
Maumere-SuaraSikka.com: Balai Besar Veteriner Denpasar memastikan specimen anjing yang dikirim dari Desa Watutedang Kecamatan Lela Kabupaten Sikka, hasilnya negatip.
Informasi ini merupakan kabar gembira, sekaligus sebagai peringatan serius akan ancaman penyakit rabies di Kabupaten Sikka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Yohanes Emil Satriawan menjelaskan kasus gigitan anjing di Watutedang terjadi pada Sabtu (25/6) lalu.
Anjing tersebut langsung dibunuh, dan specimen dikirim ke Denpasar untuk diperiksa Balai Besar Veteriner. Sementara korban gigitan, langsung diberi tindakan medis.
“Kemarin (Rabu, 6/7, Red) kami sudah dapat informasi dari Denpasar, hasilnya negatip,” jelas Yohanes Emil Satriawan di Kantor Dinas Pertanian, Kamis (7/7).
18 Specimen
Yohanes Emil Satriawan menjelaskan sejak Januari 2022 lalu, Dinas Pertanian telah mengirim 18 specimem anjing untuk diperiksa di Balai Besar Veteriner.
Sebanyak 18 specimen ini, kata dia, berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Sikka, menyusul kasus gigitan anjing yang terjadi pada saat itu.
Dia menambahkan Balai Besar Veteriner telah melakukan pemeriksaan, dan telah menyampaikan hasil pemeriksaan.
“Dari 18 specimen, ada 2 yang positip, sedangkan 16 negatip,” jelas dia.
Dua kasus positip, urai dia, yang pertama terjadi pada bulan Januari di Desa Koting D Kecamatan Koting, dan yang kedua terjadi pada Juni di Kelurahan Kota Uneng Kecamatan Alok.
Fakta 2 kasus positip hingga Juli 2022 ini, menggambarkan adanya peningkatan kasus positip. Jika dibandingkan dengan tahun 2021, hanya ada 1 kasus positip.
Stok VAR Kosong
Saat ini stok vaksin anti rabies untuk hewan penular rabies sedang kosong. Kepala Dinas Pertanian Yohanes Emil Satriawan mengaku telah mengajukan permintaan VAR sebanyak 34.000 dosis.
“Kami telah mengirim surat ke Dinas Pertanian NTT, nanti diteruskan ke Ditjen Peternakan Kementerian Pertanian,” jelas dia.
Dia menambahkan informasi yang dia terima, jika ada alokasi untuk NTT, maka Dinas Pertanian NTT akan memberikan prioritas ke Kabupaten Sikka.
Pada bagian lain, Yohanes Emil Satriawan menyinggung populasi hewan penular rabies di Kabupaten Sikka. Paling banyak dan dominan yakni ternak anjing sebanyak 60.000 ekor. Sementara kucing lebih dari 30 ekor, dan kera lebih dari 20 ekor.
Menurut dia, hampir semua hewan penular rabies belum mendapatkan suntikan VAR. Penyuntikan terakhir terjadi pada tahun 2019.*** (eny)















