

Maumere-SuaraSikka.com: Sebuah produk inovatif muncul dari pelaku UMK di Kabupaten Sikka. Namanya Moke Flores.
Produk inovasi ini sengaja diberi nama Moke Flores. Alasannya karena penyebutan moke sudah menjadi populis di tengah masyarakat Flores, termasuk di Kabupaten Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Minuman Tradisionil
Moke merupakan sejenis minuman tradisionil dengan kadar alkohol sekitar 30 persen. Minuman treadisionil ini melekat dalam tradisi dan budaya masyarakat Flores.
Pada setiap kegiatan budaya di Flores, moke selalu mendapatkan peran penting. Hampir pasti, moke hadir dalam kegiatan-kegiatan seremoni adat. Biasanya dituang pada tempurung kelapa, kemudian pelaku-pelaku adat menenggaknya.
Moke kemudian menjadi laris manis di tengah masyarakat. Seiring dengan itu, bisnis penjualan moke pun tumbuh subur dan meningkat.
Bisnis moke merambah pasar-pasar tradisionil hingga rumah-rumah penduduk. Tidak hanya itu, kios-kios pun ramai menjual moke. Dan yang paling unik, rata-rata yang terlihat yakni minuman tradisionil itu diisi pada botol bekas air mineral.

Tampilan Baru
Bisnis penjualan moke memang menggiurkan. Apalagi jika menjual moke dengan kualitas yang terukur.
Ida Krisna Ning Rahayu, seorang perempuan turunan Jawa yang sudah puluhan tahun tinggal di Maumere Kabupaten Sikka, tergoda dalam bisnis ini.
Perempuan yang familiar dengan panggilan Ida Harsoyo ini, mereduksi bisnis moke dengan cara yang lebih moderen dan inovatif.
Untuk menjaga kualitas, pemilik Galery Krisna ini bekerja sama dengan seorang pengrajin moke. Pengrajin moke yang dia ajak kerja sama, tentu saja yang sudah terkenal dalam proses penyulingan moke.
“Moke-nya bagus. Saya selalu beli dari dia,” jelas Ida Harsoyo kepada media ini, Senin (4/4) di Maumere.
Moke yang dia beli dari pengrajin, tidak langsung dilepas ke pasaran. Ida Harsoyo meraciknya lagi dengan berbagai ramuan herbal seperti cengkeh, kayu manis, dan akar pohon.
Dengan racikan ini, moke yang tadinya berwarna putih, kini berubah menjadi merah. Lalu tercium bau wangi yang menyegarkan.
Racikan yang baru itu tidak mengurangi kualitas. Malah justeru kualitas moke makin menjadi lebih baik.dari sebelumnya.
“Pelanggan-pelanggan saya bilang rasanya sangat cocok, dan mereka menikmati,” ujar politisi Partai Golkar Kabupaten Sikka itu.
Tidak cukup di situ, Ida Harsoyo mengabaikan botol bekas air mineral, sarana yang digunakan selama ini. Buat dia, sarana ini sudah tidak zaman lagi di tengah modernisasi dan semangat milineal.
Ida Harsoyo kemudian mendatangkan botol-botol kosong dari mitra bisnisnya di Jawa. Bentuknya unik dan meyakinkan. Sepintas mirip botol-botol wine produk luar negeri.
Tidak puas dengan itu, Ida Harsoyo memasang label yang melingkari botol. Tulisan Moke Flores semakin meyakinkan tampilan baru dari produk inovatif ini.
Untuk memanjakan pelanggan dan penikmat Moke Flores, Ida Harsoyo menambahkan anyaman keranjang dari bahan lokal. Praktis Moke Flores dapat dibawa dengan mudah dan enteng.
Sebuah kombinasi yang keren. Moke Flores pun segera dilepas ke pasaran. Untuk ukuran 300 mililiter plus keranjang anyaman, di-bandrol dengan harga Rp 50 ribu perbotol. Sedangkan ukuran 250 mililiter dijual dengan harga Rp 40 ribu perbotol.
Tidak susah mendapatkan Moke Flores. Bagi calon pembeli bisa mendatangi Galery Krisna yang mengambil salah satu los pada Pusat Jajanan Cinderamata (PJC) yang terletak di Kecamatan Alok.
Galery Krisna berkesempatan mempromosikan produk-produk inovatifnya pada Musrenbang Kabupaten Sikka di Gedung Sikka Convention Center, Senin (4/4).
Dari sejumlah produk inovatif, Moke Flores terselip di antaranya. Ida Harsoyo dengan penuh bangga memperkenalkan kepada pengunjung.*** (eny)















