Menatap Final: Perawan Pecah di Lewoleba

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 27 September 2022 - 21:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 145 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemain PS Malaka tiba di Lewoleba dengan membawa tropi bergilir ETMC

Pemain PS Malaka tiba di Lewoleba dengan membawa tropi bergilir ETMC

Liga 3 ETMC XXXI Tahun 2022 di Kabupaten Lembata segera berakhir. Dua hari lagi, Kamis (29/9).

Entah tim mana yang bakal keluar sebagai pemenang. Persebata Lembata kah? Atau Perse Ende? Susah-susah gampang menebaknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dua tim ini punya kualitas yang hampir seimbang. Pertahanan belakang solid. Barisan tengah apik. Bagian depan berbahaya. Seluruh lini hidup.

Ende sedikit unggul pada barisan depan. Cahya Dwi Permana, kini pengoleksi 4 gol, selalu menjadi mesin pembunuh. Pemain berdarah Jawa ini hampir pasti menjadi ancaman serius.

Lihat saja bagaimana Cahya menggetarkan gawang Persim Manggarai pada babak semifinal. Sebuah first time dari bola rebound. Gol yang berkelas.

Atau gerak lincah dia menyontek bola rebound ke gawang PS Kota Kupang, setelah eksekusi pinalti Adi Aba ditepis penjaga gawang.

Figur pembunuh seperti ini yang tidak dimiliki Lembata. Tuan rumah paling-paling mengandalkan duet kembar, Making bersaudara, Luis dan Cesar.

Luis dan Cesar lebih banyak bergerilia dari sayap. Praktis mereka dua lebih kepada penyuplai bola ke daerah kotak pinalti. Siapa eksekutornya? Karolus Kapitan Domaking dan Mabrur Muhamad Pua Lopi, rasa-rasanya belum setajam silet.

Ende dan Lembata punya determinasi yang tinggi. Mereka kuat pada fighting spirit. Mereka mengusung pola bertanding yang jelas. Visi bermain sangat kelihatan.

Kalau hampir semua pelatih mengandalkan diplomasi bahwa setiap pertandingan adalah final, Ende dan Lembata sesungguhnya sudah kasih bukti.

Dua finalis ini mengawali babak penyisihan dengan hasil seri. Ende bermain imbang 1-1 dengan Kota Kupang. Lembata kacamata saat menjamu Bintang Timur. Selanjutnya dua tim ini belum pernah terkalahkan.

Lembata sempurna pada dua pertandingan terakhir. Tapi pada 3 kali fase knock out justeru hanya bermain imbang. Tuan rumah lolos melalui drama adu pinalti.

Hebatnya, Lembata punya penjaga gawang yang cerdas. Feeling-nya selalu oke. Beberapa kali dia sukses patahkan eksekutor lawan. Dan itu yang bikin Lembata lolos.

Eksekutor Lembata sangat teruji. Belum pernah sekali pun gagal eksekusi. Harus diakui, anak-anak Bumi Sembur Paus benar-benar bernyali dalam urusan adu pinalti.

Ende menggemaskan pada babak penyisihan. Bermain apik pada tiga pertandingan. Bahkan mencukur PSK Kupang dengan skor 4-0, rekor terbesar pada 36 pertandingan babak penyisihan.

Fase knock out dilewati dengan prima. Kecuali situasi genting ketika berhadapan dengan Perseftim Flotim pada babak 8 besar menyusul aksi rusuh massal supporter Flotim.

Tradisi
Sejak gaung Liga 3 ETMC XXXI di Kabupaten Lembata mulai ditiupkan, publik ramai bergunjing soal tuan rumah juara. Lembata selaku tuan rumah, tidak luput dari desas-desus ini, bahkan diprediksi bakal mencatat prestasi tahun ini di rumah sendiri.

Dalam dekade 2000-an, tim tuan rumah selalu menjadi juara. Dimulai dari tahun 2005 saat Kabupaten Manggarai jadi tuan rumah. Persim boyong tropi bergilir. Lalu setahun kemudian, giliran Persap Alor menjadi juara di kandang.

Edisi ETMC berikut, tiga tahun kemudian, tradisi ini patah. Perseftim Flotim berhasil membawa pulang tropi bergilir dari Kabupaten Ngada.

Namun sejak edisi 2010 hingga 2019, faktor ini tidak terbantahkan. Malah semakin menguat. Sudah enam edisi berturut-turut, tuan rumah tampil sebagai juara.

