
Maumere-SuaraSikka.com: Penyakit rabies masih menjadi ancaman bagi warga di Pulau Flores da Lembata. Sementara itu penanganannya justeru berbanding terbalik, karena masih pasang surut.
Pada tahun ini, setidaknya terdapat 9 kasus kematian akibat rabies di Flores-Lembata. Kasus kematian paling banyak terjadi di Kabupaten Flores Timur yakni 5 kasus. Sedangkan masing- masing 1 kasus di Ende, Nagekeo, Manggarai dan Manggarai Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi memprihatinkan ini mendorong digelarnya kegiatan Rapat Koordinasi Penanggulangan Rabies. Rakor semacam ini juga ternyata vakum selama 2 tahun, karena penanganan kesehatan lebih fokus menyikapi pandemi Covid-19.
Rakor Penanggulangan Rabies diinisiasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sikka. Sejumlah praktisi dan pemerhati kesehatan dari berbagai daerah di Flores, terutama dokter-dokter hewan, hadir di Aula Dinas Pertanian Sikka, Rabu (14/12).

Tampak hadir drh Melky Ansar dan drh Zulkifli Tabali dari Dinas Peternakan NTT. Hadir juga drh Joko Daryono dari Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP).
Dinas Pertanian dan Peternakan Flotim diwakili Simon Nani, drh Vian K Tokan, dan drh Maria Hoa Kerans. Lalu Rismawaty Yunus dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata. Dari Dinas Pertanian Ende hadir drh Said K Djohan, dan
drh Fransiskus XPG Bethana dari Dinas Peternakan Nagekeo.
Dari Kabupaten Sikka hadir berbagai elemen dan unsur, baik dari Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, juga sejumlah aktifis dari LSM.
Tampak terlihat juga pegiat-pegiat kesehatan seperti Ketua Komite Rabies Flores-Lembata Wera Damianus, Sekretaris Komite Rabies Flores-Lembata Dokter Asep Purnama, dan mantan Wabup Manggarai drh Maria Gerong.
Diskusi dalam Forum Rakor Penanggulangan Rabies, berlangsung menarik. Terungkap sejumlah kompleksitas masalah penanggulangan rabies di Flores.
Kabid Keswan Propinsi NTT Melky Ansar merincikan sejumlah permasalahan dalam penanggulangan rabies di Flores, seperti populasi real HPR, ketersediaan vaksin, titer antibodi post vaksinasi yang masih rendah, pelaporan berjenjang, pemahaman masyarakat, kontrol populasi, dan keterlibatan masyarakat dalam program vaksinasi.
Salah satu masalah yang juga tidak kalah serunya yakni alokasi anggaran. Hampir semua daerah di Flores mengeluh karena rendahnya keberpihakan anggaran.
Forum Rakor Penanggulangan Rabies bersepakat menggelorakan gerakan bersama untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dalam upaya melawan rabies.

Gerakan bersama ini melibatkan semua unsur. Ketua Komite Rabies Flores-Lembata Wera Damianus menyebut setidaknya 5 unsur yang perlu terlibat serius dalam gerakan bersama.
Lima unsur tersebut yakni pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa.
Menurut mantan Wakil Bupati Sikka itu, 5 unsur tersebut sangat penting terlibat, dengan peran fungsi dan kapabilitas masing-masing.
Dia meyakini sangat, jika gerakan bersama dilaksanakan secara maksimal maka pencegahan dan penanggulangan rabies di Flores-Lembata dapat berjalan dengan baik pula.
Rakor Penanggulangan Rabies dibuka Wakil Bupati Sikka Romanus Woga. Pada momen penting itu, Wabup Sikka mengajak semua pihak bergandengan tangan menanggulangi rabies.*** (eny)















