


Maumere-SuaraSikka.com: Prosesi Logu Senhor di Kampung Sikka Kabupaten Sikka dibuka kembali tahun ini. Setidaknya 200 umat Katolik dari luar Kabupaten Sikka dipastikan mengikuti tradisi ini.
Tradisi warisan Portugis sejak tahun 1607 ini, sebelumnya tidak digelar selama 2 tahun berturut-turut. Ini akibat pandemi Covid-19 yang mendera Kabupaten Sikka sejak tahun 2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Otoritas Paroki Santo Ignatius Loyola bersama Panitia Persisang membatasi peserta Logu Senhor tahun ini hanya 500 orang saja. Hingga Selasa (12/4), tercatat 431 umat Katolik yang mendaftar sebagai peserta Logu Senhor.
Padahal sebelumnya pada tahun 2019, kurang lebih 11.000 umat Katolik dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti Logu Senhor.
Tercatat 156 umat Katolik dari luar Kabupaten Sikka mendaftar melalui Sibakloang Gallery pimpinan Isye Fernandez.
Di antaranya terdapat 20 umat Katolik dari Jakarta, yang didaftarkan oleh sebuah agen tour rohani.
Ada juga puluhan umat Katolik dari luar Kabupaten Sikka yang langsung mendaftar melalui Panitia Peraisang.
Menunduk di Bawah Salib
Logu Senhor merupakan tradisi memperingati kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus yang biasa dilakukan pada Jumat Agung. Tahun ini akan dilaksanakan pada Jumat (15/4).
Logu Senhor artinya berjalan menunduk di bawah salib Yesus. Salib Yesus diletakkan di atas sebuah tandu, yang diusung empat petugas.
Saat melakukan tradisi ini, setiap peserta sambil membawa lilin yang bernyala, menyampaikan doa dan intensi dalam hati, dengan harapan dikabulkan Yesus Kristus yang menderita dan wafat di salib pada hari itu.
Alkisah, salib Yesus ini dibawa dari Portugis sekitar tahun 1600 oleh Raja Sikka bernama Don Alexius Ximenes da Silva atau yang biasa disebut Don Alesu.
Salib Yesus ini berukuran mini dengan panjang 75 centimeter. Salib ini disimpan pada Kapela Senhor yang letaknya sebelah kiri Gereja Sikka.
Tidak sembarang orang dapat masuk ke Kapela Senhor, kecuali turunan Darabogar yang disebut-sebut sebagai pengawal raja.
Kapela Senhor itu sendiri baru dibangun pada tahun 1997. Sebelum ada Kapela Senhor, salib Yesus tersebut disimpan di saktisti.
Tradisi Logu Senhor biasanya disatukan dengan drama penyaliban Yesus dari armida ke armida. Upacara sakral ini dimulai dari Gereja Sikka, yang sekarang sudah berumur 123 tahun.
Penghayatan Sungguh
Umat Katolik di Kampung Sikka meyakini tradisi Logu Senhor adalah sebuah penghayatan yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Dengan berjalan menunduk di bawah Salib Yesus, maka segala perhatian, keluh kesah dan semua permasalahan akan dilebur dalam Salib Kristus.
Beban hati karena tidak mendapat keturunan, keluarga broken home dan belum mendapatkan jodoh adalah beberapa contoh dari intensi khusus umat ketika merunduk di bawah salib. Umat meyakini bahwa segala intensi yang mereka bawa ke bawah Senhor akan terkabul.
Bagi umat Kampung Sikka, menjadi Katolik bukan hanya sekadar mengikuti Misa Kudus. Tetapi iman itu harus mengejawantah dalam mengikuti prosesi Logu Senhor.
Dalam Logu Senhor, sense of religius kian terasa. Dengan mengikuti prosesi ini, mereka melibatkan diri untuk masuk dalam misteri Paskah Kristus.
Sejarah Logu Senhor
Pada abad ke-15 sampai awal abad ke-16 wilayah Sikka dipimpin seorang bernama Moang Baga Ngang. Pria ini mempunyai 3 orang putra yaitu Moang Lesu, Moang Korung, dan Moang Keu.
