Heny Doing Sebut Bupati Sikka Berpenampilan Superman

1
280
Heny Doing Sebut Bupati Sikka Berpenampilan Superman
Ketua Fraksi Partai Demokrat Agustinus Romualdus Heny
Maumere-SuaraSikka.com: Agenda pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) RPJMD Kabupaten Sikka Tahun 2018-2023 kian memanasi hubungan Bupati Sikka dan DPRD Sikka. Ketua Fraksi Partai Demokrat Agustinus Romualdus Heny atau Heny Doing menyindir Bupati Sikka yang bernampilan “one man show” sebagai “superman”.
“Sejak paket Roma dilantik pada tanggal 20 September 2018 lalu, sistem pemerintahan di daerah ini mulai mengarah kepada penciptaan kekuasaan yang terpusat pada satu orang yaitu bupati dengan penampilan “one man show” sebagai “superman”, dan mengabaikan pembagian kekuasaan trias politica sebagaimana yang diamanatkan konstitusi kita,” ujar Heny Doing melalui pemandangan umum fraksi atas Pidato Pengantar tentang Ranperda RPJMD.
Menurut dia, kondisi ini tidak sehat, karena kesuksesan pembangunan di negara ini harus disokong oleh tiga batu tungku yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang mana harus diperkuat sebagai superteam.
“Jadi bukan saling mereduksi yang lain, sehingga hanya saya yang tampil sebagai superman yang sama artinya dengan pelanggaran konstitusi negara. Eksekutif, legislatif, dan yudikatif itu kedudukannya setara, tidak saling membawahi dengan kedudukan, tugas dan tanggung jawab terpisah, tidak saling tumpang tindih,” tambah dia.
Heny Doing pun memberikan contoh sejumlah peristiwa yang mengindkasikan gaya kepemimpinan one man show sebagai superman yang ditunjukkan oleh Bupati Sikka seperti soal dana pendidikan, pembongkaran portal Pasar Alok, kebijakan pasar pagi terbatas, pernyataan-pernyataan yang otoriter, tuduhan mark up tunjangan perumahan dan transportasi, dan beberapa hal lain yang menjadi usulan pada materi interpelasi.
Dalam konteks ini, Heny Doing menegaskan bahwa penyelenggara negara tidka bisa hanya mengandalkan kekuasaan, jabatan, kewenangan, dan regulasi dalam mengurus daerah ini. Manujsia harus menggunakan keistimewaan yang dimiliki untuk membangun harmonisasi dengan manusia lain sehingga terjalin sinergisitas untuk memaksimalkan hasil pembangunan yang ingin dicapai.
Untuk itu, kata dia, diperlukan kesantunan dalam memimpin. Kesantunan menuntut penampilan fisik yang seirama dengan ketulusna hati. Santun berarti anti kekerasan, tidak bersikap kasar, tidka memegahkan diri, menjaga diri dan kehormatannya.
Dia mengingatkan bahwa pemimpin perlu menjaga setiap tutur katanya agar tidak menyakiti orang lain. Juga perli memilih kata-kata yang netral, bahkan cenderung eufemistis, dihaluskan, tetapi tidak mereduksi esensi makna.
“Dengan bersikap santun, itu berarti seorang pemimpin juga punya prinsip yang kuat, walaupun tetap membangun silaturahmi dengan lawan politiknya. Ia adalah seorang pemaaf, tidak meledak-ledak, mampu menjaga emosi dengan baik.
Dia menambahkan pemimpin yang santun memiliki tingkat emosionalitas yang terkendali, mampi memosisikan diri dan bersikap dengan tepat. Pemimpin yang santun, katanya, mempunyai respek dan rasa horat terhadap mitra kerja, dan secara gentel mengakui kesalahan dan berupaya memperbaiki. Dan apabila kebijakannya berhasil, tidak  cepat berpuas diri dan menyombongkan diri.*** (eny)

KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini