga menampung isu-isu lain dari 7 hal ini, seperti pendidikan dan lain-lain,” tambah Romo John Eo Towa.
Seluruh proses pembahasan melalui pertemuan kelompok dengan mekanisme diskusi seperti analisis situasi pastoral, refleksi biblis, dan tanggapan pastoral. Hasil diskusi kemudian akan dirangkum menjadi rekomendasi kepada Uskup Maumere.
Sinode II Keuskupan Maumere mengusung tema Duc in Altum, Bertolaklah ke Tempat yang Dalam. Tema ini sesuai motto tahbisan Uskup Maumere.
“Saya ingin berjalan bersama, mewujudkan cita-cita bersama yakni komunitas beriman yang solider, yang berjuang bersama mewujudkan komunitas pembebasan dari berbagai belenggu yang menekan kemiskinan, kebodohan, dan penyakit,” ungkap Uskup Maumere.
Proses berjalan bersama ini, lanjut Uskup Maumere, mesti dimulai dari Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Bagi dia, di sanalah tempat strategis para anggota gereja boleh mewujudkan bela rasa sebagai satu komunitas beriman.*** (eny)















