Tinju Internasional di Maumere, Penonton Kejar Panitia Penyelenggara

0
194
Tinju Internasional di Maumere, Penonton Kejar Panitia Penyelenggara
Suasana tinju internasional di Gelora Samador da Cunha Maumere, Sabtu (3/8) malam menyusul kaburnya panitia penyelenggara
Maumere-SuaraSikka.com: Perhelatan tinju internasional dengan tajuk NTT Big Fight 2 di Gelora Samador da Cunha Maumere Kabupaten Sikka propinsi NTT, Sabtu (3/8), berakhir ribut besar. Iven yang direncanakan 24 partai, hanya mampu digelar 2 partai amatir. Penonton pun mengejar orang-orang yang terlibat sebagai panitia penyelenggara.
Dua orang yang disasar para penonton adalah Petrick Juang Rebong selaku Promotor Ring Arena Promotion, dan Toni Kolin selaku Ketua Ring Arena NTT. Massa tidak berhasil menemukan dua orang ini di Gelora Samador da Cunha karena keduanya sudah lebih dulu melarikan diri.
Massa lalu menuju Hotel Lokaria Indah, karena yang mereka dengar panitia menginap di situ. Namun resepsionis hotel menjelaskan tidak ada nama dua orang tersebut. Massa pun kemudian menyasar Nara Room, hotel milik Bupati Sikka. Namun hasilnya juga nihil.
Tidak ada yang mengoordinir massa yang mengejar dua petinggi penting itu. Mereka  melakukan dengan spontan akibat kecewa terhadap penyelenggaraan yang sangat jauh dari kualitas dan profesional. Massa menuntut penyelenggara mengembalikan uang tiket seharga Rp 15.000, karena tinju amatir itu hanya terlaksana dua partai amatir.
Pada berbagai promosi, panitia penyelenggara berencana menyajikan 12 partai amatir, 6 partai profesional dan internasional. Bupati Sikka pun digadang naik  ring pada partai eksibisi melawan Daud Yordan. Partai utama dengan kualifikasi WBC mempertemukan Yansen Hebi Marapu, petinju asal  Sumba NTT berhadapan dengan Vachayan Khamon asal Thailand.
Informasi yang dihimpun media ini, panitia telah menggelar dua partai amatir di kelas 44kg youth boys dan 46kg youth boys. Setelah itu panitia mempersiapkan partai yang ketiga yakni kelas 49kg youth girls. Persiapan partai ketiga ini cukup lama. Mendadak pengeras suara dimatikan, dan listrik pun padam.
Pengeras suara dimatikan karena panitia belum membayar biaya sewa sound system. Media ini belum mendapat informasi yang jelas berapa besar biaya yang belum dibayar, dan bagaimana sesungguhnya perjanjian kerja sama antara pemilik sound system dan panitia. Informasi menyebutkan bahwa panitia baru akan membayar sound system setelah menerima uang tiket masuk.
Petrick Juang Rebong dan Toni Kolin hingga kini belum bisa dikonfirmasi. Dua tokoh penting pada perhelatan tinju internasional ini sulit dihubungi karena tidak diketahui di mana mereka menginap setelah iven yang gagal dilaksanakan.
Pantauan media ini sampai pukul 22.00 Wita tadi malam, ratusan penonton yang kecewa masih berada di Gelora Samador da Cunha. Mereka berharap ada kejelasan informasi dari panitia. Sementara itu aparat kepolisian terlihat berjaga-jaga. Kasat Samapta Polres Sikka Iptu Mesakh Hetharie, melalui megaphone mengimbau para penonton untuk menjaga suasana kondusif.*** (eny)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini