
Maumere-SuaraSikka.com: Penanaman pilar di lokasi HGU Nangahale, Selasa (18/1), berlangsung ricuh. Bahkan nyaris bentrok antara warga adat dan aparat TNI-AD.
Kericuhan terjadi di Dusun Lodong Desa Runut Kecamatan Waigete, ketika penanaman pilar yang kelima untuk wilayah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Warga Suku Goban dan Suku Soge melancarkan protes, dan keberatan terhadap penanaman pilar. Ratusan orang dari dua suku ini memadati sekitar lokasi penanaman pilar.
Puluhan personil Satpol PP Sikka berdiri melingkar melindungi pilar, agar tidak diganggu warga adat. Sementara puluhan personil keamanan dari TNI Polri menjaga ketat di Jalan Trans Maumere-Larantuka, hanya beberapa meter dari tempat penanaman pilar.

Beberapa warga berupaya turun ke lokasi penanaman pilar, namun selalu diadang SatPol PP dan aparat keamanan. Sementara warga yang lain terus menyoraki agar pilar dicabut.
Situasi makin panas, setelah warga adat mulai beramai-ramai mendekati lokasi penanaman pilar. Mereka memaksa mencabut pilar. Aksi dorong-mendorong pun tidak terelakkan.
Warga adat akhirnya berhasil menyentuh pilar, dan menguasai lokasi. Personil SatPol PP pun mundur. Warga lalu menggali tanah dan mencabut pilar.

Saat pilar berhasil dicabut, warga bersorak senang sambil bertepuk tangan. Pilar yang dicabut masih dalam keadaan utuh.
Usai berhasil mencabut pilar di tempat itu, warga adat bergeser ke beberapa lokasi yang sudah ditanam pilar. Mereka mencabut semua pilar yang sudah ditanam.
Pantauan media ini, ratusan warga adat bersiaga di sekitar Jalan Trans Maumere-Larantuka.
Penanaman pilar di HGU Nangahale dilaksanakan PT Kris Rama, yang mendapatkan hak pengelolaan seluas 380 hektar.*** (eny)















