
Maumere-SuaraSikka.com: Masyarakat Kabupaten Sikka yang berdomisili di pesisir pantai diminta untuk perlu tahu dan menyadari mitigasi bencana.
Demikian imbauan ini disampaikan Saefudin dari Direktorat Jenderal Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saefudin bersama Syarifah, seorang Analis Pendayagunaan Pesisir pada Ditjen Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil KKP, melaksanakan sosialisasi terkait Penyadartahuan Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kantor Desa Reroroja Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka, Kamis (14/7).
Sosialisasi mitigasi bencana merupakan kegiatan lanjutan yang dilakukan Ditjen Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil KKP di Kabupaten Sikka.
Desa Reroroja dipilih sebagai tempat sosialisasi mengingat daerah ini pernah mendapat dampak dari bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada Desember 1992 silam.

Saefudin menyampaikan bahwa wilayah pesisir biasanya memiliki sumber daya alam yang melimpah. Meski demikian, ancaman bencana selalu ada.
“Karena itu kalau ada bencana, kita tidak perlu menghindar. Jangan panik. Tapi sebaliknya kita harus tahu apa yang kita lakukan,” ujar dia.
Dalam konteks ini, kata dia, Kementerian Kelautan dan Perikanan berkewajiban memberikan pemahaman tentang mitigasi bencana bagi masyarakat pesisir.
Berdasarkan PP Nomor.64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, terdapat 2 pendekatan penting dalam mitigasi bencana yakni pendekatan struktural dan pendekatan non-struktural.
Pendekatan struktural merupakan upaya yang dilakukan dalam mengurangi dampak bencana dan perubahan iklim yang bersifat fisik.
Sedangkan pendekatan non-struktural dilakukan melalui sosialisasi dan penyadartahuan masyarakat.

Vegetasi Pantai
Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan berbagai intervensi mitigasi bencana seperti pengelolaan ekosistem pesisir, penyediaan sistem peringatan dini, bangunan peredam tsunami dan juga vegetasi pantai.
Khusus untuk Desa Reroroja, telah dilakukan vegetasi pantai sejak Mei 2022 hingga sekarang.
Vegetasi pantai dilakukan di atas lahan seluas 2,5 hektar. Pada lahan ini telah ditanami 1.600 tanaman waru oleh Kelompok Bulan Indah yang dipimpin Irneus Kleruk.
Saefudin menyebut vegetasi pantai dapat bermanfaat antara lain untuk meredam hantaman gelombang tsunami, mereduksi terjadinya abrasi pantai, melindungi ekosistem wilayah daratan dari terpaan angin dan badai, serta sebagai pengendali terjadi erosi pantai.

Bergita Bela, bendahara Kelompok Bulan Indah, memastikan pihaknya terus melakukan perawatan terhadap 1.600 tanaman waru.
“Setiap hari Rabu dan Sabtu kami turun ke lokasi, membersihkan rumput-rumput, sekaligus memperhatikan kalau ada yang rusak,” kata dia.
Bergita Bela mengaku senang terlibat pada kegiatan vegetasi pantai yang diinisiasi KKP. Selain karena ada aktifitas, kegiatan ini memberikan dampak yang besar bagi masyarakat pesisir.

Kegiatan Aksi Penyadartahuan Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim dibuka Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Malik Bachtiar.
Selain Saefudin, pemateri pada kegiatan ini yakni Sekretaris BPBD Sikka Portasius Karvalo. Dia menggambarkan situasi kebencanaan secara umum yang terjadi di Kabupaten Sikka.
Setelah sosialisasi dilanjutkan dengan diskusi. Para peserta terlibat aktif dalam berdiskusi, terutama memberikan informasi dan sharing pengalaman kegiatan mitigasi bencana.
Hadir pada sosialisasi antara lain Camat Magepanda Kristianus Amstrong, Pejabat Kepala Desa Reroroja Kosmas da Kunha, Kabid Budidaya dan Pesisir DKP Sikka, perwakilan BMKG, dan perwakilan PSDKP Stasiun Kupang Wilker Maumere.
Tampak hadir juga sejumlah penyuluh perikanan, mahasiswa IKIP Muhamadiyah Maumere, Ketua Forum PRB Kabupaten Sikka Yuven Wangge, Caritas, dan masyarakat Desa Reroroja.
Camat Magepanda Kristianus Amstrong mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memberikan perhatian khusus kepada warga masyarakat Desa Reroroja. Dia berharap masyarakat bisa semakin sadar akan pentingnya mitigasi bencana.*** (eny)















