
Maumere-SuaraSikka.com: Fraksi-Fraksi di DPRD Sikka mulai berkomentar soal pembangunan menara lonceng di Gelora Samador da Cunha Maumere. Megaproyek senilai Rp 12 miliar itu pun menuai pro kontra para legislator.
Dari 9 fraksi di DPRD Sikka, setidaknya 4 fraksi memberikan pendapat tentang menara lonceng yang peletakan batu pertamanya telah dilaksanakan pada 2 Pebruari 2022 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sikap politik dan pendapat fraksi-fraksi tertuang dalam pemandangan umum fraksi atas LKPJ TA 2021, Selasa (22/3).

Bupati Salahgunakan Wewenang
Fraksi Partai Golkar menyayangkan pembangunan menara lonceng di Gelora Samador karena tanpa sepengetahuan DPRD Sikka.
Anggota Fraksi Partai Golkar Maria Angelorum Mayestatis menekankan bahwa Gelora Samador merupalan aset pemerintah daerah. Dengan demikian, kata dia, secara aturan maka peruntukkan, perubahan, dan pengurangan aset harus dengan persetujuan DPRD Sikka.
“Fraksi Partai Golkar berpendapat bahwa Saudara Bupati Sikka diduga menyalahgunakan wewenang dan melanggar azas kecermatan sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan,” tegas jurubicara Fraksi Partai Golkar itu.
Lebih lanjut Fraksi Partai Golkar menyarankan kepada pemerintah agat Gelora Samador da Cunha Maumere dihibahkan kepada Keuskupan Maumere untuk dibangun Gereja Katedral. Hemat Fraksi Partai Golkar, Gereja Katedral lebih memiliki nilai historis.

Sumber Dana Tidak Jelas
Pada bagian lain, Fraksi PKB mengapresiasi gagasan pembangunan menara lonceng. Hanya saja, gagasan ini tidal didukung dengan perencanaan yang matang dan sumber dana yang tersedia.
Melihat progress pembangunan, jurubicara PKB Simon Subandi Supriadi mempertanyakan kelanjutan pekerjaan serta sumber dana yang membiayai pekerjaan tersebut.
“Fraksi PKB meragukan, bagaimana mungkin bisa membangun menara lonceng dengan nilai yang fantastis, tetapi sumber dananya tidak jelas,” ungkap wakil rakyat yang baru saja dilantik sebagai pengganti antarwaktu.
Lebih jauh, Fraksi PKB beranggapan menara lonceng merupakan proyek sensasional dan ajaib. Keajaiban itu terjadi karena menara lonceng tidak ada dalam dokumen RPJMD.
“Dalam dokumen yang termuat janji-janji Bupati dan Wakil Bupati, bahwa Gelora Samador akan dibangun Replika Basilika Santo Petrus sebagai objek wisata rohani, sedangkan Gelora Samador akan dipindahkan ke lokasi yang lebih representatif,” tukas dia.

Peringatan Uskup Tidak Sekedar Pesan
Sikap kritis juga datang dari Fraksi PAN. Ketua Fraksi PAN Philipus Fransiskus meyebut euforia pelerakkan batu pertama juga dihadiri Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu.
“Pertanyaannya, sejauh mana perkembangan pembangunan menara lonceng?” tanya dia.
Fraksi PAN mengungkapkan kekuatiran Uskup Maumere bahwa jangan sampai pembangunan menara lonceng hanya euforia dan mandek di tengah jalan.
Jika dihitung berdasarkan waktu peletakkan batu pertama, menurut Fraksi PAN, kondisi sekarang bukannya jalan di tempat, tetapi baru mau melangkah.
“Apakah semua mimpi besar dan tindakan kita hanya euforia dan akan berhenti di tengah jalan seperti yang dikuatirkan Uskup Maumere?” lanjut Philipus Fransiskus.
Philipus Fransiskus mengatakan peringatan Uskup Maumere tentunya tidak sekedar pernyataan atau pesan.
“Bapa Uskup tentunya punya data dan pengalaman yang kuat terhadap pemerintah kita, sampai pada peringatan tersebut. Bapa Uskup adalah figur yang taat azas dan sangat kuat pada data, teori dan pengalaman untuk tiba pada satu statemen,” tegas dia.

Harus Tuntas
Berbeda dengan fraksi lain, Fraksi PDIP justeru mendukung pembangunan menara lonceng. Fraksi PDIP mendorong percepatan pembangunan.
“”Fraksi mengingatkan pemerintah dan panitia pembangunan agar pembangunan menara lonceng harus sampai tuntas,” ujar Ketua Fraksi PDIP Stefanus Sumandi.
Menurut Fraksi PDIP, kondisi dunia saat ini makin hari makin maju. Kemajuan itu ditandai dengan fase masuknya peradaban manusia ke dalam era digital.
Dalam dunia baru ini kata dia, di mana-mana orang-orang menunduk tanpa suara sama sekali. Meski berdekatan, namun terasa jauh. Manusia teralienasi dari diri, sesama dan lingkungannya.
Keterasingan itu, lanjut dia, ditandai dengan jauhnya komunikasi antarpribadi manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhan. Relasi inter dan antarpersonal menjadi begitu jarak lantaran kecanduan hiburan melalui ponsel.
“Dalam kondisi seperti ini, kita butuh kembali ke jalan yang benar. Kembali kepada ekaistensi manusia yang dapat berada hanya mungkin kalau yang lain pun berada. Nah, kita butuh sarana yang selalu mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada eksistensi,” papar dia.
Dia mengatakan lonceng di gereja dan bunyi beduk di mesjid, mengingatkan orang bahwa ada waktu untuk melepaskan semua kesibukan lain untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada sesama dan Allah.
“Melalui bunyi lonceng, akan mengingatkan kita agar sejenak berkumpul bersama saudara sekantor, serumah dan sekomunitas lainnya dalam nada berdia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Kekal,” ujar dia.
Sejak peletakkan batu pertama, belum ada kegiatan pembangunan sama sekali. Bahkan material pun tidak ada di lokasi. Diduga kuat panitia pembangunan belum memiliki dana.*** (eny)















