
Maumere-SuaraSikka.com: Ratusan pedagang pasar di Kabupaten Sikka bersatu melawan kebijakan Bupati setempat.
Para pedagang pasar itu terdiri dari pedagang yang mengais rezeki di Pasar Alok, Pasar Tingkat, dan Pasar Wairkoja. Mereka terhimpun dalam Forum Komunikasi Pengguna Pasar Kabupaten Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pedagang pasar yang rata-rata memperoleh pendapatan harian sangat kecil, mendatangi Gedung DPRD Sikka, Senin (31/1). Mereka menggunakan 6 pikup dan ratusan sepeda motor.

Sebanyak 16 perwakilan bertemu anggota DPRD Sikka di ruang paripurna. Ketua Forum Komunikasi Pedagang Pasar Kabupaten Sikka Marianus Krisensius, bersama Wakil Ketua Bertholomeus Anselmus dan Sekretaris Robertus Odang, tampak mengenakan pakaian adat.
Mereka mendesak Bupati Sikka memaksimalkan pemanfaatan pasar rakyat tradisional yang resmi di Kabupaten Sikka secara baik dan benar, agar bisa mencapai kesejahteraan bersama.

Setidaknya ada 7 poin permohonan yang disampaikan Forum Komunikasi Pengguna Pasar Kabupaten Sikka.
Pertama, menutup semua aktifitas jual beli yang terjadi di TPI Alok. Kedua, menutup semua aktifitas jual beli pada Pasar Wuring. Ketiga, menutup semua aktifitas jual beli yang terjadi pada eks Pasar Geliting dan sekitarnya. Keempat, menghentikan penggunaan portal di Pasar Alok.
Selanjutnya kelima, akibat dari kehidupan pasar yang sepi, pedagang memohon izin untuk tidak membayar retribusi pasar, sambil menunggu kebijakan pemerintah.
Keenam, peninjauan kebijakan penetapan retribusi pasar perlu melalui proses musyawarah bersama Pengurus Forum Komunikasi Pengguna Pasar.
Ketujuh, perlu melibatkan pengurus Forum Komunikasi Pengguna Pasar dalam tata kelola pasar secara langsung dan mendapatkan hak insentif.
Masih ada satu poin lagi dari Forum Komunikasi Pedagang Pasar Kabupaten Sikka, yakni meminta dialog segitiga bersama Bupati Sikka dan DPRD Sikka di Gedung Kulababong.
Poin terakhir ini menjadi tarik ulur yang seru. Wakil Ketua DPRD Sikka Yoseph Karmianto Eri yang menerima kedatangan ratusan pedagang pasar, terpaksa menskors pertemuan, untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah.
Setelah koordinasi, Yoseph Karmianto Eri menyampaikan bahwa Bupati Sikka menunggu kedatangan Forum Komunikasi Pedagang Pasar di Kantor Bupati.

Informasi ini mengundang reaksi protes dari beberapa perwakilan Forum Pedagang Pasar. Seseorang di antaranya mendesak DPRD Sikka memanggil paksa Bupati Sikka.
Buat orang ini, pendapat Bupati Sikka harus disampaikan dan didengar langsung para wakil rakyat.
“Kalau kami ke sana (Kantor Bupati Sikka, Red), nanti Bupati bilang perlu persetujuan DPRD. Dari pada begitu, sebaiknya (Bupati) ke sini saja,” alasan dia.
Suasana rapat dengar pendapat pun menjadi tidak terkendali. Setiap kali anggota DPRD Sikka menyampaikan pendapat, langsung disergah seorang perwakilan pedagang pasar.
Melihat suasana yang mulai tidak kondusif, beberapa anggota DPRD Sikka meninggalkan ruang paripurna. Tidak lama berselang Wakil Ketua DPRD Sikka Yoseph Karmianto Eri mengetuk palu, menutup rapat dengar pendapat.

Para pedagang pasar yang tidak puas dengan kondisi ini, makin emosional. Kasat Intel Polres Sikka Iptu Misbar kemudian menenangkan para pedagang pasar, dan melakukan koordinasi secara persuasif.
Akhirnya ratusan pedagang pasar menuju Kantor Bupati Sikka yang letaknya kurang lebih 100 meter sebelah utara Kantor DPRD Sikka.
Di Kantor Bupati Sikka, para pedagang pasar diterima Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera. Bupati Sikka tidak ada di tempat. Kurang lebih setengah jam kemudian Bupati Sikka tiba.*** (eny)















