Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 13 paket pekerjaan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Sikka yang bersumber dari dana pinjaman daerah, bakal berujung gagal.
Akumulasi nilai kontrak dari 13 paket ini setara dengan Rp 14.654.600.748,79. Alhasil, dana yang menjadi utang masyarakat di daerah itu, bisa dibilang mubazir.
Selain 13 proyek berujung gagal, ternyata ada 2 paket pekerjaan yang tidak bisa dikontrakkan. Nilainya mencapai Rp 1.602.925.000.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data ini terekam saat rapat dengar pendapat (RDP) antara DPRD Sikka bersama Dinas PUPR Sikka, Selasa (7/2). RDP itu sendiri dipimpin Ketua DPRD Sikka Donatus David didampingi Wakil Ketua DPRD Sikka Gorgonius Nago Bapa.
Kepala Dinas PUPR Sikka Fred Djen menjelaskan pihaknya mengelola 141 paket pekerjaan yang bersumber dari dana pinjaman daerah.
Secara keseluruhan, pagu anggaran berjumlah Rp 176.661.568.000, dan nilai kontrak sebesar Rp 162.360.951.833, dengan realisasi keuangan sebesar Rp 131.511.948.125.
Paket pekerjaan pada Dinas PUPR Sikka terdiri dari 54 paket program pengelolaan dan pengembangan sistem penyediaan air minum, 2 paket program pengelolaan dan pengembangan sistem drainase, 82 paket program penyelenggaraan jalan, dan 3 paket pembangunan jembatan.
Dari 139 paket yang terkontrak, media ini menghimpun data sebanyak 13 paket pekerjaan yang dilaporkan dengan realisasi fisik di bawah 50 persen, terhitung 31 Desember 2022. Bahkan 11 paket pekerjaan di antaranya berada di bawah 35 persen.
Berikut 13 paket proyek yang diprediksikan berujung gagal.
Pertama, Pembangunan Sumur Bor Air Desa Koting B, dikerjakan CV Sumber Mujizat, nilai kontrak Rp 690.387.000, realisasi fisik 16,10 persen.
Kedua, Pembangunan Sumur Bor Air
Pulau Pemana, dikerjakan CV Tridaya Perkasa, nilai kontrak Rp 993.000.000, realisasi fisik 25,67 persen.
Ketiga, Pembangunan Jaringan Air Minum Bersih Dusun Baokrenget, dikerjakan CV Mayano, nilai kontrak Rp 415.642.611, realisasi fisik 50,0 persen.
Keempat, Pembangunan Sumur Bor Desa Wolonwalu, dikerjakan CV Nusa Tama Raya, nilak kontrak Rp 899.000.000, realisasi fisik 28,75 persen.
Kelima, Pembangunan Sumur Bor Desa Wairblerer, dikerjakan CV Mega Express, nilai kontrak Rp 991.592.728, realisasi fisik 6,67 persen.
Keenam, Bantuan Sumur Bor Desa Iantena, dikerjakan CV Soegianto Tirya Makmur, nilai kontrak Rp 958.800.000, realisasi fisik 7,57 persen.
Ketujuh, Pembangunan Jaringan Air IKK Kecamatan Paga Mata Air Ijukutu, dikerjakan CV Varanus Cipta Perkasa, nilai kontrak Rp 4.205.065.378, realisasi fisik 0,04 persen.
Kedelapan, Pembangunan Jaringan Air Minum Desa Heopuat, dikerjakan CV Nusa Tama Raya, nilai kontrak Rp 730.555.000, realisasi fisik 9,58 persen.
Kesembilan, Peningkatan Jalan Nangablo-Hagarahu, dikerjakan CV Balista Timor Perkasa, nilai kontrak Rp 934.035.000, realisasi fisik 0,61 persen.
Kesepuluh, Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Besar, dikerjakan CV Triofa Perkasa Sejati, nilai komtrak Rp 1.626.000.000, realisasi fisik 35,85 persen.
Kesebelas, Pembangunan Jalan Desa Lere-Natakoli, dikerjakan CV Kembar, nilai kontrak Rp 458.000.016,79, realisasi fisik 0,00 persen.
Keduabelas, Pemeliharaan Jalan Riidetut-Hewokloang, dikerjakan CV Dharma Bakti Jaya, nilai kontrak Rp 1.432.101.000, realisasi fisik 6,24 persen.
Dan ketivabelas, Pembangunan Jembatan Arat Heopuat, dikerjakan CV Talula, nilai kontrak Rp 320.422.015, realisasi fisik 23,40 persen.
Sementara itu 2 paket proyek yang tidak terkontrak yakni Pembangunan Sumur Bor Air Desa Wolomotong senilai Rp 997.113.000, dan Pembangunan Ruas Jalan Desa Kokowair-Bendungan Desa Nangatobong senilai Rp 605.812.000.*** (eny)