Moang Lesu lebih menonjol, terutama dalam hal wawasan dan kehidupan masyarakat Sikka mulai dari kelahiran, kehidupan, penyakit seperti yang diungkapkan dalam syair bahasa Sikka berikut ini:
“Niang ei Beta Mate Tanah ei Herong Potat Mate Due Rate Rua Potat Due Leda Telu
Blutuk Niu Nurak di Mate Blupur Odo Korak di Potat
Teri di Mate
Era di Potat”
Dua ungkapan di atas menggambarkan bahwa dunia ini tidak kekal abadi. Setiap ada kehidupan pasti ada kematian. Kematian tidak dibatasi umur. Bayi bisa mati, tua renta pun mati. Kapan saja kematian itu pasti ada.
Karena hal itulah, Moang Lesu memikirkan dan mencari kemungkinan di dunia ini ada tempat lain yang tidak ada penderitaan dan kematian.
Dia lalu memutuskan mengembara mencari tanah tersebut. Dalam bahasa Sikka dikenal dengan “Tanah Moret”.
Moang Lesu lalu menuju wilayah utara, tepatnya di Pelabuhan Waidoko Maumere. Pelabuhan ini merupakan tempat persinggahan atau berlabuhnya kapal-kapal dagang dari Bugis, Buton, Makassar, Bonerate, dan Portugis dari Tanah Malaka.
Di Pelabuhan Waidoko, Moang Lesu bertemu dengan Dzogo Worilla, seorang anak buah kapal dagang milik Portugis.
Kepada Dzogo Worila, dia bertanya, apakah di tanah mereka tidak ada kematian. Tetapi Worila menjawab bahwa di dunia ini manusia yang lahir dan hidup, pasti berakhir dengan kematian.
Namun, untuk mendapat kepastian akan jawaban itu, Moang Lesu diajak bersama-sama berlayar menuju tanah Malaka. Moang Lesu pun berlayar ke Malaka bersama Dzogo Worila.
Sesampai di Malaka, Moang Lesu bertemu Gubernur Malaka. Dia lalu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan untuk mencari “Tanah Moret”.
Gubernur Malaka menanggapi penyampaian Moang Lesu bahwa ada kehidupan yang bahagia dan kekal setelah kematian di dunia ini.
Tetapi untuk mendapatkan itu, Moang Lesu harus mengikuti persyaratan-persyaratan yakni membangun gereja dan mengikuti ajaran-ajaran gereja.
Moang Lesu menyetujui persyaratan-persyaratan tersebut dan siap melakukan itu semua. Selanjutnya, dia pun mengikuti pelajaran Agama Katolik, pelajaran ilmu politik dan pemerintahan selama 3 tahun.
Setelah itu dia dibaptis dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva. Lalu Gubernur Tanah Malaka melantiknya sebagai Raja Sikka.
Setelah 3 tahun di Malaka, Moang Lesu memutuskan kembali ke Kampung Sikka.
Sebelum pulang, dia menghadiahkan Gubernur Malaka sejumlah emas dan wewangian yang dalam Bahasa Sikka disebut “ambar menik” atau muntahan ikan paus.
Gubernur Malaka nenghadiahkan Moang Lesu berupa Salib Senhor, Patung Meninu (Patung Kanak-kanak Yesus sebagai Raja), Tugur Griang (panji yang bergambar orang kudus), Regalia kerajaan dan sejumlah batang gading berukuran besar dan sedang.
Sekitar tahun 1600, Moang Lesu kembali ke Kampung Sikka. Dia didampingi seorang guru agama berkebangsaan Portugis bernama Agustino Morenho.
Setibanya di Kampung Sikka, Agustinho Morenho menyelenggarakan upacara pengukuhan kembali Moang Lesu menjadi Raja Sikka.
Setelah itu Agustinho Morenso mulai mengajar iman Katolik kepada keluarga Raja Sikka. Dia juga memimpin upacara Liturgi Gereja, termasuk Liturgi Logu Senhor pada hari raya Jumat Agung yang dalam bahasa Sikka Sexta Vera.
Sejak saat itulah upacara Logu Senhor dilaksanakan setiap tahun pada perayaan Jumat Agung.
Prosesi Logu Senhor sempat ditiadakan oleh para Imam Jesuit yang menjadi Pastor Paroki Santo Ignatius Loyola Sikka.
Namun, selanjutnya berdasarkan kesepakatan umat dan persetujuan pastor paroki maka Logu Senhor kembali dilaksanakan seperti biasa dan bertahan hingga sekarang.*** (eny)
