PS Kota Kupang tahun 2010 di Kota Kupang, Persedaya tahun 2011 di Kabupaten Sumba Barat Daya, Persamba tahun 2013 di Kabupaten Manggarai Barat.

Lalu Persami Maumere tahun 2015 di Kabupaten Sikka, Perse Ende tahun 2017 di Kabupaten Ende, dan terakhir PS Malaka tahun 2019 di Kabupaten Malaka. Semuanya tampil gagah di kandang sendiri.

Baca Juga :  49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Apakah karena faktor tuan rumah sehingga tim tuan rumah menjadi juara? Bisa ya, bisa tidak.

Tuan rumah menjadi juara, yang selalu muncul dalam diskusi tidak resmi yakni adanya faktor X. Salah satunya yakni tuan rumah dianggap punya akses komunikasi khusus dengan perangkat pertandingan.

Inilah yang menurut banyak orang  mempermudah kemenangan tim tuan rumah. Naga-naganya selalu berseliweran dugaan praktik sogok agar tuan rumah keluar sebagai pemenang.

Benar kah demikian? Sulit mengungkapnya. Tetapi pada enam edisi terakhir, tim-tim tuan rumah menunjukkan kelasnya sebagai tim yang berkualitas, dan pantas mendapatkan titel juara.

Untuk melawan faktor X, ada dua contoh kasus sebagai pembanding. Persesba Sumba Barat pernah takluk dari Persewa Waingapu saat final di Kabupaten Sumba Barat tahun 2004. Atau Persab Belu kandas di kaki PSN Ngada pada final ETMC Tahun 2007 di Kabupaten Belu.

Yah, publik bisa saja punya cara berpikir yang berbeda. Itu sah-sah saja. Sehingga tidak heran orang lalu berpendapat ETMC seperti arisan saja, karena juaranya digilirkan dari satu tuan rumah ke tuan rumah yang lain.

“Kalau ingin jadi juara ETMC, sederhana saja, jadilah tuan rumah,” begitu pikiran beberapa orang.

Lembata kini dihadapkan dengan dilematis tradisi tersebut. Nanti, kalau seandainya juara, hatters lebih cenderung memberikan komentar miring terkait tradisi tuan rumah juara. Hanya sedikit orang yang bicara tentang kepantasan Lembata tampil sebagai numero uno.

Mitos tradisi ini tentu menjadi tantangan berat bagi manajemen Lembata. Mau tidak mau mereka harus mencatat kemenangan yang elegan, kalau tidak ingin di-bully publik.

Lembata harus menang, bukan karena tradisi tuan rumah juara. Lembata perlu mencatat sejarah baru dalam lembaran ETMC yang digariskan sejak tahun 1969 lalu.

Asal jangan pakai gaya tidak sportif seorang oknum Panitia Pelaksana saat memanas-manasi pendukung Lembata ketika tuan rumah berhadapan dengan Perserond Rote Ndao pada babak semifinal.

Kalimat “Lembata dilarang kalah”, melalui pengeras suara yang terdengar seantero lapangan pertandingan, seolah-olah memberikan pesan provokatif, dan kian membenarkan faktor X bagi tim tuan rumah.

Sebagai bagian dari Panitia Pelaksana, tidak pantas mengumbar kalimat seperti itu di depan publik.

Bagaimana pun, panitia pelaksana sudah bekerja maksimal, tanpa mendahulukan emosional dan kepentingan sepihak.

Kalimat penyemangat “Lembata dilarang kalah” seakan mengajak publik Lembata untuk menodai turnamen bergengsi ini.

Perawan Pecah
Lembata mulai ikut perdana pada ETMC Tahun 1999 di Kabupaten Ende. Partisipasi awal tanpa target. Poin penting yang dibawa kala itu yakni misi sebagai daerah otonom.

Anak-anak Lembata tampil dalam balutan agen otonomi. Mereka mempromosikan status Lembata sebagai daerah yang baru dimekarkan dari kabupaten induk, Flores Timur.

Sejak 1999, Persebata Lembata belum sekali pun mencium tropy bergilir. Kalau tidak pulang sedu pada babak penyisihan, Lembata paling kuat bertahan pada laga 16 besar.

Nah, tahun ini, setelah 23 tahun, Lembata mendapatkan momentum yang tepat. Persis sebagai tuan rumah, Persebata Lembata sudah mencatatkan diri pada partai final. Tinggal selangkah lagi.

Momentum ini harus dibayar lunas. Persetan dengan sematan tradisi tuan rumah juara. Karena bagaimana pun  Lembata harus menciptakan sejarah baru bagi Bumi Sembur Paus.

