


Maumere-SuaraSikka.com: Sebanyak 500 peziarah dari berbagai penjuru, hari ini Jumat (15/4) bertepatan dengan Jumat Agung, mengikuti prosesi Logu Senhor di Kampung Sikka Kecamatan Lela Kabupaten Sikka.
Logu Senhor merupakan prosesi berjalan menunduk di bawah Salib Yesus. Tradusi ini adalah warisan Portugis sejak tahun 1607 yang masih hidup dan bertahan di Kampung Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian besar peziarah, biasanya fokus mengikuti Logu Senhor. Peziarah meyakini doa-doa yang dibawakan dengan sungguh saat Logu Senhor, bakal dikabulkan Yesus Kristus.

Meninu
Sesungguhnya ada tradisi lain yang ditampilkan bersamaan prosesi Logu Senhor. Tradisi itu adalah penampakan Meninu, sebuah Patung Kanak-Kanak Yesus, yang usianya sudah diperkirakan 500 tahun.
Patung ini terbuat dari gading. Meninu berada di Kampung Sikka sejak tahun 1600. Dia dibawa Moang Alesu dari Tanah Malaka. Moang Alesu sendiri pada waktu itu dikukuhkan Gubernur Malaka sebagai Raja Sikka dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva.
Sebelum meninggalkan Tanah Malaka, Don Alexius Ximenes da Silva menghadiahkan Gubernur Malaka sejumlah emas dan wewangian yang dalam Bahasa Sikka disebut “ambar menik” atau muntahan ikan paus.
Gubernur Malaka kemudian membalas berupa Salib Senhor, Patung Meninu, Tugur Griang (panji yang bergambar orang kudus), Regalia kerajaan dan sejumlah batang gading berukuran besar dan sedang.
Salib Senhor dari Malaka, inilah yang kemudian menjadi ritus penting pada prosesi Logu Senhor, sebagaimana diajarkan Agustinho Rosario.da Gama, seorang guru agama yang datang ke Kampung Sikka bersama Don Alexius Ximenes da Silva.
Incaran Pencuri
Mulanya, pada zaman dulu, Patung Meninu menjadi bagian yang tidak terpisahkan pada prosesi Logu Senhor. Meninu tampil gagah setahun sekali, dikeluarkan dari Sakristi untuk mengikuti perarakan yang sakral mengelilingi Kampung Sikka.
Namun tampilan Meninu rupanya menggoda orang-orang yang tamak. Konon, menurut cerita, mahkota dan bola dunia yang terbuat dari emas, menjadi incaran pencuri.
Akhirnya, demi keamanan, dan menjaga keberlangsungan sejarah, Meninu dipindahkan dari sakristi, dan tanggung jawab pengawasan diserahkan kepada ahli waris keluarga da Silva.
Kini Meninu dijaga ketat
Andreas Hugo Pareira dan Emanuela Wihelmina Fernandez. Setiap tahun, ketika prosesi Logu Senhor, Meninu dikeluarkan ke teras rumah.
Mujizat Meninu
Sebelum diletakkan pada teras rumah, Meninu terlebih dahulu dimandikan. Umat Kampung Sikka meyakini sungguh air bekas Meninu dimandikan adalah mujizat karena bisa menyembuhkan orang sakit.
Tidak heran, orang ramai berdatangan ke rumah Andreas Hugo Pareira saat Meninu dimandikan. Mereka membawa serta botol-botol kosong, untuk mengisi air bekas mandi Meninu.
Rumah Andreas Hugo Pareira terletak sebelum armida pertama. Praktis perakan peziarah akan melewati rumah tersebut.
Peziarah yang memahami sejarah dan tradisi Logu Senhor, pasti akan memberikan penghormatan khusus kepada Meninu. Paling lazim yang dilakukan yakni menundukkan kepala atau membuat tanda salib.
Meninu yang sakral dan historis ini, tidak jarang luput dari perhatian peziarah. Apalagi bagi peziarah yang minim informasi.*** (eny)
















