




Maumere-SuaraSikka.com: Lokasi karantina terpusat bagi pasien Covid di Jalan Alpukat Kelurahan Kota Baru Kecamatan Alok Timur, ditengarai mematikan bisnis pengusaha bakso babi di tempat itu.
Ada tiga unit rumah dinas yang dijadikan lokasi karantina terpusat. Letaknya sejajar dan saling berdempetan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warung bakso babi milik Sani Lepong Bulan terletak persis di seberang lokasi karantina, berhadapan langsung dengan Sekretariat FKUB, salah satu lokasi karantina.
Hampir 1 tahun terakhir ini, usaha bakso babi lesuh darah, bertepatan dengan pemanfaatan lokasi karantina di Jalan Alpukat.

Banyak pelanggan dan penikmat bakso babi tidak berani datang ke tempat itu, karena persis berdekatan dengan lokasi karantina. Bahkan untuk pesan dan diantar ke tempat pun, mereka tidak berani.
Sani Lepong Bulan, yang ditemui di warung bakso babi, Rabu (5/5), mengaku tidak bisa berbuat banyak.
Usaha bakso babi yang dirintis sudah 20 tahun, seperti hidup enggan mati tak mau. Dia bertahan berusaha dalam beban dan kekecewaan yang besar.
Perempuan asal Ternate ini mengaku kecewa karena pemerintah daerah setempat tidak pernah berpikir dampak dari keberadaan lokasi karantina di tengah usaha dan bisnis masyarakat.
“Ini sama artinya pemerintah secara sadar mematikan usaha-usaha yang ada di sepanjang jalan ini,” kesal dia.
Sani Lepong Bulan mengaku pernah bertemu Bupati Sikka untuk menyampaikan keluhannya. Waktu itu Bupati Sikka merespons positip dengan berencana menutup lokasi karantina di Jalan Alpukat. Nyatanya, kata dia, apa yang disampaikan Bupati Sikka tidak terealisir.
Sebelum ada lokasi karantina, usaha bakso babi cukup menggembirakan. Setiap hari, Sani Lepong Bulan bisa mengais untung antara Rp 200 ribu sampai Rp Rp 300 ribu.
Kini, kata dia, jangankan dapat untung, 1 pelanggan saja sulit sekali datang ke warung bakso babi.
Kondisi ini membuat usahanya makin hari makin merosot. Penghasilannya mulai tidak jelas, dan terus merugi. Sementara tuntutan dan kebutuhan hidup makin tinggi.
Sani Lepong Bulan mengaku kadang-kadang dia meminta intervensi keuangan dari keluarga di Toraja.
“Untuk beli beras saja saya harus minta keluarga transfer,” ungkap dia.
Masalahnya tidak sampai di situ saja. Biaya pendidikan untuk anak perempuannya juga ikut terdampak. Uang sekolah Rp 3,6 juta, baru bisa dibayar Rp 300 ribu.

Lokasi tempat usaha bakso babi di Jalan Alpukat, merupakan tanah milik pemerintah daerah setempat. Sani Lepong Bulang mengontrak, dengan biaya sewa Rp 7 juta per tahun. Setiap tahun dia beri kontribusi lewat pajak sebesar Rp 3 juta.
“Jadi selama ini saya kasih Rp juta setiap tahun untuk sewa tanah dan pajak. Harusnya pemerintah melindungi dan mendukung usaha saya, bukannya malah mematikan saya,” ukar dia.
Perempuan tiga anak ini hanya berharap Covid segera berlalu, sehingga lokasi karantina di Jalan Alpukat ditutup.
Kepada para pelanggan dan penikmat bakso babi, Sani Lepong Bulan memberikan jaminan usahanya tidak tersentuh virus meskipun lokasi karantina berada di dekat tempat usahanya.
Pantauan media ini, sekitar pukul 12.00 Wita, warung bakso babi tampak lengang. Kondisi ini tidak seperti biasanya, karena justeru pada jam seperti itu warung bakso babi biasa ramai didatangi pelanggan.

Kurang lebih setengah kemudian, datang 2 orang pelanggan yang adalah tenaga kesehatan. Mereka memesan 2 mangkok bakso babi, ditemani 2 piring nasi putih.
Tampak mereka begitu menikmati kuliner yang sudah terkenal di Kota Maumere itu. Tidak ada rasa kuatir dengan virus meskipun tempatnya berdekatan dengan lokasi karantina.*** (eny)




















