Rencana Aksi Bersama Cegah Virus ASF

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 29 Januari 2023 - 18:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 82 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Maumere-SuaraSikka.com: Sudah 256 ekor babi di Propinsi NTT yang mati akibat virus African Scene Fever (ASF). Jumlah kematian babi bisa saja semakin bertambah jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan.

Menyikapi hal ini, Dinas Peternakan NTT menggandeng Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Income through Support for Markets in Ageiculture (Prisma) dan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) menggelar workshop di Maumere.

Dokter hewan Melky Angsar, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Propinsi NTT

Kegiatan selama 2 hari, Kamis-Jumat (26-27/1) berlangsung di Hotel Sylvia, dengan metode workshop dan ToT (Training of Trainnners), melibatkan berbagai stakeholder dari Kabupaten Lembata, Flores Timur, Ende, Nagekeo, dan Siukka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama 2 hari kegiatan, peserta workshop berhasil menyepakati rencana aksi bersama dalam upaya pencegahan virus ASF.

Setidaknya terdapat 4 poin besar dalam rencana aksi bersama, yang perlu dilakukan dan menjadi perhatian bersama para pihak terkait, baik dari pemerintah, pelaku kesehatan hewan, peternak babi, dan stakeholder terkait.

Peserta workshop

Tingkatkan Kewaspadaan
Poin pertama yang dihasilkan yakni meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan terhadap ASF. Poin ini difokuskan kepada para peternak dan pelaku pasar.

Cara yang dilakukan yakni dengan penyebarluasan informasi secara online melalui website, WAG, dan sosial media, serta melalui kegiatan offline.

Untuk poin ini  disebutkan juga langkah-langkah konkrit rencana aksi bersama yang bisa dilakukan, baik oleh pemerintah dalam hal ini petugas kesehatan hewan, peternak dan pedagang, serta asosiasi, kampus/universitas, gereja, dan media massa.

Bagi petugas kesehatan hewan, langkah yang dilakukan yakni membuat laporan kasus begitu ada kasus ASF,
melakukan pelayanan kesehatan terpadu secara reguler, dan melakukan bakti sosial bagi masyarakat peternak.

Selain itu membagikan materi edukasi bagi peternak, mengajarkan pembuatan disinfektan secara mandiri, dan
menetapkan praktik biosecurity saat melakukan pelayanan kesehatan hewan.

Baca Juga :  Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Bagi peternak dan pedagang, langkah konkrit yang dilakukan yakni jika ada kasus ASF segera melaporkan kepada otoritas veteriner setempat (petugas kesehatan hewan).

Peternak dan pedagang perlu menerapkan biosecurity di kandang sendiri maupun saat berkunkung ke kandang orang lain.

Selain itu, dalam melakukan lalulintas ternak maupun produk turunannya, harus mengikuti prosedur.dan dilengkapi dokumen resmi

Untuk asosiasi, kampus/universitas, gereja, media massa, langkah konkrit yang dilakukan yakni sosialisasi ASF bagi anggota, umat/jemaat dan masyarakat peternak melalui kegiatan tatap muka maupun secara offline.

Cara lain yakni membuka kerja sama bersama pihak lain seperti dinas teknis, universitas, asosiasi dan lain lain, dalam pembinaan untuk umat/jemaat terkait usaha ternak babi dan pencegahan ASF.

Pengawasan dan Surveilans
Poin kedua rencana aksi bersama yaitu memperkuat pengawasan dan surveilans.

Aksi bersama yang dilakukan yakni pengetatan lalulintas ternak, penyediaan pelayanan kesehatan hewan dan pengawasan pemotongan ternak oleh petugas.

Aksi lain berupa pengumpulan informasi terkait surveilans dari berbagai sumber seperti laporan dari peternak, laporan dari desa, informasi hasil pelayanan petugas kesehatan hewan, laporan dari penyuluh pertanian, informasi dari media, serta hasil surveilans laboratorium, dalam hal ini UPT Veteriner Kupang, BBVET Denpasar.

Peserta workshop

Kapasitas Petugas Keswan
Forum workshop menghasilkan poin ketiga yakni meningkatkan kapasitas petugas kesehatan hewan.

Cara yang dilakukan yakni aktif mengirimkan wakil dari masing-masing unsur untuk mengikuti kegiatan kegiatan terkait misalnya pelatihan inseminator, pelatihan ASF dan ISIKHNAS, pelatihan tenaga teknis laboratorium dan sampel collector untuk LAMP, serta berbagai workshop terkait penyakit hewan menular, pembibitan, dan lainnya.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Selain itu menginisiasi kegiatan peningkatan kapasitas bagi personil yang ada, baik dengan sumber daya sendiri maupun dengan kerja sama bersama pihak lain.

Penyediaan Anggaran
Bagian yang tidak terpenting adalah soal keuangan. Karena itu pada poin keempat forum workshop mendorong penyediaan anggaran untuk mendukung kegiatan terkait.

Anggaran dimaksud disediakan untuk KIE (komunikasi, informasi, edukasi), deteksi dini, pengambilan sampel, hingga pengujian dan peningkatan kapasitas petugas kesehatan hewan.

Bagi kabupaten yang akan menjadi host LAMP, diharapkan perlu menyediakan anggaran untuk pengadaan reagentltest kit, pemeliharaan dan staf untuk peningkatan  kapasitas.

Rencana aksi bersama ini disepakati dan ditandatangani sejumlah pihak dari berbagai unsur.

Dari pemerintah yakni Kabid Keswan Dinas Peternakan Propinsi NTT Melky Angsar, Kadis Pertanian Kabupaten Sikka Yohanes Emil Satriawan, Kabid Keswan Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo Fransiskus Bethan, Kabid PKH Dinas Pertanian Kabupaten Ende Said K Djohar, Kabid Keswan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flotim Vianney Kiti Tokan dan Sub Koordinator Kesrawan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata Maria Sesilia Uran.

Perwakilan asosiasi dokter hewan ikut juga membubuhkan tanda tangan. Seperti Tarsisius Considus selaku Wakil Ketua II Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang NTT, dan Antonia Agnes sebagai Vice President ADHMI (Asosiasi Dokter Hewan Monogastrik Indonesia) Cabang NTT.

Inisiator workshop juga terlibat, diwakilkan kepada Provinsial Manager NTT AIP-Prisma Patrisius Usfomeni, dan Technical Program Manager Animal Health AIHSP Cut Dara Permatasari.

Ikut juga tanda tangan yakni unsur pelaku, seperti RD Julius Cesar Reda dari Keuskupan Maumere, Sandra da Cunha mewakili peternak, dan Anselmus K da Gomez mewakili pedagang/offtaker.*** (eny)

Berita Terkait

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan
Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih
49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere
Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi
Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere
Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:32 WITA

BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Berita Terbaru