Diskusi kelompok terkait kasus perdagangan orang saat Workshop di Aula Santa Theresia Avila Maumere, Jumat (17/2)
Maumere-SuaraSikka.com: Kurang lebih 80 biarawan biarawati di Flores bersepakat menghentikan perdagangan orang yang marak terjadi di daerah itu.
Kesepakatan tersebut dicapai melalui Workshop Gerak Bersama Hentikan Perdagangan Orang. Kegiatan satu hari ini berlangsung di Aula Santa Theresia Avilla Maumere, Komples Susteran SSpS di Jalan Ahmad Yani, Jumat (17/2).
Peserta Workshop Perdagangan Orang sedang mendengarkan paparan materi
Biarawan biarawati ini datang dari 3 keuskupan, yakni Keuskupan Maumere, Keuskupan Agung Ende, dan Keuskupan Larantuka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian peserta didominasi para biarawati Komunitas SSpS dari Maumere, Kewapante, Ende, Ndora, Maukaro, Nagekeo, Mataloko, Larantuka, Hokeng, Boganatar, Balela, Waiwadan, dan Boto.
Peserta lain berasal dari Komunitas Matridis Keuskupan Maumere, dan juga para frater dari Ordo CJD.
Prihatin
Workshop digelar oleh Perkumpulan Divisi Perempuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK), bekerja sama dengan
Mensen Met Een Missie (MM).
Ini merupakan workshop gelombang kedua, karena workshop yang sama sebelumnya sudah digelar pada Jumat pekan lalu.
Suasana Workshop Perdagangan Orang di Aula Santa Theresia Avila, Jumat (17/2)
Suster Fransiska Imakulata dari Divisi Perempuan TRuK menjelaskan sebagai lembaga yang sangat peka terhadap kasus kemanusiaan, Divisi Perempuan TRuK turut bertanggungjawab untuk menekan praktik perdagangan orang yang semakin meningkat.
Pada tahun 2021-2022, kata dia, TRuK telah melakukan pendampingan kepada 18 korban perdagangan orang dan 4 orang tenaga kerja non prosedural dengan modus perekrutan yang bervariasi.
Sementara itu perkembangan tindakan perdagangan orang masih terus dilakukan oleh para penjahat kemanusiaan, dengan sistem kerja yang lebih moderen.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Divisi Perempuan TRuK ingin membangun kerja sama dengan berbagai lembaga kemasyarakatan seperti lembaga keagamaan, untuk memberantas dan mengatasi tindakan perdagangan orang.
Tugas dan tanggung jawab ini sebenarnya tidak hanya bersifat fungsioanl saja, tetapi menjadi fokus bagi semua lembaga masyarakat dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Pada tataran ini lembaga agama menjadi salah satu penggerak untuk mencegah dan memberantas politik perdagangan orang,” ujar dia.
Menurut Divisi Perempuan TRuK peran tokoh agama menjadi salah satu kunci utama dalam usaha meretas kasus perdagangan orang di Kabupaten Sikka ini.
Sejumlaj biarawati terlibat dalam diskusi kelompok
Nilai Kemanusiaan
Workshop Gerak Bersama Hentikan Perdagangan Orang menjadi momen untuk menciptakan kerja sama yang lebih baik dan aktif antara lembaga Divisi Perempuan TRuK dengan para biarawan biarawati dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di Kabupaten Sikka.
Ada beberapa tujuan pada keguatan ini. Pertama, menempatkan peran biarawan biarawati sebagai penggerak usaha penanganan kasus perdagangan orang sebagai bentuk perjuangan terhadap Hak Azasi Manusia.
Kedua, biarawan biarawati mampu memahami mekanisme penanganan kasus perdagangan orang sehingga dapat membantu korban yang ada di lingkungan komunitasnya.
Dan ketiga, biarawan biarawati mampu membaca dan mencegah praktik perdagangan orang.
Beberapa narasumber membawakan materi antara lain Pater Yosef Kladu Koten dan Yosefina Dafrosa Keytimu dari TRuK.*** (eny)