Maumere-SuaraSikka.com: Dinas Kesehatan Sikka menggunakan metode Kolombia sebagai proyek percontohan (pilot project) pencegahan stunting di daerah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus menjelaskan metode Kolombia terbukti berhasil mengatasi stunting. Metode ini dipakai juga di beberapa negara, seperti Bangladesh dan India.

“Dari pengalaman di tiga negara itu, metode ini berhasil. Kabupaten Sikka dengan potensi stunting yang tinggi, dan ini yang mendorong kami menggunakan metode ini,” jelas Petrus Herlemus di Rumah Pemulihan Stunting, Senin (10/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menambahkan metode ini lebih fokus kepada keseimbangan gizi dengan memberikan protein dan karbohidrat kepada anak-anak yang mengalami stunting.
Dalam kaitan dengan upaya ini, Dinkes Sikka memanfaatkan Rumah Pemulihan Stunting atau dalam istilah lokal disebut Lepo Gahar Naha Bisa, sebagai sarana ujicoba. Rencananya ujicoba akan dilaksanakan selama 6 bulan.
Setidaknya terdapat 32 anak di bawah usia 2 tahun yang dibina di Rumah Pemulihan Stunting yang terletak di Kelurahan Kota Baru Kecamatan Alok Timur.
Rumah Pemulihan Stunting sudah beroperasi lebih dari 1 bulan. Setiap hari, orang tua dari 32 anak membawa anak-anaknya untuk belajar, bermain, dan mendapatkan keseimbangan gizi.

“Anak-anak dapat gizi yang baik. Dikasih telur, ikan, buah-buahan, sayur-sayuran,” ujar Maria Filarisia, ibu dari Adinda, balita berumur 1,8 tahun.
Ibu muda ini mengaku senang mendapatkan pelayanan di Rumah Pemulihan Stunting. Saat masuk pertama, berat badan anaknya adalah 7,4 kilogram, dan sekarang sudah menjadi 7,5 kilogram.
Petrus Herlemus menambahkan jika ujicoba ini berhasil, maka Dinkes Sikka akan melakukan replikasi untuk semua desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka.
Penderita stunting di Kabupaten Sikka tergolong tinggi, yakni mencapai 4.709 anak. Sikka berada di urutan kesepuluh terbanyak dari 22 kabupaten/kota di NTT.*** (eny)