Pertama kali naik podium terhormat, meski di kandang sendiri, tidak jadi masalah. Toh Lembata harus catat rekor baru.

Baca Juga :  Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Lembata seolah sedang di ambang napsu untuk memecahkan perawan, dari belum pernah mengangkat tropi bergilir hingga untuk pertamakalinya naik podium.

GOR 99 bakal menjadi saksi bisu bagaimana Arsenius Ola dan kawan-kawan tampil atraktif memenangkan pertandingan.

Perawan pecah di Lewoleba, bukan hanya menjadi target Lembata. Sejatinya, dalam diam, Ende juga sedang menuju ke sana.

Dua kali sudah Ende mengangkat tropi bergilir, tahun 1999 dan tahun 2017. Momen sejarah itu dilakukan di hadapan publik Ende yang memadati Stadion Marilonga.

Ende tidak mau disebut sebagai jago kandang karena meraih prestasi di rumah sendiri. Panggung final tahun ini merupakan kesempatan berharga untuk menghapus sematan jago kandang.

Ende seakan ingin keluar dari pesaingnya Persami Maumere yang tiga kali angkat tropi bergilir di kandang sendiri. Ende ingin  mensejajarkan diri dengan PSN Ngada, raja bola NTT, yang selalu mengangkat tropi bergilir di kandang lawan.

Wasit
Duel grandfinal Lembata dan Ende dipastikan bakal berlangsung seru. Berbagai prediksi mengalir lepas pada beranda dan grup media sosial seperti Facebook.

Publik ramai menjagokan tim pemenang dengan beragam alasan, dari sentimen etnis hingga kualitas teknis.

Menjelang partai final, sebuah polling beredar pada grup FB Berita Sepak Bola PSSI NTT. Hingga Selasa (27/9) pukul 19.40 Wita, sudah 3.824 netisen yang memberikan respon.

Lembata didukung 50 persen netizen. Ende kebagian 49 persen. Seru! Polling pendapat ini masih bergerak. Meski demikian hasilnya tidak otomatis menjadi referensi.

Ada hal menarik dari polling ini. Sejumlah netisen menyertakan pendapat dalam kolom komentar, terutama menyoal wasit

Akun Bella Chelsea mengibaratkan partai final antara Lembata dan Ende merupakan pertemuan wasit versus wasit. Dia menyebut dua finalis ini sebagai tim kebanggaan wasit.

Pengamatan ini tidak jauh berbeda dengan akun Ayata Khan. Menurut akun ini, pemenang adalah tim yang punya pengaruh lebih kuat kepada wasit. Begitu juga akun Welldo Welldo menulis hasil dari pengamatan kita, selama ini, tergantung wasit.

Ada juga netisen yang mendukung Ende, tetapi meragukan profesionalisme wasit. Akun Charly J R menulis kalau wasit jujur Perse Ende yang makan. Atau seperti akun Duakita Ata Endelio yang menulis kalau wasitnya ga di-amplopin sama tuan rumah kemungkinan besar Ende juara.

Beda lagi akun Belimbing Nage, yang terkesan pendukung Lembata. Dia menulis Perse kalian siap merasakan kalau wasit akan berpihak ke tuan rumah, karena kamu juga pernah buat demikian saat final lawan PSN.

Beragam komentar tentang wasit, sejatinya memberikan gambaran bahwa faktor pengadil sangat penting pada partai final nanti.

Pengadil harus benar-benar profesional, tidak berpihak, dan terutama berdiri di atas regulasi, bukan sebaliknya menjadi pemain ke-12 bagi salah satu finalis.

Sebanyak 50 pertandingan dalam turnamen ini — di luar perebutan tempat ketiga dan grandfinal — perlu menjadi referensi serius bagi perangkat pertandingan.

Sudah banyak keluhan tentang kepemimpinan wasit, baik melalui protes lisan maupun tertulis. Bahkan, terjadi kasus kekerasan terhadap wasit, buntut dari ketidakpuasan manajemen tim.

Yah, genderang perang sedikit lagi akan dimulai. Publik harus diberi keyakinan untuk menikmati suguhan kualitas Lembata dan Ende.

Tim mana yang keluar sebagai pemenang, pantas diberi apresiasi.  Begitu juga tim yang belum beruntung layak diacungi jempol. Selamat bertanding.*** (vicky da gomez)

Berita Terkait

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan
Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih
49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi
Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere
Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru