


Maumere-SuaraSikka.com: Seorang warga Ambon diamankan dari Bandara Frans Seda Maumere, Rabu (3/3). Pria ini diduga menyembunyikan status kesehatannya berupa dokumen hasil positip rapid antigen.
Satgas Covid Sikka menjemput pria ini dari Bandara Frans Seda setelah mendapat informasi melalui saluran telepon. JCOT alias JT pria tersebut, kini menjalani karantina di belakang Swalayan Roxy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
JT diketahui positip rapid antigen melalui pemeriksaan mandiri pada Laboratorium L3 di Kelurahan Wairotang pada Sabtu (28/2).
Oleh petugas laboratorium dia diedukasi, dan diarahkan untuk melaporkan hal ini kepada Posko Satgas Covid Sikka di Kantor Dinkes.
Namun pria yang beralamat di Perum BPN L8 Kelurahan Simoboyo Kecamatan Benjeng itu tidak pernah melaporkan diri.
Dia baru mendatangi Dinkes Sikka pada Selasa (2/3) untuk mengurus surat keterangan jalan. Dalam proses ini, JT membawa serta dokumen hasil negatip rapid antigen dari Laboratorium Adi Husada.
Posko Satgas Covid Sikka mengeluarkan rekomendasi bagi JT untuk perjalanan keluar daerah.
Ketika hendak berangkat melalui Bandara Frans Seda, Rabu (3/3), ternyata data JT terekam pada sistem eHAC KKP di Bandara Frans Seda. Pria ini tidak diizinkan jalan, karena sedang dalam masa karantina.
Jurubicara Satgas Covid Sikka Bidang Kesehatan Clara Francis menjelaskan seharusnya JT masih menjalani masa karantina selama 14 hari, dan tidak boleh melakukan perjalanan keluar daerah.

“Tadi kami sudah jemput yang bersangkutan untuk pemeriksaan swab PCR,” jelas dia kepada wartawan di Labkesda Dinkes Sikka, Kamis (4/3).
Dia mengatakan Satgas Covid Sikka mengeluarkan rekomendasi untuk surat keterangan jalan berdasarkan hasil negatip rapid antigen dari Laboratoroum Adi Husada.
“Ternyata 2 hari sebelumnya dia positip rapid antigen dari Laboratorium L3. Dia tidak melapor ke Satgas, padahal sudah diedukasi,” terang Clara Francis.
Clara Francis mengaku pihaknya baru mengetahui jika JT positip rapid antigen setelah pria ini “dijegal” di Bandara Frans Seda.
Dia mengatakan KKP menjalin kerja sama dengan sejumlah laboratorium yang memeriksa rapid antigen. Dengan demikian status kesehatan setiap pelaku perjalanan akan terdeteksi dalam sistem eHac.
“Hanya KKP saja yang bisa buka dan baca sistem ini. Dinkes tidak ada akses ke situ,” tambah dia.
“Kasus” JT awalnya dipersoalkan salah seorang penghuni karantina terpusat di belakang Swalayan Roxy.
“Saya mau taya bagaimana dengan satu warga di karantina terpusat, negatip rapid antigen, tapi kenapa dikarantina bersama yang positif,” tanya dia.
Pantauan media ini di Labkesda Dinkes Sikka, sebuah mobil ambulance Khusus Covid membawa JT kembali ke lokasi karantina terpusat. Dia baru saja menjalani pemeriksaan swab PCR.
Sampel swab akan dikirim ke Kupang untuk diuji periksa pada Laboratorium Biomolekuler di RSU WZ Yohanes Kupang.*** (eny)

















